Sukses

Sektor Pertanian Tumbuh saat Pandemi COVID-19, Bagaimana Peluang di Pasar Modal?

Liputan6.com, Jakarta - Sektor pertanian terpantau subur meski dihantam pandemi COVID-19. Memang, popularitasnya akhir-akhir ini disalip oleh sektor teknologi. Hal itu sejalan dengan perkembangan akselerasi digital, bahkan sektor ini acap disebut sunset industry. Meski begitu, bukan berarti sektor pertanian tak menarik untuk dicermati.

Direktur Center of Economic and Law Studies (CELIOS), Bhima Yudhistira menerangkan, indeks agriculture hingga November 2021 telah mengalami kenaikan sebesar 22 persen selama satu tahun.

Sebagai perbandingan, Bhima menuturkan, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada periode yang sama hanya mencatatkan kenaikan 18,8 persen, sementara dari instrumen surat berharga negara (SBN) imbal baliknya hanya 6-7 persen.

"So far dengan tingkat risiko yang sama, tidak ada yang bisa mengalahkan sektor pertanian. Jadi ini time to buy. Kalau yang sudah punya time to hold dan buy more,” ujar Bhima dalam webinar Potensi Industri Pertanian di Pusaran Pasar Modal, Kamis (2/12/2021).

Merujuk pada kondisi tersebut, Bhima memperkirakan performa sektor pertanian akan terus meningkat mengalahkan level tertingginya pada 2017 lalu.

"Jadi ini only the beginning, kalau terlambat masuk nanti harganya sudah kemahalan. Jadi sekarang harus masuk,” imbuhnya.

Data BPS per Februari 2021, sektor pertanian memiliki kontribusi yang tinggi, baik terhadap PDB maupun serapan tenaga kerja. Dalam paparannya, Bhima menuturkan, sektor pertanian memiliki kontribusi 14,3 persen terhadap PDB, dengan serapan tenaga kerja mencapai 37,1 juta orang.

"Jadi artinya, kalau kita melihat sektor pertanian adalah sunset industri, atau sunset sektor ke depan adalah digitalisasi, tidak bisa seperti itu. Digitalisasi memang kenaikannya eksponensial, tapi sekarang justru itu yang menarik, menggabungkan antara digitalisasi dengan pertanian,” kata Bhima.

Menurut dia, jika sektor digital bergerak sendiri dengan produk e-commerce atau fintech tanpa terhubung dengan pertanian, nantinya juga akan tertinggal. Dengan demikian, Bhima mengatakan tren sektor pertanian ke depan lebih mengarah pada agriculture technology atau agritech.

 

 

* Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

2 dari 2 halaman

Penutupan IHSG Sesi Pertama pada 2 Desember 2021

Sebelumnya, laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mampu berbalik arah ke zona hijau pada perdagangan sesi pertama, Kamis, 2 Desember 2021.  Investor asing pun melakukan aksi beli saham.

Pada penutupan perdagangan sesi pertama, IHSG naik 0,93 persen ke posisi 6.567,96. Indeks LQ45 menguat 1,63 persen. Seluruh indeks acuan kompak menguat. Pada sesi pertama, IHSG berada di level tertinggi 6.568 dan terendah 6.484,57.

Sebanyak 265 saham menguat sehingga angkat IHSG. 233 saham melemah dan 153 saham diam di tempat. Total frekuensi perdagangan 898.182 kali dengan volume perdagangan 17,9 miliar saham. Nilai transaksi harian Rp 7,5 triliun. Investor asing  beli saham Rp 22,31 miliar di seluruh pasar.

Secara sektoral, mayoritas sektor saham menghijau kecuali indeks sektor saham IDXproperty turun 0,28 persen. Sementara itu, indeks sektor saham IDXindustry naik 2,34 persen, dan bukukan penguatan terbesar. Diikuti indektor saham IDXenergy menguat 1,27 persen dan indeks sektor saham IDXfinance menanjak 1 persen.

Analis PT MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana menuturkan, IHSG menghijau meski sempat terkoreksi dan sentuh level support.

“Pergerakan IHSG pun menguat di tengah bursa global yang bergerak variatif cenderung koreksi,” kata dia saat dihubungi Liputan6.com.

Ia menuturkan, secara teknikal IHSG masih berpeluang menguat ke 6.550-6.600 terlebih dahulu. Selain itu, hingga akhir sesi pertama, investor asing beli saham Rp 46 miliar.