Bursa Asia Bergerak Variatif, Investor Nantikan Data Ekonomi AS

Bursa Asia bergerak variatif. Investor menunggu data ekonomi AS dan keputusan Bank of Korea menaikkan suku bunga.

Diterbitkan 16 Juli 2026, 08:55 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Bursa Asia bergerak variatif pada perdagangan Kamis (16/7/2026). Pelaku pasar mencermati sejumlah sentimen global, mulai dari data ekonomi Amerika Serikat (AS) hingga keputusan Bank Sentral Korea Selatan yang kembali menaikkan suku bunga acuannya setelah lebih dari tiga tahun.

Dikutip dari CNBC, Kamis (16/7/2026), kontrak berjangka (futures) saham AS bergerak tipis setelah reli Wall Street pada perdagangan sebelumnya yang ditopang oleh melandainya inflasi, turunnya imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS, serta laporan keuangan emiten yang lebih baik dari perkiraan.

Futures Dow Jones Industrial Average naik 15 poin atau 0,03%. Sementara itu, futures S&P 500 menguat 0,05% dan Nasdaq 100 bertambah 0,11%.

Pada perdagangan reguler, indeks Dow Jones menguat 150,91 poin atau 0,3% ke level 52.659,18. Indeks S&P 500 naik 0,4% menjadi 7.572,43, sedangkan Nasdaq Composite bertambah 0,6% ke posisi 26.269,23.

Di kawasan Asia, Nikkei 225 Jepang diperkirakan dibuka melemah. Kontrak futures Nikkei di Chicago berada di level 67.890, lebih rendah dibandingkan penutupan sebelumnya di 68.751,51.

Sebaliknya, futures Hang Seng Hong Kong berada di level 24.829, lebih tinggi dibandingkan penutupan Rabu di 24.681,1. Sementara futures S&P/ASX 200 Australia berada di 8.821, sedikit di bawah penutupan sebelumnya di 8.841,1.

 

Gerak Suku Bunga

Sentimen positif Wall Street didorong oleh data Producer Price Index (PPI) atau inflasi produsen AS yang lebih rendah dari perkiraan.

Data tersebut memperkuat keyakinan investor bahwa tekanan inflasi mulai mereda sehingga Federal Reserve (The Fed) berpeluang mempertahankan suku bunga acuannya.

Selain itu, laporan keuangan sejumlah perusahaan jasa keuangan yang solid turut meningkatkan optimisme bahwa pertumbuhan laba emiten masih terjaga meski inflasi mulai melandai.

Penurunan yield obligasi pemerintah AS juga meningkatkan minat investor terhadap saham-saham bertumbuh (growth stocks), terutama perusahaan teknologi berkapitalisasi besar.

Chief Investment Strategist sekaligus Head of Portfolio Strategy Piper Sandler, Michael Kantrowitz, menilai pergerakan suku bunga akan menjadi faktor utama yang menentukan arah pasar saham.

"Agar penguatan pasar semakin meluas, saya meyakini suku bunga harus bergerak stabil atau bahkan menurun. Kondisi terbaik bagi pasar saham saat ini adalah ketika pasar tenaga kerja tetap relatif lemah karena hal itu dapat membantu menjaga suku bunga tetap terkendali dan mencegah kenaikan suku bunga," ujar Kantrowitz dalam program Closing Bell: Overtime CNBC.

Investor kini menanti data penjualan ritel dan klaim tunjangan pengangguran AS yang akan dirilis Kamis waktu setempat untuk memperoleh gambaran mengenai kondisi ekonomi Negeri Paman Sam.

 

Kebijakan Moneter Asia

Selain perkembangan di Amerika Serikat, pelaku pasar juga mencermati kebijakan moneter di Asia.

Bank of Korea (BOK) pada Kamis memutuskan menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi 2,75%. Ini merupakan kenaikan suku bunga pertama sejak Januari 2023 dan sesuai dengan perkiraan para ekonom yang disurvei Reuters.

Keputusan tersebut diambil setelah inflasi Korea Selatan kembali meningkat. Inflasi konsumen pada Juni tercatat 3,2%, menjadi level tertinggi sejak 2023.

Sebelumnya, Bank of Korea juga mengingatkan bahwa pembayaran bonus kinerja dalam jumlah besar di sejumlah perusahaan teknologi berpotensi mendorong kenaikan upah secara lebih luas.

Kondisi tersebut dinilai dapat meningkatkan tekanan inflasi sehingga bank sentral memandang perlu untuk kembali mengetatkan kebijakan moneternya.

Selain data ekonomi dan kebijakan bank sentral, musim laporan keuangan emiten juga menjadi perhatian investor. UnitedHealth dijadwalkan merilis laporan keuangannya sebelum pembukaan perdagangan, sedangkan Netflix akan mengumumkan kinerja keuangannya setelah penutupan pasar.