3 Saham Tertekan akibat Agenda Donald Trump, 2 Emiten justru Panen Untung

Agenda kebijakan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump kembali mengguncang wall street. Jim Cramer menyoroti tiga saham asuransi kesehatan yang paling terpukul.

Diterbitkan 28 Januari 2026, 19:30 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Pengaruh kebijakan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump terhadap pasar saham kembali menjadi sorotan tajam. Kali ini, analis sekaligus pembawa acara Mad Money CNBC, Jim Cramer, secara gamblang mengungkap daftar saham-saham yang paling terdampak oleh arah kebijakan Gedung Putih baik yang terpukul hebat maupun yang justru menikmati keuntungan besar.

Dilansir dari CNBC, Rabu (28/1/2026), daalam ulasannya pada perdagangan Selasa waktu setempat, Cramer menegaskan pemerintah AS kini menjadi faktor yang tidak bisa diabaikan dalam pengambilan keputusan investasi.

Dia menuturkan, di bawah kepemimpinan Trump, arah kebijakan negara dapat menjadi katalis positif atau sebaliknya menjadi beban serius bagi kinerja emiten, tergantung pada sektor dan posisi bisnis masing-masing perusahaan.

"Investor harus selalu memperhitungkan peran pemerintah sebagai kekuatan positif sekaligus negatif," ujar Cramer.

Ia menilai pasar saham Amerika Serikat semakin sensitif terhadap keputusan politik, terutama yang berkaitan dengan regulasi, subsidi, hingga kebijakan tarif.

Cramer menyoroti dalam satu sesi perdagangan saja, dampak agenda Trump terlihat jelas pada lima saham besar yang mengalami pergerakan ekstrem. Tiga di antaranya berasal dari sektor asuransi kesehatan yang justru mengalami tekanan berat, sementara dua saham lainnya dari sektor otomotif dan baja mencatatkan sentimen positif berkat kebijakan pro-industri.

Fenomena ini, menurut Cramer, mencerminkan perubahan lanskap ekonomi AS yang semakin menyerupai "ekonomi komando”, di mana keputusan presiden berperan besar dalam menentukan arah untung-rugi korporasi besar.

Kondisi tersebut sekaligus menjadi peringatan bagi investor global untuk semakin cermat membaca arah kebijakan politik dalam strategi investasi jangka menengah hingga panjang.

Saham Asuransi Kesehatan Terpukul

Cramer menyebut tiga saham asuransi kesehatan sebagai pihak yang paling menderita akibat kebijakan terbaru pemerintah AS. Saham UnitedHealth dan Humana anjlok lebih dari 20 persen, sementara CVS Health, yang membawahi unit asuransi Aetna, terkoreksi sekitar 14 persen.

Tekanan ini muncul setelah pemerintah AS mengusulkan tingkat penggantian biaya (reimbursement) yang hampir stagnan untuk program Medicare Advantage pada 2027.

Angka tersebut jauh di bawah ekspektasi analis Wall Street yang sebelumnya memperkirakan kenaikan tarif sekitar 4–6 persen. Jika kebijakan ini diterapkan, perusahaan asuransi diperkirakan kehilangan potensi pendapatan federal hingga miliaran dolar AS.

"Sejujurnya saya terkejut, karena selama bertahun-tahun kedua partai politik selalu menyetujui kenaikan tarif ini. Seolah-olah sudah menjadi tradisi,” ujar Cramer.

General Motors dan Nucor Diuntungkan

Di sisi sebaliknya, Cramer menilai General Motors (GM) justru menjadi salah satu pemenang di era Trump. Sikap Gedung Putih yang lebih longgar terhadap regulasi lingkungan memberi ruang bagi GM untuk menjual lebih banyak kendaraan berbahan bakar bensin tanpa harus membeli kredit kendaraan listrik. Hasilnya, GM membukukan laba kuartalan di atas ekspektasi, dengan saham melonjak 8,75 persen.

Cramer juga menyoroti Nucor, produsen baja asal North Carolina. Meski laba kuartalan sedikit di bawah ekspektasi, saham Nucor tetap ditopang kebijakan tarif baja Section 232 yang diperluas Trump. Kebijakan tersebut menekan impor baja dan memberi keuntungan bagi produsen domestik. Saham Nucor tercatat melonjak 42 persen dalam setahun terakhir.

Menurut Cramer, kondisi ini menegaskan bahwa arah kebijakan presiden kini menjadi faktor kunci dalam peta persaingan bisnis AS. "Terima aturan mainnya, atau bersiap menanggung konsekuensinya," pungkasnya.