Direktur PGAS Beli 67.300 Saham

Direktur PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS) Eri Surya Kelana membeli saham PGAS untuk investasi.

Diterbitkan 16 Juli 2026, 17:36 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Direktur PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS), Eri Surya Kelana, tercatat menambah kepemilikan saham perseroan melalui transaksi pembelian di pasar reguler.

Mengutip keterbukaan informasi BEI, Kamis (16/7/206), berdasarkan  laporan kepemilikan saham yang disampaikan kepada BEI, Eri membeli sebanyak 67.300 lembar saham PGAS pada 14 Juli 2026.

Transaksi dilakukan pada harga Rp 1.490 per saham, sehingga dana yang dikeluarkan mencapai sekitar Rp 100,277 juta. Usai transaksi, kepemilikan saham Eri yang sebelumnya nihil bertambah menjadi 67.300 saham atau setara sekitar 0% dari total saham beredar.

Dalam dokumen keterbukaan informasi, Eri menyebut, transaksi tersebut dilakukan untuk tujuan investasi. Kepemilikan atas saham tersebut juga tercatat sebagai kepemilikan langsung. Pelaporan transaksi telah dilakukan sesuai ketentuan Peraturan Otoritas Jasa Keuangan (POJK) Nomor 4 Tahun 2024 mengenai pelaporan kepemilikan atau setiap perubahan kepemilikan saham oleh pihak utama di perusahaan terbuka.

Sementara itu, pada perdagangan Kamis, 16 Juli 2026, saham PGAS bergerak di zona hijau. Hingga penutupan, saham PGAS stagnan di Rp 1.490 per saham. Harga saham PGAS berada di level tertinggi Rp 1.505 dan terendah Rp 1.480 per saham. Total frekuensi perdagangan 7.004 kali dengan volume perdagangan saham 305.213 saham. Nilai transaksi Rp 45,6 miliar.

PGN Garap Potensi Gas Berbasis Batubara Tanjung Enim 9,7 TCF

Sebelumnya, PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk (PGN) mencari sumber-sumber pasokan baru yang non-konvensional dengan melaksanakan beberapa program gasifikasi dari molekul-molekul gas dan juga sumber-sumber pasokan yang ada.

Salah satu inisiatif yang tengah dilakukan adalah pemanfaatan Coalbed Methane (CBM) atau gas berbasis batubara yang dapat dimanfaatkan untuk dapat dijadikan gas methane dan menambah pasokan bagi PGN.

Bagi PGN, pengembangan CBM di Tanjung Enim berpotensi membuka ruang monetisasi sumber daya gas non-konvensional domestik yang selama ini belum optimal. Inisiatif ini juga dapat menjadi salah satu opsi diversifikasi pasokan gas domestik bagi PGN untuk mendukung kebutuhan industri dan pembangkit.

Direktur Utama PGN Arief K. Risdianto menyampaikan PGN berupaya memperkuat pasokan gas bumi domestik dan mengurangi impor energi nasional. Terutama, memimpin solusi dalam mengatasi kendala-kendala dalam pengembangan infrastruktur gas bumi di wilayah Pagardewa dan sekitarnya.

 

Potensi CBM di Tanjung Enim

“Dalam upaya menjaga kestabilan pasokan sekaligus memanfaatkan sumber daya alam yang tersedia di Sumatera Selatan, PGN melaksanakan pengembangan infrastruktur injection point. Infrastruktur ini sebagai titik pengumpul gas, di mana gas yang bersumber dari tiga pasokan, baik dari coalbed methane, dari biomethane ataupun juga sumber lainnya akan dikumpulkan yang kemudian akan masukkan ke dalam pipa transmisi yang sudah ada,” jelas Arief, Senin (6/7/2026).

Berdasarkan data Ditjen, potensi CBM di Tanjung Enim diperkirakan mencapai sekitar 9,7 TCF OGIP atau Original Gas in Place, dengan estimasi nilai potensi gas sekitar US$ 15,4 miliar. PGN menegaskan kesiapan teknis maupun komersial melalui penyusunan skema pemanfaatan gas bumi yang ada, dengan target penyaluran yang diproyeksikan tumbuh secara bertahap mulai dari 1 MMSCFD hingga mencapai 25 MMSCFD.

Integrasi infrastruktur berbasis pipeline dan non-pipeline menjadi kunci utama efektivitas penyerapan energi ini. Dengan rekam jejak yang solid serta portofolio infrastruktur gas bumi yang luas sebagai Subholding Gas Pertamina, PGN siap menjalankan peran strategisnya sebagai jembatan utama antara titik sumber pasokan gas dengan masyarakat, dengan tetap tetap mematuhi prinsip tata kelola perusahaan yang baik (GCG).