Suku Bunga Tinggi Bakal Efektif Redam Inflasi?

Bank Sentral Eropa mengumumkan menaikkan suku bunga 75 basis poin menjadi 1,25 persen.

Diperbarui 25 September 2022, 12:03 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Makro ekonomi Indonesia positif akan menopang pasar obligasi dalam jangka menengah. Hal ini seiring tekanan global dengan bank sentral menaikkan suku bunga.

Mengutip riset PT Ashmore Asset Management Indonesia, ditulis Minggu (11/9/2022), Bank Sentral Eropa mengumumkan menaikkan suku bunga 75 basis poin menjadi 1,25 persen.

Ini kenaikan dua kali berturut-turut setelah menaikkan suku bunga untuk pertama kalinya dalam 11 tahun pada pertemuan Juli 2022. Ashmore Asset Management Indonesia menilai, ini bukan langkah yang mengejutkan tetapi lebih dari konfirmasi kalau saat ini berakhirnya erah dengan pembiayaan murah.

“Dan sinyal sudut pandang bank sentral Eropa kalau kita mungkin bersiap untuk waktu yang tidak pasti dengan harga energi lebih tinggi dan krisis geopolitik,” tulis Ashmore.

Christine Lagarde juga telah mengindikasikan bank sentral siap mengumumkan kenaikan suku bunga lebih lanjut untuk atasi inflasi tinggi dan menurunkannya ke 2 persen. Inflasi utama Euro mencapai rekor di posisi 9,1 persen pada Agustus 2022.

Lalu bisakah kenaikan suku bunga menjaga mata uang dan inflasi?

Kenaikan suku bunga diharapkan dapat mengurangi selisih antara suku bunga acuan bank sentral Eropa (ECB) dan bank sentral Amerika Serikat (AS) atau the Federal Reserve (the Fed) terutama dengan melemahnya mata uang imbas perang dan untuk kurangi inflasi seiring sebagian besar impor lebih mahal.

 

Risiko

Namun, risikonya masih terletak pada potensi dalam resesi di Uni Eropa karena perang yang sedang berlangsung antara Rusia-Ukraina, masalah pasokan energi yang mungkin memperburuk musim dingin yang akan datang ini.

Sementara itu, banyak produsen energi meningkatkan produksi sehingga ada kemungkinan harga tetap tinggi untuk jangka menengah. Di sisi lain, pertumbuhan lain melambat sehingga target inflasi dua persen tercapai.

Terkait investasi obligasi di negara berkembang akan berlanjut hadapi tekanan jelang banyak negara dengan rating investasi tinggi akan menaikkan suku bunga dan potensi tarik dana dari negara berkembang termasuk Indonesia.

“Kami melihat makro ekonomi Indonesia telah meningkat dan tekanan terukur dalam jangka pendek untuk pasar obligasi. Sementara pertumbuhan terefleksi pada pasar saham yang tetap kuat, kami tetap rekomendasikan untuk overweight saham dan obligasi pada sisa akhir tahun,” tulis Ashmore.

Rilis Data Ekonomi Global

Adapun rilis data ekonomi global pada pekan ini antara lain defisit neraca perdagangan Amerika Serikat menyempit USD 10,2 miliar hingga September 2022 dari posisi Juli USD 70,7 miliar. Hal ini sesuai prediksi pasar USD 70,3 miliar.

Selain itu, bank sentral Kanada naikkan target suku bunga overnight 75 basis poin menjadi 3,25 persen pada September 2022, dan sejalan dengan prediksi pasar.

Sementara itu, bank sentral Eropa menaikkan suku bunga acuan 75 basis poin pada September 2022. Sebelumnya suku bunga pada Juli 2022 naik 50 basis poin.

Bank sentral Australia menaikkan bunga 50 basis poin menjadi 2,35 persen pada September 2022. Hal ini sesuai dengan prediksi pasar. Bulan sebelumnya, suku bunga telah naik 50 basis poin dan 25 basis poin pada Mei.

Sedangkan dari Indonesia, indeks kepercayaan konsumen naik 1,5 poin menjadi 124,7 pada Agustus 2022 dari Juli 123,2.

Harga BBM Naik Bakal Tekan Pasar Modal dalam Jangka Pendek

Sebelumnya, kebijakan pemerintah menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi akan berdampak negatif dalam jangka pendek ke pasar modal. Namun, kebijakan kenaikan harga BBM subsidi tersebut positif dalam jangka panjang seiring risiko anggaran menjadi lebih rendah.

Dalam riset PT Ashmore Asset Management Indonesia Tbk menyebutkan, langkah pemerintah menaikkan harga BBM bersubsidi dan menyesuaikan harga BBM non-subsidi untuk mengelola anggaran pengeluaran 2022 dan memastikan risiko lebih rendah pada anggaran 2023. Alokasi BBM bersubsidi sudah mencapai 70 persen pada Juli 2022, sebagian besar seiring pemulihan mobilitas sejak 2022.

Namun, kenaikan harga BBM subsidi tersebut memunculkan kekhawatiran kenaikan inflasi dan daya beli masyarakat. Namun, Ashmore menilai masalah daya beli akan didukung oleh rencana bantuan langsung tunai pemerintah.

“Secara keseluruhan ini kemungkinan berdampak secara negatif ke pasar dalam waktu dekat tetapi positif dalam jangka panjang karena risiko anggaran jelas lebih rendah,” tulis Ashmore dikutip Minggu, (4/9/2022).

Ekonom perkirakan, kenaikan harga BBM subsidi akan dorong inflasi di atas 5 persen pada 2022 dan pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) melambat dari saat ini 5,2 persen.

Lalu bagaimana dampaknya terhadap pasar? Tanpa memedulikan tekanan inflasi kemungkinan berdampak negatif dalam jangka pendek. Sedangkan ke saham, jika melihat masa lalu, kenaikan harga bahan bakar tekan IHSG tetapi jangka pendek kecuali pada 2008 dan taper tantrum 2013.

“Dalam jangka panjang pengurangan BBM bersubsidi akan tekan defisit anggaran dan potensi hambatan dari pertumbuhan yang melambat,”

Ashmore melihat sektor bank akan menjaga indeks saham. Hal ini seiring kenaikan suku bunga jadi sentimen positif. “Kami mempertahankan untuk investasi selama volatilitas dan koreksi terutama ke saham,”