Sukses

Harga Batu Bara Tinggi, ITMG Kantongi Laba Rp 3,13 Triliun pada Kuartal I 2022

Liputan6.com, Jakarta - PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG) mencatakan kinerja positif pada kuartal I 2022. Kinerja tersebut diperoleh dengan memanfaatkan momentum tingginya harga batu bara di tengah situasi global yang tidak pasti dan berisiko.

Pada kuartal I 2022 Perseroan membukukan laba bersih USD 213,27 juta atau setara Rp 3,13 triliun (asumsi kurs p 14.693 per dolar AS). Laba tersebut naik 406,8 persen dari periode sama tahun sebelumnya USD 42,08 juta atau sekitar Rp 618,33 miliar.

"Laba bersih kuartal I 2022 kita lebih tinggi dari kuartal IV 2021, skeitar USD 213 juta itu naik signifikan,” kata Direktur Utama Indo Tambangraya Megah, Mulianto kepada awak media usai Kick Off Pembangunan Persemaian Mentawir, Rabu (18/5/2022).

Pada kuartal I 2022, perseroan membukukan penjualan bersih sebesar USD 639,93 juta atau sekitar Rp 9,4 triliun. Pada periode tersebut, perseroan mampu memperoleh rata-rata harga jual batu bara sebesar USD 150 per ton, lebih tinggi 121 persen dari periode yang sama tahun lalu.

Marjin laba kotor naik signifikan dari 30 persen pada kuartal pertama tahun lalu menjadi 53 persen pada kuartal tahun ini.

Indo Tambangraya Megah terus menerapkan strategi manajemen biaya yang efisien dan berhati-hati guna memaksimalkan profitabilitas dari momentum kenaikan harga batu bara sehingga mampu memperoleh EBITDA sebesar USD 323 juta pada kuartal pertama 2022, naik 277 persen dari periode yang sama tahun sebelumnya.

Laba bersih naik dari USD 42 juta pada kuartal pertama tahun 2021 menjadi USD 213 juta pada kurun waktu yang sama tahun ini.

Adapun laba bersih per saham dibukukan sebesar USD 0,19. Hingga akhir Maret 2022, total aset perusahaan tercatat sebesar USD 2,0 miliar dengan total ekuitas USD 1,2 miliar.

 

 

 

 

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

2 dari 4 halaman

Faktor yang Pengaruhi Kinerja

Sejalan dengan arus kas dan EBITDA yang kuat, perseroan juga memiliki posisi kas dan setara kas yang solid sebesar USD 922 juta. Segala pencapaian dan kinerja perusahaan di atas dicatatkan di tengah kondisi yang menantang dan ketidakpastian global.

Pascapandemi, kondisi ekonomi secara global belum pulih sedangkan inflasi tinggi, salah satunya karena dipengaruhi oleh naiknya harga komoditas energi.

"Selain itu, terdapat juga disrupsi pada rantai nilai global dan perdagangan internasional batu bara dikarenakan keputusan politis dan/atau intervensi pemerintah, misalnya dengan adanya keputusan pelarangan ekspor batu bara di Indonesia pada Januari 2022 dan berlangsungnya perang Rusia- Ukraina," imbuh Mulianto.

Agar dapat menghadapi situasi yang masih tidak menentu, perseroan memiliki kerangka ketangguhan organisasi dengan menegakkan tiga pilar ketangguhan. Yaitu manajemen risiko, hubungan dengan para pemangku kepentingan, serta strategi bisnis dan struktur organisasi.

3 dari 4 halaman

Pertahankan Produksi

Sebelumnya, PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG) masih mempertahankan target produksi batu bara sekitar 17-18 juta ton pada 2022.

Kendati diakui Direktur Utama Indo Tambangraya Megah, Mulianto permintaan batu bara masih tinggi, tetapi perseroan mematok volume produksi 17,5-18,8 juta ton, dengan volume penjualan sebesar 20,5-21,5 juta ton.

"Target produksi kita masih tetap di angka sekitar 17 sampai 18 juta ton per tahun," kata Mulianto kepada awak media usai Kick Off Pembangunan Persemaian Mentawir, Rabu, 18 Mei 2022.

Dari target volume penjualan tersebut, sebanyak 31 persen harga jualnya telah ditetapkan, 46 persen mengacu pada indeks harga batu bara, 2 persen harga jualnya belum ditetapkan dan sisa 21 persen belum terjual.

Ia menuturkan, batu bara saat ini tengah berada pada masa yang hampir tidak pernah terjadi sebelumnya. Harga batu bara nyaris tembus USD 400 per ton.

Menurut dia, salah satu penyebab kenaikan harga batu bara yaitu konflik Rusia - Ukraina yang mengakibatkan shock supply komoditas termasuk batu bara.                                                               

"Terjadi shock supply chain salah satunya dalam kebutuhan energi. Dan dampaknya dari sisi harga melonjak cukup tinggi dan itu akan banyak memberikan manfaat juga kepada negara Indonesia," kata Mulianto.

Hingga kuartal I 2022, perusahaan membukukan penjualan bersih sebesar USD 640 juta berkat kenaikan harga batu bara yang signifikan. Pada kurun waktu itu, perseroan mampu memperoleh rata-rata harga jual batu bara sebesar USD 150 per ton, lebih tinggi 121 persen dari periode yang sama tahun lalu.

4 dari 4 halaman

Selanjutnya

Sementara laba bersih naik dari USD 42 juta pada kuartal pertama 2021 menjadi USD 213 juta pada kuartal I 2022. Adapun laba bersih per saham dibukukan sebesar USD 0,19.

Pada penutupan perdagangan Rabu, 18 Mei 2022, saham ITMG melemah 2,4 persen ke posisi Rp 32.500 per saham. Saham ITMG dibuka naik 250 poin ke posisi Rp 33.550 per saham. Saham ITMG berada di level tertinggi Rp 33.925 dan terendah Rp 32.050 per saham.

Total frekuensi perdagangan 10.529 kali dengan volume perdagangan 78.623 saham dengan nilai transaksi Rp 256,6 miliar.

Sepanjang 2022, saham ITMG melonjak 59,31 persen ke posisi Rp 32.500 per saham. Saham ITMG berada di level tertinggi Rp 33.925 dan terendah Rp 19.325 per saham. Total volume perdagangan 509.365.369 saham. Nilai transaksi Rp 13,6 triliun. Total frekuensi perdagangan 586.242 kali.