Moody's Pangkas Outlook Sejumlah Emiten Indonesia, Bagaimana Dampaknya?

Moody's memutuskan mengubah outlook sejumlah emiten Indonesia imbas keterkaitan erat dengan profil risiko Indonesia. Bagaimana dampaknya?

Diterbitkan 11 Februari 2026, 20:19 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Moody’s Ratings memutuskan mengubah prospek atau outlook menjadi negatif untuk sejumlah emiten di Indonesia. Moody’s mengambil langkah itu setelah lembaga pemeringkat menegaskan peringkat utang pemerintah Indonesia di level Baa2 tetapi merevisi outlook sovereign menjadi negatif pada 5 Februari 2026.

Keputusan Moody’s itu berdampak terhadap sejumlah emiten yang peringkat kreditnya memiliki keterkaitan erat dengan profil risiko Indonesia. Sebagian besar peringkat ditegaskan, perubahan outlook mencerminkan meningkatnya tekanan risiko makro dan kebijakan yang dapat mempengaruhi kinerja kredit emiten ke depan.

Pengamat pasar modal Reydi Octa menuturkan, pemangkasan peringkat oleh Moody’s tidak langsung menganggu fundamental, tetapi menaikkan persepsi mengenai risiko. Ia mengatakan, sinyal ruang perusahaan makin sempit jika kondisi makro, fiskal dan kebijakan memburuk.

"Dampak utamanya antara lain akan menekan harga saham, lebih fluktuatif dan investor asing akan lebih berhati-hati terhadap outlook perusahaan tersebut,” kata Reydi saat dihubungi Liputan6.com.

Sementara itu, Senior Market Analyst PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Nafan Aji menuturkan, pemangkasan prospek oleh Moody’s untuk emiten di Indonesia dapat berdampak terhadap peningkataan pembiayaan pendanaan. Selain itu, minat dari investor global akan berkurang. “Potensial pendanaan meningkat, sehingga cost of fund lebih mahal. Efek bagi investor global, risk appetite menurun,” kata dia.

Namun, Nafan melihat emiten yang alami perubahan outlook oleh Moodys itu masih memiliki fundamental cukup bagus. “Belum ada perubahan fundamental berarti,” kata dia.

Adapun emiten yang mengalami perubahan outlook menjadi negatif oleh Moody’s antara lain PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP), PT United Tractors Tbk (UNTR), PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM), PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS). Lalu ada PT Bank Mandiri (Persero) Tbk, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk, PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk, PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), dan PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BBTN).

Tanggapi Laporan Moody’s, BCA Tegaskan Fundamental Tetap Solid dan Tak Terpengaruh

Sebelumnya, PT Bank Central Asia Tbk atau Bank BCA (BBCA) menanggapi laporan terbaru Moody’s dengan menegaskan bahwa perseroan tetap berfokus pada kinerja fundamental di tengah dinamika penilaian lembaga pemeringkat global tersebut.

Executive Vice President Corporate Communication and Social Responsibility BCA, Hera F. Haryn, mengatakan posisi BCA sebagai bagian dari industri perbankan membuat perseroan menempatkan penguatan fundamental sebagai prioritas utama.

“Kami sebagai bagian dari pelaku industri, khususnya pelaku industri perbankan Fokus pada fundamental performance kami,” ujarnya kepada wartawan usai Konferensi Pers peluncuran Ocean by BCA, Rabu (11/2/2026).

Sejalan dengan fokus tersebut, BCA juga terus mendorong inovasi produk, salah satunya melalui peluncuran Ocean by BCA. Platform ini dirancang sebagai sistem terintegrasi all-in-one untuk mendukung kebutuhan nasabah bisnis, mulai dari korporasi hingga usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

Melalui platform tersebut, pelaku usaha disebut dapat mengelola transaksi, analisis bisnis, hingga kebutuhan payroll dan sumber daya manusia dalam satu sistem.

 

 

 

Kondisi Kualitas Aset

Menurut Hera, inovasi produk menjadi bagian dari strategi jangka panjang perseroan untuk memperkuat fundamental sekaligus berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi nasional. Ia juga menyampaikan bahwa optimisme terhadap prospek bisnis di Indonesia masih tetap terjaga.

Terkait dampak langsung terhadap kinerja BCA, Hera menyebut kondisi kualitas aset dan profitabilitas perseroan tetap berada dalam jalur yang solid.

“Jadi teman-teman bisa lihat bagaimana NPL kita sangat terjaga Kemudian bisnis kita juga berjalan dengan sangat baik Bottom Line kita juga positif dan relasi kita juga tetap baik Jadi kami tidak merasakan ada efek apapun,” kata dia.

Lebih lanjut, manajemen BCA menegaskan pertumbuhan kredit yang dijalankan tetap melalui proses yang berhati-hati (prudential) dan sesuai dengan ketentuan yang berlaku, dengan menjaga agar pertumbuhan pinjaman tetap berada pada koridor yang sehat.