Sukses

Ciputra Development Kantongi Prapenjualan Rp 1,9 Triliun hingga Maret 2022

Liputan6.com, Jakarta - PT Ciputra Development Tbk (CTRA) meraih marketing sales atau prapenjualan Rp 1,97 triliun hingga kuartal I 2022.

Direktur dan Sekretaris Perusahaan PT Ciputra Development Tbk Tulus Santoso mengatakan, target prapenjualan 2022 sebesar Rp 7,81 triliun. Hingga kuartal I 2022, prapenjualan yang sudah diraih mencapai Rp 1,97 triliun. Prapenjualan tersebut berasal dari proyek di Medan, Surabaya, Jakarta, Tangerang dan Makassar.

"Top 5 adalah Medan, Surabaya, Jakarta, Tangerang dan Makassar,” kata Tulus saat dihubungi Liputan6.com, ditulis Senin (16/5/2022).

Saat ditanya mengenai tantangan sektor properti pada 2022, Tulus menilai, salah satu berasal dari stimulus pajak untuk properti yang berakhir dan tren kenaikan suku bunga.

“Stimulus pajak sudah berakhir, tren naiknya suku bunga, Inflasi,” ujar dia.

Dia juga berharap aktivitas perekonomian sudah pulih seperti sebelum pandemi COVID-19. Selain itu, relaksasi pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM)  diharapkan dapat dongkrak aktivitas ekonomi .

"Seiring dengan relaksasi PPKM maka aktivitas ekonomi di masyarakat juga meningkat,” ujar dia.

Pada penutupan perdagangan Jumat, 13 Mei 2022, saham CTRA naik 4,1 persen ke posisi Rp 1.015 per saham. Saham CTRA berada di level tertinggi Rp 1.020 dan terendah Rp 960 per saham. Total frekuensi perdagangan 3.521 kali dengan volume perdagangan 342.400 saham. Nilai transaksi Rp 34,2 miliar.

Sepanjang 2022, saham CTRA melonjak 4,64 persen ke posisi Rp 1.015 per saham. Saham CTRA berada di level tertinggi Rp 1.140 dan terendah Rp 860 per saham. Total volume perdagangan 2.736.911.765 saham. Nilai transaksi Rp 2,7 triliun dan total frekuensi perdagangan 307.497 kali.

 

 

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

2 dari 4 halaman

Kinerja 2021

Sebelumnya, PT Ciputra Development Tbk (CTRA) mencatatkan kinerja positif di 2021. Pada periode tersebut, perseroan mampu membukukan laba tahun berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk naik 31,4 persen menjadi Rp 1,74 triliun dari Rp 1,32 triliun di 2020.

Laba itu ditopang pendapatan perseroan yang naik 20,55 persen menjadi Rp 9,73 triliun di 2021, dibandingkan tahun sebelumnya sebesar Rp 8,07 triliun.

Merujuk laporan keuangan perseroan, Sabtu, 16 April 2022, pendapatan tersebut berasal dari penjualan dengan total Rp 8,03 triliun.

Rinciannya, penjualan kavling, rumah hunian dan ruko sebesar Rp 5,62 triliun. Kemudian apartemen Rp 1,25 triliun, dan kantor Rp 1,06 triliun.

Kemudian pendapatan usaha sebesar Rp 1,7 triliun. Rinciannya, pendapatan usaha dari rumah sakit Rp 671,1 miliar, pusat niaga Rp 425,87 miliar, hotel Rp 265,7 miliar, sewa kantor Rp 217,07 miliar, lapangan golf Rp 36,96 miliar dan lain-lain Rp 78,63 miliar.

Pada saat bersamaan, beban pokok penjualan dan beban langsung naik menjadi Rp 4,89 triliun dari Rp 3,95 triliun di 2020. Sehingga perseroan berhasil mengukuhkan laba kotor Rp 4,84 triliun.

Sepanjang 2021, perseroan mencatatkan penghasilan lain-lain sebesar Rp 541,36 miliar. Bersamaan, beban umum dan administrasi tercatat sebesar Rp 1,18 triliun, beban penjualan Rp 367,59 miliar, dan beban lain-lain Rp 474,84 miliar.

 

3 dari 4 halaman

Kinerja Laba

Sehingga perseroan mencatatkan laba usaha Rp 3,36 triliun, naik dibandingkan 2020 sebesar Rp 2,65 triliun.

Setelah dikurangi pajak dan beban pajak, perseroan mengukuhkan laba tahun berjalan sebesar Rp 2,09 triliun. Naik 52,31 persen dibanding tahun sebelumnya sebesar Rp 1,37 triliun.

Sementara laba tahun berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk naik 31,4 persen menjadi Rp 1,74 triliun dari Rp 1,32 triliun di 2020 dengan laba per saham dasar Rp 94 per lembar dari sebelumnya Rp 71 per lembar.

Dari sisi aset perseroan hingga Desember 2021 tercatat sebesar Rp 40,67 triliun, naik dibanding posisi akhir Desember 2020 sebesar Rp 39,26 triliun. Terdiri dari aset lancar Rp 21,89 triliun dan aset tidak lancar Rp 18,77 triliun.

Liabilitas perseroan tercatat sebesar Rp 21,27 triliun, turun tipis dari posisi akhir 2020 sebesar Rp 21,8 triliun.

Terdiri dari liabilitas jangka pendek Rp 10,96 triliun dan liabilitas jangka panjang Rp 10,31 triliun. Sementara ekuitas perseroan hingga akhir 2021 tercatat sebesar Rp 19,4 triliun, naik dari posisi tahun sebelumnya sebesar Rp 17,46 triliun.

4 dari 4 halaman

Akuisisi 15 Persen Saham MTLA

Sebelumnya, PT Ciputra Development Tbk (CTRA) telah menyelesaikan akuisisi 15 persen saham PT Metropolitan Land Tbk (MTLA) atau saham MTLA.  

Direktur Pelaksana Ciputra Development, Harun Hajadi menyampaikan, PT Ciputra Development Tbk melalui anak perusahaannya, PT Ciputra Nusantara akuisisi 1.148.268.950 saham MTLA atau sebesar 15 persen saham MTLA di harga Rp 320 per saham dengan nominal transaksi mencapai Rp 367,44 miliar.

Harun menilai, harga saham akuisisi sangat undervalue. Metropolitan Land mempunyai landbank yang prospektif, kinerja yang sangat baik dan team management yang solid.

Hal itu, menurut Harun juga dapat dilihat selama pandemi pun perusahaan menunjukkan resilience-nya dan dapat beradaptasi cepat.

"Kami yakin investasi ini dapat menjadi investasi dengan imbal balik yang baik dan dalam jangka panjang dapat menambah nilai bukan saja untuk CTRA tetapi juga MTLA,” kata Harun Hajadi dalam jwterangan yang diterima Liputan6.com, Jumat (12/11/2021).  

Direktur Ciputra Development Nanik J. Santoso menambahkan, CTRA dan MTLA juga sama-sama memiliki brand image yang baik dan kuat di industri properti. Selain itu, pertimbangan lainnya adalah selama masa pandemi Covid-19 berlangsung, performa bisnis CTRA dan MTLA tercatat baik dan stabil.

"Hal-hal inilah yang meyakinkan kami bahwa akuisisi 15 persen saham MTLA merupakan keputusan yang tepat,” ujar Nanik.

Direktur Perusahaan sekaligus Sekretaris Perusahaan Ciputra Development Tulus Santoso menambahkan, manajemen CTRA optimistis akuisisi 15 persen saham MTLA ini akan berdampak positif bagi perusahaan karena merupakan kategori investasi yang menguntungkan. “Diharapkan nantinya kita akan mencapai pertumbuhan bisnis yang lebih baik lagi,” kata Tulus.