IPO di Wall Street Kena Dampak Shutdown Pemerintah AS

Sejumlah sentimen mempengaruhi initial public offering (IPO) di wall street pada akhir 2025, termasuk sentimen shutdown pemerintah AS. Namun, pelaku pasar juga antisipasi IPO sejumlah perusahaan.

Diterbitkan 25 November 2025, 06:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Penawaran umum saham perdana atau initial public offering (IPO) di wall street pada akhir tahun akan mundur pada 2026. Hal ini seiring dampak penutupan pemerintah Amerika Serikat (AS) atau shutdown pemerintah AS sehingga membuat Komisi Sekuritas dan Bursa (SEC) berupaya menyelesaikan ratusan pernyataan pendaftaran yang tertunda.

Selain itu, saham perusahaan yang melakukan debut di bursa saham belum menunjukkan menunjukkan kinerja yang baik akhir-akhir ini di tengah kekhawatiran saham telah menjadi terlalu mahal setelah kenaikan dua digit lainnya untuk pasar pada 2025. Demikian mengutip laman AP, ditulis Selasa (24/11/2025).

"Penundaan SEC, perlambatan menjelang libur, dan tekanan pada saham artificial intelligence (AI) atau kecerdasan buatan dan teknologi lainnya, semua membebani harapan untuk pemulihan jangka pendek,” ujar CEO Renaissance Capital Bill Smith seperti dikutip dari laman AP.

Di sisi lain, pelaku pasar masih mengantisipasi beberapa IPO pada November dan Desember yang sudah berada dalam tahap akhir proses regulasi meski ada penundaan.

Central Bancompany merupakan salah satu perusahaan besar yang go public setelah berakhirnya penutupan pemerintah. Perusahaan induk bank untuk the Central Trust Bank mengumpulkan dana USD 373 juta atau Rp 6,22 triliun dari IPO pada Kamis pekan lalu.

Wall Street mengantisipasi perusahaan perlengkapan medis Medline dapat melantai di bursa pada Desember, berpotensi mengumpulkan dana hingga USD 5 miliar atau Rp 83,4 triliun. Sementara itu, perusahaan teknologi kripto BitGo tetap menjadi calon IPO lainnya pada Desember 2025.

Pergerakan pasar yang lebih hati-hati juga telah menghambat keuntungan dari beberapa IPO yang lebih baru, menyebabkan beberapa di antaranya mengalami penurunan tajam sejak debut.

Perusahaan perangkat lunak desain web Figma pada dasarnya telah kehilangan semua keuntungannya sejak melantai di bursa pada bulan Juli. Sahamnya naik lebih dari tiga kali lipat pada hari pertama perdagangan setelah dihargai USD 33 per saham. Sekarang diperdagangkan sedikit di atas harga IPO.

 

Kinerja Wall Street

Indeks acuan S&P 500 mengalami November yang suram. Indeks ini turun 3,5% sepanjang bulan, dengan sebagian besar penurunan dipimpin oleh sektor teknologi, yang sebelumnya didorong oleh antusiasme atas perkembangan kecerdasan buatan. Wall Street semakin khawatir tentang apakah kenaikan ini dapat dibenarkan.

S&P 500 masih menguat lebih dari 12% sepanjang tahun ini dan Nasdaq yang didominasi saham teknologi menguat lebih dari 15%.

Indeks IPO Renaissance Capital turun sekitar 0,8% sepanjang tahun ini hingga Jumat PEKAN LALU dan telah melemah terhadap S&P 500 sejak pertengahan Oktober.

“Hal ini menunjukkan bahwa investor sangat cepat melakukan monetisasi, mereka tidak ingin mengambil risiko jangka panjang,” ujar Head of Global Equity Capital Markets di Mergermarket, Samuel Kerr.

 

Pelaku Pasar Antisipasi IPO Perusahaan

Namun, permintaan IPO secara keseluruhan tetap kuat. Meskipun terjadi penurunan baru-baru ini, pasar yang lebih luas tetap mahal, terutama di sektor teknologi yang berpengaruh. IPO secara tradisional menjadi cara lain bagi investor untuk memasuki pasar dengan titik masuk yang lebih murah.

"Sebagai pengelola dana, Anda semakin harus mencari tempat lain untuk menghasilkan uang dan biasanya, IPO adalah tempat itu,” kata Partner and Co-chair of the corporate & securities practice at Thompson Coburn LLP, David Kaufman.

"Anda terus memiliki semua reksa dana dan pengelola dana besar ini dengan kelebihan uang tunai dan tidak ada tempat untuk menyimpan uang tunai tersebut," ia menambahkan.

Arah pasar yang lebih luas pada tahun baru akan menentukan biaya dan jenis IPO. Beberapa nama besar teknologi yang paling diantisipasi yang dapat go public pada 2026 termasuk perusahaan perangkat lunak yang berfokus pada AI, Databricks, dan aplikasi desain grafis Canva. Wall Street juga mempertimbangkan perusahaan teknologi finansial Plaid sebagai kemungkinan IPO lain pada 2026.

Kelesuan yang terlihat dalam aktivitas IPO sepanjang sisa tahun ini sebagian menutupi lonjakan aktivitas di balik layar seiring perusahaan menjalani proses regulasi.

"Ini adalah masa yang sibuk bagi para pengacara dan bankir yang mencoba mempersiapkan diri untuk kuartal pertama dan kedua tahun depan," kata Kaufman.