DBS Pede Obligasi Bakal Bersinar di 2025

DBS menilai masih ada ruang bagi imbal hasil obligasi untuk terus naik dalam 6 hingga 12 bulan mendatang, seiring potensi pelonggaran moneter dari bank sentral AS.

Diterbitkan 07 Juli 2025, 17:40 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Chief Investment Officer Bank DBS, Hou Wey Fook, mengaku optimistis terhadap pasar obligasi global tahun ini. Menurutnya, kondisi saat ini menunjukkan kemiripan dengan situasi pasar pada tahun 2019, ketika The Fed memangkas suku bunga akibat dampak tarif perdagangan era Presiden Donald Trump.

Kala itu, pasar obligasi mengalami lonjakan imbal hasil yang signifikan, bahkan mencapai dua digit di berbagai kelas aset. Hal serupa mulai terlihat kembali tahun ini, terutama karena ketegangan geopolitik dan kebijakan dagang kembali memanas.

"Di awal tahun ini kami menyampaikan pandangan optimis terhadap obligasi, dengan menyatakan bahwa situasinya akan mengulang kondisi pasar tahun 2019 saat tarif versi pertama Trump terhadap China diberlakukan, yang mendorong The Fed memangkas suku bunga karena mengantisipasi perlambatan pertumbuhan ekonomi," jelas Hou dalam media briefing DBS Chief Investment Officer (CIO) Insights 2H25, Senin (7/7/2025).

Ia juga menyoroti bahwa tekanan kebijakan tarif dari Donald Trump tidak hanya menyasar China, tetapi juga berbagai negara lainnya. Ini menjadi katalis baru bagi The Fed untuk kembali bersikap dovish demi menjaga stabilitas pasar.

"Kondisi saat ini sebenarnya tidak jauh berbeda bahkan lebih buruk, karena tarif Trump yang kacau tidak hanya ditujukan kepada China, tetapi juga negara lain di dunia. Dan hal ini akan mendorong The Fed untuk kembali memangkas suku bunga," ujarnya.

 

 

Imbal Hasil Obligasi Sudah Menguat

Hou Wey Fook menyebut bahwa performa obligasi sepanjang semester pertama tahun ini menunjukkan tren positif. Grafik yang dipaparkannya menunjukkan bahwa imbal hasil obligasi dengan kualitas investment-grade, high yield, hingga AT1 telah bergerak naik.

Menurutnya, tren ini dinilai baru permulaan. DBS menilai masih ada ruang bagi imbal hasil obligasi untuk terus naik dalam 6 hingga 12 bulan mendatang, seiring potensi pelonggaran moneter dari bank sentral AS.

"Sejauh tahun ini, skenario tersebut mulai terwujud, sebagaimana terlihat pada imbal hasil semester pertama yang ditunjukkan dalam grafik berwarna biru. Kami percaya masih ada ruang bagi obligasi untuk terus berkinerja baik dalam 6–12 bulan ke depan," ujarnya.

 

Arti Tren Ini bagi Investor Ritel

Bagi investor ritel, momentum ini bisa menjadi peluang untuk menyeimbangkan kembali portofolio mereka. Obligasi, yang sempat kurang diminati saat suku bunga tinggi, kini kembali mencuri perhatian karena potensi capital gain dan yield yang stabil.

Analis pasar menilai, masuk ke obligasi sekarang memberi peluang bagi investor mendapatkan keuntungan ganda: dari imbal hasil yang tetap dan dari kenaikan harga jika suku bunga diturunkan.

Namun, seperti biasa, pemilihan jenis obligasi menjadi kunci. Obligasi pemerintah cenderung lebih aman, sementara obligasi korporasi menawarkan imbal hasil lebih tinggi, meski dengan risiko yang juga lebih besar.

“Investor perlu memperhatikan durasi, kualitas kredit, dan ekspektasi suku bunga ke depan. Tapi secara umum, obligasi memang kembali relevan sebagai aset yang menarik di tengah kondisi global yang penuh ketidakpastian,” pungkasnya.