Wall Street Sepekan: Indeks S&P Sempat Sentuh Rekor

Menjelang akhir pekan, tiga indeks acuan di wall street melemah. Namun, selama sepekan, wall street melambung, dan indeks S&P 500 sentuh rekor.

Diterbitkan 15 Agustus 2026, 08:23 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Bursa saham Amerika Serikat (AS) atau wall street lesu pada perdagangan saham Jumat, 14 Agustus 2026. Namun, selama sepekan, tiga indeks saham acuan di wall street mencatat kenaikan mingguan untuk ketiga kalinya secara berturut-turut.

Mengutip CNBC, Sabtu (15/8/2026), indeks S&P 500 turun 0,2% ke level 7.785,76. Indeks Nasdaq merosot 0,3% menjadi 26.729,16. Indeks Dow Jones terpangkas 107,58 poin atau 0,2% menjadi 53.732,41.

Selama sepekan, indeks S&P 500 menguat 0,4%. Indeks Nasdaq naik tipis 0,1%. Indeks Dow Jones melemah 0,6%.

Pada pekan ini, indeks S&P 500 mencetak rekor pada Kamis, 13 Agustus 2026. Indeks itu menembus level 7.800 untuk pertama kali setelah mencapai rekor tertinggi sepanjang masa secara intraday di 7.816,70. Indeks acuan juga ditutup ke rekor tertinggi pada hari perdagangan sebelumnya.

Mengingat kenaikan berturut-turut pada S&P 500 setelah data inflasi yang rendah pada Rabu dan Kamis, CEO Infrastructure Capital Advisors, Jay Hatfield mengatakan, konsolidasi pasar pada Jumat merupakan pertanda akan kondisi pasar pada sisa Agustus dan September.

"Hari ini (Jumat-red) seperti awal dari tren pergerakan pasar yang mendatar setelah berakhirnya musim laporan keuangan," ujar dia.

Lebih dari 90% perusahaan dalam indeks S&P 500 telah merilis laporan keuangan kuartal kedua, dan pertumbuhan laba dibandingkan periode tahun sebelumnya tercatat sekitar 50%, menurut data FactSet.

Dengan asumsi pertumbuhan laba tetap di level saat ini hingga akhir musim laporan keuangan, harga minyak terus diperdagangkan di atas US$ 80 akibat penutupan Selat Hormuz, dan Federal Reserve mempertahankan suku bunga tetap stabil, Hatfield memperkirakan S&P 500 akan mencapai level 8.100 pada akhir tahun.

 

Investor Cermati Kondisi Konsumen yang Lemah

Investor juga mencermati kondisi konsumen yang lemah, di mana angka penjualan ritel bulan Juli menunjukkan penurunan tak terduga dibandingkan bulan sebelumnya. Selain itu, tingkat keyakinan konsumen terhadap perekonomian turun pada Agustus, berbalik arah dari perbaikan yang sempat terlihat pada Juni dan Juli.

"Satu bulan dengan angka belanja yang buruk tidak serta-merta berarti ekonomi sedang terpuruk tajam, namun hal ini sulit diabaikan ketika dibarengi dengan data PDB dan ketenagakerjaan yang mengecewakan. Ditambah dengan angka inflasi yang sesuai perkiraan, data yang lebih lemah tersebut seharusnya dapat meredakan tekanan bagi The Fed untuk menaikkan suku bunga,” ujar Analis investasi eToro AS, Bret Kenwell.

"Meski demikian, investor perlu berhati-hati dengan apa yang mereka harapkan: pelemahan ekonomi adalah harga mahal yang harus dibayar demi menghindari kenaikan suku bunga sebesar seperempat poin, terutama ketika pasar sebagian besar telah mengabaikan kekhawatiran tersebut dan kinerja laba perusahaan tetap tangguh. Agar ekonomi dapat terus bertahan kuat, konsumen pun perlu menunjukkan ketangguhan serupa,” ia menambahkan.