Sukses

Intip Gerak Saham SMMT Usai BEI Buka Gembok Perdagangan

Liputan6.com, Jakarta - Bursa Efek Indonesia (BEI) membuka penghentian sementara (suspensi) perdagangan PT Golden Eagle Energy Tbk (SMMT) pada Rabu (13/4/2022). Lalu bagaimana gerak saham SMMT setelah suspensi saham dibuka?

Mengutip laman BEI, suspensi saham SMMT dibuka di pasar regular dan pasar tunai mulai perdagangan sesi pertama, 13 April 2022. Pembukaan suspensi ini dilakukan seiring menunjuk pengumuman bursa Nomor: Peng-SPT-00022/BEI.WAS/03-2022 pada 22 Maret 2022 mengenai suspensi saham SMMT.

Berdasarkan data RTI, saham SMMT melonjak signifikan pada pukul 11.12 WIB. Saham SMMT naik 9,7 persen ke posisi Rp 1.180 per saham. Saham SMMT dibuka naik 25 poin ke posisi Rp 1.100 per saham.

Saham SMMT berada di level tertinggi Rp 1.180 dan terendah Rp 1.055 per saham. Total frekuensi perdagangan 16.160 kali dengan volume perdagangan 1.291.314 saham. Nilai transaksi Rp 148,7 miliar.

Sementara itu, laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berada di zona hijau. IHSG naik 0,21 persen ke posisi 7.229. Indeks LQ45 menguat 0,60 persen ke posisi 1.042. Sebagian besar indeks acuan menghijau.  Sebanyak 261 saham menguat sehingga angkat IHSG. Sementara itu, 236 saham melemah dan 169 saham diam di tempat.

Sebelum suspensi, saham SMMT melonjak 8,59 persen ke posisi Rp 1.075 per saham pada 22 Maret 2022. Total volume perdagangan 193.537.000 dengan nilai transaksi Rp 207,9 miliar. Total frekuensi perdagangan 36.088 kali.

Sepanjang 2022, saham SMMT sudah melonjak 432,18 persen ke posisi Rp 1.075 per saham. Saham SMMT berada di level tertinggi Rp 1.170 dan terendah Rp 193 per saham. Total volume perdagangan 4.923.407.838 saham dengan nilai transaksi Rp 2,7 triliun. Total volume perdagangan 692.862.

 

 

* Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

2 dari 4 halaman

Direktur Golden Eagle Energy Beli Saham SMMT Rp 13,3 Miliar

Sebelumnya, Direktur PT Golden Eagle energy Tbk (SMMT), Abed Nego membeli saham Perusahaan senilai Rp 13,3 miliar. Pembelian saham tersebut terdiri dari 132.874.000 dengan harga pembelian Rp 100 per saham.

"Tujuan dari transaksi yakni untuk menindaklanjuti kepemilikan saham secara tidak langsung melalui beberapa entitas sebagai partisipasi kami di program Tax Amnesty,” ujar Abed dalam keterbukaan Informasi Bursa, Selasa, 4 Januari 2022.

Transaksi tersebut telah dilakukan pada 24 Desember 2021 dengan status kepemilikan langsung. Setelah transaksi, Abed kini genggam 2.635.030.695 lembar saham SMMT atau 83,65 persen, dari sebelumnya 2.502.156.695 lembar saham atau 79,43 persen.

Hingga kuartal III 2021, SMMT mencatatkan penjualan sebesar Rr 325,98 miliar. Naik lebih dari dua kali lipat dibandingkan periode yang saham tahun sebelumnya sebesar Rp 140,41 miliar.

Namun sejalan dengan kenaikan tersebut, beban pokok penjualan juga mengalami kenaikan hingga Rp 237,54 miliar. Sehingga Perseroan mencatatkan laba bruto Rp 88,44 miliar, naik signifikan dibandingkan periode 9 bulan di 2020 yang hanya sebesar Rp 10,52 miliar.

Dari raihan itu, Golden Eagle Energy berhasil membalikkan keadaan dengan mencatatkan laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp 120,5 miliar, dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang mencatatkan rugi Rp 12,92 miliar.

 

 

3 dari 4 halaman

Golden Eagle Energy Realisasikan 25 Persen Belanja Modal

Sebelumnya, PT Golden Eagle Energy Tbk (SMMT) mencatatkan realisasi belanja modal (capital expenditur/capex) sebesar 25 persen hingga kini.

Merujuk pada kondisi pandemi COVID-19 yang masih berlangsung, Direktur Utama SMMT Roza Permana Putra mengatakan belanja modal dipatok tak terlalu tinggi pada 2021.

"Perseroan saat ini masih belum terlalu akan banyak meningkatkan capex, melihat kondisi yang masih belum menentu dari covid-19 ini. Hal ini  betul-betul kita pelajari,” kata dia dalam paparan publi, Selasa, 24 Agustus 2021.

Tahun ini, Persroan berencana mengalokasikan belanja modal sekitar Rp 20 miliar. Roza memastikan, pihaknya bakal tetap meningkatkan efisiensi dan menjaga tingkatan produksi pada sisa tahun ini.

"Saat ini kami baru merealisasikan sekitar 25 persen dari rencana kami hingga akhir tahun. Tapi perkirakan maksimal kita tidak akan lebih dari Rp 20 miliar," kata dia.

“Kita akan fokus terus di dalam efisiensi peningkatan produksi sehingga dapat menjadikan perusahaan ini tetap bertahan dalam kondisi penuh tantangan ini,” Roza menambahkan.

Roza mengatakan, sumber pendanaan capex seluruhnya berasal dari kas operasional perusahaan. Hingga semester I 2021, Perseroan mencatatkan penjualan sebesar Rp 181 miliar, niak lebih dari dua kali lipat dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. SMMT juga membukukan laba bersih sebesar Rp 46 miliar dari sebelumnya mencatatkan kerugian pada semester l-2020.

 

4 dari 4 halaman

Target Produksi Batu Bara hingga Akhir 2021

Sebelumnya, PT Golden Eagle Energy Tbk (SMMT) menargetkan produksi mendekati 2 juta ton batu bara hingga akhir 2021. Hingga semester I 2021, Perseroan telah membukukan produksi batu bara sebesar 743 ribu ton.

Raihan ini meningkat 26 persen yoy dibanding periode yang sama tahun lalu yang hanya 590 ribu ton. Sementara dari volume penjualan hingga semester I-2021, tercatat sebesar 763 ribu ton. Naik 31 persen yoy dibanding semester I-2020 sebesar 581 ribu ton.

Direktur Utama SMMT Roza Permana Putra mengatakan, kinerja Perseroan yang moncer pada semester I-2021 diharapkan dapat berlanjut hingga akhir tahun ini.

"Kita berencana untuk mencapai produksi kami mendekati 2 juta ton,. Hal ini juga hampir sama dalam target penjualan kami di tahun ini mendekati hampir 2 juta ton,” ujar Roza Permana Putra dalam paparan publik, Selasa (24/8/2021).

Roza menambahkan, pendapatan akan sangat tergantung dari kondisi harga batu bara yang belakangan ini meningkat. Namun, dari sisi laba, banyak faktor yang mempengaruhinya. Kendati begitu, melihat pencapaian kinerja Perseroan pada semester I 2021, Perseroan optimistis akan dapat membukukan hasil yang lebih baik hingga penghujung 2021.

"Untuk sampai ke laba bersih ada banyak faktor yang mempengaruhi. Namun hingga saat ini perseroan optimis bahwa pencapaian kinerja di akhir tahun diharapkan bisa lebih baik dibandingkan dengan semester I,” kata Roza.