Emiten DKFT Catat Penjualan Rp 1,24 Triliun, Naik 29,52% hingga September 2025

PT Central Omega Resources Tbk (DKFT) mencatat produksi bijih nikel naik 18,37 persen hingga September 2025.

Diterbitkan 15 Oktober 2025, 18:25 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - PT Central Omega Resources Tbk (DKFT) mencatatkan kinerja keuangan dan operasional yang solid hingga akhir kuartal ketiga 2025. Emiten tambang nikel ini berhasil mempertahankan momentum pertumbuhan berkat tingginya permintaan pasar, yang berimbas langsung pada peningkatan pendapatan dan laba bersih secara signifikan.

Melansir laporan keuangan emiten DKFT dalam keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI), pada periode sembilan bulan pertama 2025, total produksi bijih nikel mencapai 2,07 juta ton, meningkat 18,37 persen dibandingkan dengan 1,75 juta ton pada periode sama tahun lalu. 

Volume penjualan juga mengalami lonjakan lebih tinggi, yakni 2,29 juta ton, atau tumbuh 31,05 persen secara tahunan.

Selain nikel, Perseroan juga mencatat peningkatan signifikan pada produksi batu kapur yang melonjak hampir tiga kali lipat menjadi 321 ribu ton, dibandingkan 80 ribu ton pada tahun sebelumnya. Penjualan batu kapur turut naik 55,53 persen, dari 70 ribu ton menjadi 109 ribu ton pada akhir September 2025.

Dari sisi keuangan, penjualan bersih PT Central Omega Resources Tbk mencapai Rp 1,24 triliun, naik 29,52 persen dibandingkan dengan Rp 960,89 miliar pada sembilan bulan pertama 2024. Beban pokok penjualan tercatat sebesar Rp 618,76 miliar, atau meningkat 14,28 persen dari periode sebelumnya, sehingga menghasilkan laba kotor sebesar Rp 625,75 miliar, tumbuh 49,19 persen secara tahunan.

Efisiensi operasional turut terlihat dari penurunan beban umum dan administrasi sebesar 17,95 persen menjadi Rp 152,25 miliar. Dengan demikian, laba usaha Perseroan melonjak lebih dari dua kali lipat menjadi Rp 473,50 miliar, dibandingkan Rp 233,89 miliar pada tahun sebelumnya.

Setelah memperhitungkan pendapatan dan beban lain-lain sebesar Rp 71,09 miliar, serta beban pajak yang meningkat menjadi Rp 101,90 miliar, Perseroan membukukan laba bersih sebesar Rp 442,69 miliar. Angka ini melesat 54,75 persen dibandingkan Rp 286,06 miliar pada periode yang sama tahun 2024.

 

 

 

EBITDA Emiten DKFT

Kinerja tersebut juga tercermin pada laba per saham yang naik menjadi Rp 80,23, dari sebelumnya Rp 52,50 per saham. Sementara itu, EBITDA Perseroan mencatatkan peningkatan signifikan hingga 197,94 persen, dari Rp 214,17 miliar menjadi Rp 638,09 miliar, menandakan penguatan efisiensi dan profitabilitas inti yang semakin baik.

Selain itu, arus kas dari aktivitas operasional tercatat sebesar Rp 677,4 miliar, tumbuh 25 persen secara tahunan, memberikan posisi likuiditas yang kuat untuk mendukung ekspansi Perseroan di masa mendatang.

Direktur PT Central Omega Resources Tbk, Feni Silviani Budiman, menyampaikan pencapaian positif ini merupakan hasil dari strategi yang konsisten dalam merespons dinamika pasar. 

"Kami berkomitmen untuk mempertahankan momentum pertumbuhan ini dan terus berfokus pada penciptaan nilai jangka panjang bagi seluruh pemangku kepentingan,” ujarnya.

 

Nikel hingga Kobalt, Indonesia Pegang Peran Vital di Era Energi Bersih

Sebelumnya, Indonesia dinilai memiliki peran penting dalam mendukung transisi energi berkat kekayaan sumber daya mineral strategis yang dimilikinya. Executive Director Indonesian Mining Association (IMA), Hendra Sinadia, mengatakan critical minerals semakin menjadi perhatian global karena dibutuhkan untuk mendukung berbagai teknologi energi bersih.

“Critical minerals, yang mana salah satunya adalah komponen nikel, ada lithium, ada cobalt, ini menjadi sangat penting di era transisi energi. Jadi dunia yang bertransformasi ke energi yang lebih bersih, itu akan mengkonsumsi lebih banyak material strategic critical minerals,” ujar Hendra dalam acara Eramet Journalist Class: Memahami Industri Nikel Indonesia – Perspektif Terkini dan Praktik Berkelanjutan, Senin (25/8/2025).

Menurutnya, kebutuhan critical minerals akan meningkat tajam seiring berkembangnya teknologi energi baru. Hendra memaparkan transisi energi bisa dilihat dalam tiga gambaran besar, yaitu teknologi pembangkit (seperti tenaga surya, angin, dan nuklir), sistem penyimpanan energi (baterai kendaraan listrik dan hidrogen), serta jaringan transmisi dan distribusi.

 

Keunggulan Indonesia

Dalam konteks itu, Hendra menyebut Indonesia memiliki posisi istimewa yaitu pada 2023 Pemerintah menetapkan ada 47 critical minerals dan sekitar 22 strategic minerals.

"Indonesia kita praktis relatif kita tidak memiliki lithium dalam jumlah besar. Nah yang menarik untuk mengolah ini tentu membutuhkan energi yang kompetitif,” tuturnya.

Meski tidak memiliki cadangan lithium signifikan, Hendra menekankan Indonesia tetap unggul karena memiliki hampir seluruh jenis mineral penting lainnya. Nikel, kobalt, bauksit, hingga tembaga menjadikan Indonesia salah satu negara kunci dalam rantai pasok global untuk energi terbarukan.

Namun, ia mengingatkan pemanfaatan kekayaan mineral itu akan sangat bergantung pada daya saing energi di dalam negeri. Pengolahan mineral membutuhkan pasokan energi yang efisien dan kompetitif agar produk olahan bisa bersaing di pasar global.