MSCI Beri Tenggat BEI Mei 2026, Investor Dilema: Wait and See atau Tancap Gas?

Ekonom BRI Danareksa Sekuritas Helmy Kristanto menilai, merespons MSCI cukup penting tetapi perlu beberapa tahapan.

Diterbitkan 13 Februari 2026, 20:14 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Morgan Stanley Capital International (MSCI) memberikan tenggat waktu hingga Mei 2026 kepada Bursa Efek Indonesia (BEI) untuk menyampaikan publikasi data investor. Isu tersebut membuat sebagian investor berada dalam posisi dilema, yakni berhenti ber-investasi, menunggu (wait and see), atau tetap tancap gas.

Lantaran, periode pengumpulan data yang dijadwalkan berlangsung hingga Mei menjadi momentum penting yang dinilai dapat memengaruhi arah pasar ke depan.

Chief Economist and Macro Strategist BRI Danareksa Sekuritas, Helmy Kristanto, menilai keputusan untuk wait and see tidak harus diartikan sebagai berhenti berinvestasi sepenuhnya.

"Saya rasa memang merespons MSCI cukup penting meskipun perlu beberapa step," kata Helmy dalam BRIDS Market Outlook 2026, di Menara BRILian, Jakarta, Jumat (13/2/2026).

Dia menuturkan, investor tetap bisa melakukan penyesuaian strategi dengan lebih selektif sambil menunggu perkembangan lebih lanjut dari hasil evaluasi yang akan bergulir dalam beberapa bulan ke depan.

Strategi Timing

Di tengah ketidakpastian, Helmy melihat pendekatan paling realistis adalah melakukan akumulasi secara bertahap, bukan agresif sekaligus. Investor dapat mulai masuk ke saham-saham tertentu dengan perhitungan matang, sambil tetap menjaga likuiditas untuk mengantisipasi perubahan sentimen hingga Mei.

Pada akhirnya, ia menekankan bahwa momentum masuk pasar tidak seharusnya hanya didasarkan pada jadwal evaluasi indeks. Investor tetap perlu melihat valuasi, potensi pertumbuhan, serta perbaikan profitabilitas emiten.

"Saya rasa ini bentuk reformasi total baik secara regulasi dan kalkulasi nanti penghitungan MSCI, dan bisa dibilang mindset kita bersama. Jadi, jangan dilihat oh sahamnya sudah naik sekian terus kita mengejar tapi juga harus diimbangi apakah memang ada perbaikan return dari sisi profitability," ujarnya.

 

Respons Regulator Jadi Sinyal Positif

Menurut Helmy, langkah-langkah yang telah diambil pemerintah bersama Otoritas Jasa Keuangan dan Bursa Efek Indonesia menunjukkan keseriusan dalam merespons masukan global.

Beberapa pertemuan telah dilakukan dan sejumlah kebijakan tengah disiapkan, meski tidak semua detail dapat dibuka ke publik. Salah satu fokus utama adalah peningkatan free float hingga 15 persen serta penguatan transparansi kepemilikan melalui Ultimate Beneficiary Ownership (UBO).

"Memang kalau menyikapi MSCI ini tidak bsia serta merta satu konklusi, tapi saya rasa apa yang dilakukan Pemerintah dan respon so far OJK BEI bisa dibilang cukup berarti, karena kemarin audah disebut ada beberapa meeting meskipun ada beberapa poin ga bisa di expose," pungkasnya.

OJK Siapkan Data Riil Saham ke MSCI Mulai Maret 2026

Sebelumnya, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) terus melakukan komunikasi dengan Morgan Stanley Capital International (MSCI) untuk memperbaiki data pasar saham Indonesia. OJK fokus pada penyempurnaan aspek teknis yang menjadi perhatian MSCI. 

Anggota Dewan Komisioner OJK sekaligus Pengganti Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon, Hasan Fawzi, menegaskan bahwa dalam setiap rapat teknis dengan pihak Morgan Stanley Capital International (MSCI) selalu ada kemajuan.

“Ada dong. Dari setiap meeting teknis itu kita harapkan kita bisa selalu mendapatkan konfirmasi dan afirmasi, kira-kira apalagi yang diharapkan, apa yang kurang, dan sebagainya,” kata Hasan Fawzi di BEI, Jakarta, Rabu (11/2/2026).

Hasan mengatakan, sejauh ini berbagai tahap pertemuan dan rapat dengan MSCI berjalan dengan lancar tanpa ada kendala.

“Nah, sejauh ini bisa saya sampaikan cukup baik, cukup lancar. Dan nanti teman-teman kan tahu dari timeline-nya ya. Khusus untuk yang granularity bahkan kita akan selesaikan di Februari akhir,” ujarnya.

Kata Hasan, OJK juga fokus pada penyempurnaan aspek teknis yang menjadi perhatian MSCI. Salah satunya adalah peningkatan kualitas dan detail data atau granulasi yang ditargetkan selesai pada akhir Februari.

Data tersebut nantinya akan menjadi dasar bagi MSCI dan penyedia indeks global lainnya untuk melakukan simulasi perhitungan indeks. OJK berencana menyampaikan data riil yang bersumber dari partisipan di KSEI mulai awal Maret.

“Lalu berarti di awal Maret menjadi bulan pertama kita akan menyampaikan ke MSCI dan seluruh index provider lain. Jadi, nanti per Maret itu bahkan data realnya, data yang sudah merupakan data yang disetorkan oleh para partisipan di KSEI, itulah data yang nanti akan disampaikan ke MSCI untuk dilihat dan dicoba simulasi kalkulasi perhitungan indeksnya,” jelasnya.

  • liputan6
    Bursa Efek Indonesia atau BEI adalah salah satu tempat yang memperjualbelikan saham, obligasi, dan sebagainya di Indonesia.
    BEI
  • liputan6
    Saham adalah hak yang dimiliki orang (pemegang saham) terhadap perusahaan berkat penyerahan bagian modal sehingga dianggap berbagai dalam pe
    Saham
  • liputan6
    Investasi adalah penanaman uang atau modal dalam suatu perusahaan atau proyek untuk tujuan memperoleh keuntungan.
    Investasi
  • MSCI
  • Investor