Bidik Kapasitas Terpasang 1 GW pada 2026, BREN Genjot Proyek Panas Bumi dan Angin

BREN Targetkan Kapasitas Terpasang 1 GW pada 2026, Genjot Proyek Panas Bumi dan Angin  PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) terus memperkuat posisinya di sektor energi terbarukan

Diterbitkan 11 November 2025, 18:02 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) terus memperkuat posisinya di sektor energi terbarukan dengan rencana pembangunan sejumlah proyek strategis dalam waktu dekat. 

Presiden Direktur BREN, Hendra Soetjipto Tan, menyampaikan perusahaan tengah mempersiapkan empat proyek utama dengan kapasitas tambahan lebih dari 95 megawatt (MW) untuk mendukung pencapaian target 1 gigawatt (GW) kapasitas terpasang pada akhir 2026.

“Saat ini dalam jangka pendek, Perseroan tengah akan membangun 4 proyek utama dengan total tambahan kapasitas lebih dari 95 MW sebagai langkah strategis untuk mencapai 1 GW kapasitas terpasang di akhir tahun 2026,” ujar Hendra dalam Public Expose, Selasa (11/11/2025).

Ia menjelaskan bahwa pertumbuhan tersebut berasal dari kombinasi pembangunan unit baru dan peningkatan efisiensi unit yang sudah ada. Di antaranya, pembangunan Wayang Windu Unit 3 dan Salak Unit 7 yang diharapkan rampung pada kuartal IV 2026, serta proyek retrofit di Wayang Windu dan Darajat yang ditargetkan selesai pada kuartal IV 2025 dan kuartal III 2026.

Hendra menambahkan, BREN juga berfokus menjaga keunggulan operasional melalui penerapan teknologi mutakhir dan sistem berbasis kecerdasan buatan (AI) untuk meningkatkan efisiensi serta memperpanjang umur aset.

“Kami juga akan terus menjaga keunggulan operasional kami untuk yang kami telah capai pada hal ini dan terus meningkatkannya di jangka panjang melalui inovasi, disiplin, peningkatan berkelanjutan, dan inisiatif ini kami lakukan untuk memastikan bahwa operasi yang lebih efisien, lebih andal dan tentu saja berkelanjutan di seluruh portofolio aset,” kata Hendra.

Dalam jangka panjang, BREN menargetkan kapasitas panas bumi meningkat hingga 1.900 MW pada 2032, didorong oleh proyek-proyek Greenfield Geothermal dengan tambahan potensi sekitar 900 MW. 

Selain itu, perusahaan juga mengembangkan proyek tenaga angin di Sukabumi dan Lombok dengan total kapasitas 319 MW, sehingga total kapasitas windfarm yang dioperasikan BREN pada 2032 ditargetkan mencapai 398 MW.

BREN dan BRMS Koreksi Usai Masuk MSCI, Ini Penjelasan Analis

Sebelumnya, Co-Founder Pasardana yang juga pengamat pasar modal, Yohanis Hans Kwee, menilai fenomena turunnya harga saham-saham yang baru masuk indeks MSCI termasuk emiten besar seperti Bumi Resources Minerals (BRMS) dan Barito Renewables Energy (BREN) merupakan pola umum yang terjadi akibat perilaku investor yang langsung melakukan aksi ambil untung (profit taking) setelah pengumuman masuk indeks.

Menurut Hans, masuk ke MSCI memang memberikan sentimen positif karena mengundang aliran dana dari passive fund, namun setelah momen itu lewat, banyak investor lokal justru memanfaatkan momentum untuk menjual.

“Nah habis itu ya mungkin ya orang mulai profit taking, biasa investor kita kan. Begitu pengumuman, kamu jual. Karena itu yang dituju, kita jual,” ujarnya kepada wartawan usai Konferensi Pers Market Outlook 2026, di Main Hall Bursa Efek Indonesia (BEI), Kamis (6/11/2025).

Ia menjelaskan saham-saham yang masuk MSCI memang bisa naik sebelum tanggal efektif, namun tekanan jual hampir selalu muncul setelah pengumuman, seperti yang terjadi pada BREN, BRMS, dan beberapa emiten lain pada rebalancing terbaru.

Hans menilai dampak MSCI terhadap IHSG cukup besar karena perubahan aturan atau komposisi indeks global itu bisa memicu relokasi dana besar-besaran.

 

Perubahan Metodologi MSCI

Menurutnya, investor global sangat sensitif terhadap perubahan metodologi MSCI, khususnya terkait free float. Jika bobot Indonesia diturunkan atau komposisi saham berubah, maka tekanan terhadap IHSG akan muncul karena dana asing melakukan penyesuaian portofolio.

“Yang kita hati-hati itu MSCI mau revisi aturan. Nah itu yang bahaya kan. Nanti kalau hitungan free float-nya diturunin, itu bobot kita turun. Langsung turun harga sahamnya. Jadi orang nungguin Januari itu juga,” tuturnya.

Hans juga melihat bahwa minimnya aksi beli dari investor institusi domestik membuat tekanan pasca-MSCI rebalancing semakin terasa, sehingga hanya mengandalkan aliran dana indeks dari luar negeri tidak cukup untuk menjaga kestabilan harga.

Dengan potensi revisi aturan MSCI di awal tahun depan, Hans memperkirakan volatilitas IHSG masih bisa meningkat dan mendorong investor untuk lebih banyak melakukan switching ke saham-saham big cap yang stabil, terutama perbankan.