Saham Energi Paling diuntungkan di Tengah Perang AS-Iran? Intip Analisisnya

Di tengah lonjakan harga komoditas, saham migas seperti MEDC dan ELSA, serta emiten batu bara seperti ADRO dan ITMG, dinilai memiliki daya tahan kuat.

Diterbitkan 05 Maret 2026, 10:35 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Eskalasi konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran yang memicu lonjakan harga minyak dunia menjadi katalis positif bagi saham-saham sektor energi di dalam negeri. Emiten minyak dan gas bumi (migas) serta batu bara menjadi pilihan paling defensif sekaligus diuntungkan di tengah meningkatnya ketidakpastian pasar keuangan global dan ancaman inflasi energi.

Pengamat Pasar Modal Hendra Wardana menilai, sektor energi menjadi pihak yang diuntungkan di tengah eskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Iran yang memicu lonjakan harga minyak dunia dan meningkatkan ketidakpastian pasar keuangan global.

“Di tengah gejolak tersebut, peluang tetap terbuka secara selektif. Sektor energi menjadi pihak yang paling diuntungkan dari kenaikan harga minyak dan batubara,” kata Hendra dalam keterangannya, Kamis (5/3/2026).

Emiten migas seperti PT Apexindo Pratama Duta Tbk (APEX), Energi Mega Persada (ENRG), Elnusa (ELSA), dan Medco Energi Internasional (MEDC) berpotensi mendapatkan sentimen positif.

Demikian pula batubara seperti PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI), Alamtri Resources Indonesia (ADRO), Indo Tambangraya Megah (ITMG), dan Bukit Asam (PTBA).

“Sektor komoditas cenderung lebih defensif ketika inflasi energi meningkat,” ujarnya.

Sebaliknya, sektor transportasi, logistik, manufaktur, dan konsumer perlu diwaspadai karena kenaikan biaya energi berpotensi menekan margin dan daya beli masyarakat.

 

Saran Bagi Investor

Kata Hendra, bagi investor situasi ini menuntut keseimbangan antara kehati-hatian dan keberanian mengambil peluang. Tidak perlu panik, tetapi juga tidak bijak bersikap terlalu agresif.

“Pendekatan bertahap, fokus pada emiten berfundamental kuat dan arus kas sehat, serta disiplin dalam manajemen risiko menjadi kunci,” ujarnya.

Dalam periode penuh ketidakpastian seperti sekarang, kualitas portofolio dan pengaturan porsi investasi jauh lebih penting dibandingkan sekadar mengejar momentum jangka pendek.