Wall Street Tergelincir Usai Investor Lepas Saham Teknologi

Berikut kinerja indeks saham acuan di wall street menjelang akhir pekan.

Diterbitkan 13 Desember 2025, 08:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, New York - Bursa saham Amerika Serikat (AS) atau wall street melemah pada perdagangan saham Jumat, 12 Desember 2025. Koreksi wall street terjadi seiring investor terus keluar dari saham teknologi dan beralih ke sektor-sektor bernilai di pasar.

Mengutip CNBC,  Sabtu (13/12/2025), indeks S&P 500 melemah 1,07% dan berakhir ke posisi 6.827,41. Indeks Nasdaq terpangkas 1,69% menjadi 23.195,17. Indeks Dow Jones merosot 245,96 poin atau 0,51% menjadi 48.458,05 setelah mencetak rekor tertinggi intraday baru pada awal sesi perdaganagn.

Indeks Russell 2000 susut 1,51% menjadi 2.551,46. Namun, indeks saham sempat mencapai rekor tertinggi baru selama perdagangan saham.

Selama sepekan, indeks S&P 500 dan Nasdaq membukukan koreksi terbesar. Indeks S&P 500 susut 0,6% dan indeks Nasdaq melemah 1,6%. Akan tetapi, indeks Dow Jones naik 1,1% dalam sepekan.

Sementara itu, perusahaan-perusahaan berkapitalisasi kecil mengungguli perusahaan-perusahaan berkapitalisasi besar, dengan indeks Russell 2000 naik 1,2% minggu ini setelah mencetak rekor tertinggi baru sepanjang masa dan penutupan perdagangan pada Kamis.

Adapun indeks saham Nasdaq melemah seiring saham Broadcom yang terpangkas lebih dari 11%. Analis menilai koreksi saham Broadcom didorong kekhawatiran tekanan margin. Hal itu terjadi bahkan setelah perseroan melampaui harapan kuartal keempat dan memberikan perkiraan yang kuat untuk kuartal saat ini. Perseroan menyatakan, penjualan chip kecerdasan buatan akan berlipat ganda.

Saat perdagangan, saham terkait kecerdasan buatan atau artificial intelligence menghadapi lebih banyak tekanan. Saham AMD, Palantir Technologies dan Micron mengalami sejumlah koreksi bersama Broadcom. Sektor saham lain yakni sektor keuangan, perawatan kesehatan dan industri menerima sedikit dorong. Di sektor-sektor tersebut, saham Visa, Mastercard, UnitedHealth Group, dan GE Aerospace menjadi pemenang.

“Hari ini adalah hari di mana saham bernilai mengungguli saham pertumbuhan atau growth stock,” ujar Portfolio Manager Argent Capital Management, Jed Ellerbroek dikutip dari CNBC.

“Investor jelas waspada terkait AI, bukan pesimistis secara langsung, tetapi lebih berhati-hati, gugup dan ragu-ragu,” ia menambahkan.

 

 

 

Langkah Investor

Aksi Jumat menandai hari lain dari perdagangan rotasi, karena investor pada Kamis membanjiri saham siklikal yang dianggap lebih sensitif terhadap ekonomi sambil mengambil keuntungan dari saham berorientasi pertumbuhan yang terkait dengan perdagangan AI. Langkah ini diambil setelah Federal Reserve pada Rabu memangkas suku bunga untuk ketiga kalinya tahun ini.

Kenaikan saham Visa dan UnitedHealth, bersama dengan saham lainnya seperti Nike, mendorong Dow Jones untuk ditutup pada rekor tertinggi pada sesi sebelumnya. Indeks S&P 500 juga mencatatkan penutupan tertinggi baru, sementara Nasdaq berakhir lebih rendah karena saham-saham teknologi yang sedang naik daun seperti Alphabet dan Nvidia turun.

"Hal yang sama tidak akan berkinerja lebih baik di pasar bulan demi bulan selamanya, jadi ini normal,” kata Ellerbroek.

"Ini sudah diperkirakan, tetapi tidak beralasan.”

Wall Street Melesat Usai The Fed Gunting Suku Bunga Acuan

Sebelumnya, bursa saham Amerika Serikat (AS) atau wall street mendekati rekor tertinggi pada Rabu, 10 Desember 2025. Wall street melesat setelah bank sentral AS atau the Federal Reserve (the Fed) memangkas suku bunga acuan untuk mendorong pasar tenaga kerja. Selain itu, harapan akan ada pemangkasan suku bunga pada 2026 semakin menguat.

Mengutip CNBC, Kamis (11/12/2025), indeks Dow Jones menguat 497,46 poin atau 1,1 % ke posisi 48.057,75. Indeks S&P 500 melesat 0,7% ke posisi 6.886,68. Indeks S&P 500 hampir mencapai rekor tertinggi sepanjang masa yang dicapai pada Oktober 2025. Sementara itu, indeks Nasdaq menguat 0,3% menjadi 23.654,16.

Wall street menyukai suku bunga lebih rendah karena dapat mendorong perekonomian dan menaikkan harga investasi meskipun berpotensi memperburuk inflasi.

Mengutip AP, pemangkasan suku bunga pada Rabu sudah banyak diperkirakan dan tidak banyak memengaruhi pasar. Namun, beberapa investor merasa terdorong oleh komentar Ketua Fed Jerome Powell, yang menurut mereka kurang tegas dalam menutup kemungkinan pemangkasan suku bunga pada masa mendatang dibandingkan yang mereka antisipasi.

 

 

The Fed Berada dalam Posisi Sulit

Powell kembali mengatakan pada Rabu kalau bank sentral berada dalam posisi yang sulit, karena pasar kerja menghadapi tekanan penurunan sementara inflasi secara bersamaan menghadapi tekanan kenaikan. Dengan mencoba memperbaiki salah satu masalah tersebut dengan suku bunga, The Fed biasanya memperburuk masalah lainnya dalam jangka pendek.

Powell juga mengatakan untuk pertama kalinya dalam kampanye penurunan suku bunga ini bahwa suku bunga kembali berada pada posisi di mana suku bunga tidak mendorong inflasi maupun pasar kerja naik atau turun. Hal itu memberi The Fed waktu untuk menahan dan menilai kembali langkah selanjutnya terkait suku bunga seiring dengan masuknya lebih banyak data tentang pasar kerja dan inflasi.

"Kami berada dalam posisi yang baik untuk menunggu dan melihat bagaimana perekonomian berkembang,” kata Powell.