Mengenang Jalan Hidup Suyadi, Pak Raden di Si Unyil (1932-2015)

Tulisan ini merupakan obituari Suyadi, pemeran Pak Raden di serial Si Unyil.

Diterbitkan 31 Oktober 2015, 07:15 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Dalam jagat budaya pop kita tak banyak sosok yang begitu melekat dengan sebuah karakter sepanjang hidupnya. Selain Suyadi dengan karakter Pak Raden-nya, yang langsung muncul dalam ingatan adalah Kang Ibing atau nama aslinya Raden Aang Kusmayatna Kusiyana Samba Kurnia Kusumadinata, yang terkenal sebagai Si Kabayan. Kang Ibing telah meninggal terlebih dahulu bulan Agustus 2010 silam.

Butuh waktu tidak sebentar dan dedikasi tak terperi agar sebuah karakter menancap di benak orang. Baik Kang Ibing dan Suyadi melakukannya sepanjang hidup masing-masing. Kang Ibing berjuluk Kabayan lantaran kerap memainkan tokoh legendaris dongeng Sunda itu di berbagai kesempatan sejak usia mudanya. Bersama Aom Kusman dan Suryana Fatah, Kang Ibing tergabung dalam kelompok lawak De'Kabayan. Saat kisah Kabayan diangkat ke serial TV tahun 1990-an, Kang Ibing lagi yang memerankannya. Sejak itu setiap kali mengingat sosok Kabayan, orang bakal teringat wajah Kang Ibing.

Baca Juga

  • Begini Kronologi Meninggalnya Pak Raden
  • Anugerah Lifetime Achievement dari KPI untuk Pak Raden
  • Sebelum Meninggal, Pak Raden Dapat Hadiah Rumah

Jalan hidup serupa tampaknya dilalui Suyadi, pemeran Pak Raden.

Lahir di Puger, Jawa Timur, 28 November 1932, ia berasal dari orang tua yang tergolong mampu. Ayahnya seorang patih di zaman Belanda. Meski keluarganya berada, mainan yang disukai Suyadi kecil hanya pensil warna yang dipakaimya untuk corat-coret. Bakatnya pada dunia seni rupa sudah muncul sejak kecil. Selain jago menggambar, ia juga gemar membentuk sesuatu dari tanah liat atau lilin. Biasanya ia membayangkan diri memainkan ciptaannya itu sambil menembang. "Saya waktu kecil bercita-cita jadi dalang," katanya di buku Apa dan Siapa 1985-1986.

Suyadi tak jadi dalang. Nasib membawanya kuliah jurusan Seni Rupa ITB hingga sarjana, bergelar "doktorandus" yang selalu dibawa di depan namanya. Ia bahkan sempat jadi dosen luar biasa di almamaternya. Pada saat itu cita-citanya sudah berubah: memiliki studio animasi dan film boneka.

Sahabat Sejati Anak-anak

Suyadi memulai kariernya dengan menggambar sejak masih mahasiswa, yaitu dengan membuat ilustrasi cerita anak. Ia terpilih sebagai ilustrator buku cerita anak-anak terbaik di acara Tahun Buku Internasional 1972. Selain itu, ia juga mengarang buku anak-anak sendiri.

Kemampuan menggambar lalu membawanya pula belajar hingga ke Prancis. Selama tiga tahun ia belajar perfilman di studio Prancis, Les Cineastes Associes dan di Les Films Martin Boschet. Ia pernah bekerja sebagai art director dan menangani beberapa film seperti Lampu Merah, Pemburu Mayat, Kabut di Kintamani dan Cobra. Namun, ia tak merasa betah di dunia art directing.

Karena art director juga harus menangani kostum dan make up pemain, ia merasa kurang sreg. "Padahal saya ini kan tukang gambar," kata Suyadi. "Jadi animator-lah sesungguhnya profesi saya."

Ada yang kangen sama Si Unyil? Itu lho, tokoh boneka era tahun 80 hingga 90-an.

Itu sebabnya ia begitu senang ketika bergabung dengan studio film Pusat Produksi Film Nasional (PPFN). Di studio film pelat merah itu ia menikmati berkubang di ruangan 8 x 8 meter di tengah boneka-boneka yang sebagian besar dari tanah liat. Di ruang art director itu boneka-boneka karakter Si Unyil lahir. Semuanya dibuat berdasarkan skenario Kurnaen Suhardiman yang dianggap sebagai bapak serial boneka Si Unyil.

Serial boneka Si Unyil kemudian menjadi acara anak-anak terpopuler tahun 1980-an. Tidak hanya memberi edukasi, serialnya juga menghibur--sesuatu yang langka kini di jagat televisi kita. Mungkin tak banyak orang tahu kini, pada 1983 serial Si Unyil meraih penghargaan dari badan pendidikan Unicef, organisasi di bawah PBB yang mengurusi anak-anak, yang menganugerahi Si Unyil sebagai film pendidikan terbaik untuk negara-negara berkembang.

Di luar nilai edukasinya, Si Unyil telah jadi maskot era 1980-an. Para karakternya dikenang terus hingga kini. Kita ingat Pak Ogah dengan ungkapan khas-nya, "Cepek dulu." Pun dengan Unyil dan kawan-kawannya yang selalu jadi anak SD atau Pak Raden dengan kumis melintang dan suaranya yang keras membahana.

Selepas Si Unyil turun pamornya, Suyadi tak lantas mundur. Ia menghidupkan karakter fiksi itu di dunia nyata. Ia mengandalkan kemampuannya menggambar dan bercerita dengan mendongeng pada anak-anak. Yang ia dongengkan bukan mereka yang dulu menontonnya di serial Si Unyil, tapi anak-anak masa kini yang tak pernah menonton serialnya di TVRI. Tapi toh Suyadi berhasil memikat anak-anak. 

Ini satu bukti lagi kehebatan Suyadi, si Pak Raden. Ia sahabat sejati anak-anak. Golongan usia ini yang jadi perhatian utamanya. Ia bahkan seakan tak peduli meski di usia senja hidupnya pas-pasan.

Para bocah yang ikut mendengarkan dongeng dari Pak Raden tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk memfoto Pak Raden dari dekat, Jakarta, Minggu (2/11/2014). (Liputan6.com/Miftahul Hayat)

Ya, seperti sejumlah artis lawas lain, Suyadi tak menikmati masa tua dengan hidup senang bergelimang harta. Ia menjalani hidup dengan berdongeng pada anak-anak. Pekerjaan yang disukainya, tentu. Namun itu juga bentuknya bertahan hidup. Hingga tutup usia, ia tinggal di rumah milik kakaknya. Baru beberapa hari lalu, sebelum ajalnya, ia mendapat hadiah rumah dari sebuah acara penghargaan infotainment. Rumah barunya itu belum sempat ia tempati.

Ada sebuah kalimat mengharukan yang terpampang di layar saat Suyadi menerima hadiah rumah beberapa hari lalu.

"Jika jarum jam dapat diputar kembali, saya ingin tetap menjadi Suyadi. Suyadi yang lebih baik. Suyadi yang berbuat lebih banyak untuk dunia anak dan Suyadi dengan kondisi keuangan yang lebih baik."

Ah, andai jarum jam bisa diputar kembali. Selamat jalan, Drs. Suyadi. Terima kasih, Pak Raden. ** (Ade/Jon)**

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6

Halaman
Show All
Ade IrwansyahTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan