Rio, I Love You: Sepuluh Menu Cinta dari Brasil

Bagaimanakah kota Rio de Janeiro digambarkan dalam film omnibus Rio, I Love You?

Diterbitkan 24 November 2014, 18:45 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Dari dekat Rio memang tak seindah kelihatannya. Kota ini punya reputasi sebagai kota tak aman. Tingkat kejahatan terbilang tinggi. Jurang antara si kaya dan si miskin juga besar. Namun ada satu hal yang patut dicatat dari yang dikatakan Trinity tempo hari: "Di kota itu nggak ada orang jelek. Semuanya--cewek-ceweknya dan cowok-cowoknya—cantik, seksi, dan ganteng."

Rio, I Love You untungnya tak beranjak dari kenyataan di atas. Film ini berusaha dengan jujur menyuguhkan Rio apa adanya.

Setelah membuka film dengan pemandangan Rio de Janeiro dari udara, kita diajak ke darat bertemu seorang nenek tuna wisma. Ia mengoceh soal kota dan jalanan. Bertemu sang cucu, si nenek menceritakan pilihan hidupnya menggelandang.

Lalu kita bertemu pasangan turis Amerika. Suaminya yang renta cacat dan terjangkit berbagai penyakit. Berjalan pun sang suami harus dengan bantuan kursi roda. Sementara itu, istrinya yang seksi tampak setengah hati mengurus suaminya. Pada suatu kesempatan, suami mengajak istri ke sebuah pantai yang terkenal memiliki arus ombak yang membahayakan. Kita tak pernah tahu apa sang suami sengaja ingin istrinya tenggelam agar bisa menikmati hal-hal yang dilarang atau tidak.

***

Menonton kumpulan film pendek mau tak mau kita membandingkan antara satu film dengan yang lain. Pun begitu dengan Rio, I Love You ini. Sejumlah segmen tampak memukau, sedang beberapa lainnya bikin kening berkerut atau bergumam, "Ini apaan, sih? Nggak jelas."

Misalnya segmen pemahat pasir di pantai atau pelayan hotel yang ternyata drakula pemangsa cewek-cewek seksi dengan menyamar sebagai tukang pijat. Pun juga segmen yang dibesut aktor AS John Torturro. Di situ, bersama Vanessa Paradis, John Torturro memainkan drama pertengkaran sepasang kekasih di dapur. Dialog di antara keduanya seperti sebuah drama di panggung teater. Tidak banyak eksplorasi sinematis di dalamnya kecuali pameran akting John dan Vanessa.

Di antara segmen yang berkilauan, kisah tentang petinju bertangan satu dan bocah yang menunggu telepon dari Yesus adalah yang paling bersinar di antara yang lain. Kisah sang petinju seolah menggambarkan dunia bawah tanah kota Rio dengan pertandingan tinju ilegal sebagai latarnya.

Kita dibuat terharu dengan pengorbanan sang petinju demi istrinya agar bisa berjalan lagi.

Sementara itu, kisah bocah yang menunggu telepon dari Yesus menyentil pengaruh religi pada masyarakat Brasil. Sang bocah meminta pada Yesus diberikan bola bertandatangan Pele sang legenda. Aktor Harvey Keitel yang kasihan pada sang bocah berpura-pura jadi Yesus dan menelepon sang bocah. Film ini berakhir kocak.

***

Pada akhirnya film omnimbus ini adalah pameran para sutradaranya bermain-main dengan medium film pendek. Dan demikianlah memang sifat film pendek itu. Dibanding film panjang, film pendek memberi keleluasaan untuk bereksplorasi.

Kita penonton bak disuguhi sepuluh makanan khas Brasil di tepi pantai Ipanema di kota Rio sambil ditemani musik bossa nova dan melihat cewek-cewek Brasil nan seksi menari Samba, berlatar belakang gunung Sugarloaf alias bongkahan gula. Ah, nikmatnya… (Ade/Mer)

Rio, I Love You (2014) Sutradara: Vicente Amorim (transisi), Guillermo Arriaga (segmen `Texas`), Stephan Elliott (segmen `Acho que Estou Apaixonado`), Sang-soo Im (segmen `O Vampiro do Rio`), Nadine Labaki (segmen `O Milagre`), Fernando Meirelles (segmen `A Musa`), José Padilha (segmen `Inútil Paisagem`), Carlos Saldanha (segmen `Pas de Deux`), Paolo Sorrentino (segmen `La Fortuna`), John Turturro (segmen `Quando não há Mais Amor`), Andrucha Waddington (segmen `Dona Fulana`), César Charlone (segmen `A Musa`).

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6

Halaman
Show All
Ade Irwansyah, Meiristica NurulTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan