Sukses

Jurus Singapura Genjot Perusahaan Rintisan IPO di SGX

Liputan6.com, Jakarta - Pemerintah Singapura menawarkan serangkaian inisiatif untuk memikat perusahaan “dengan pertumbuhannya tinggi dan menjanjikan” dari seluruh kawasan untuk mendaftar di bursa saham Singapura.

Singapura merupakan negara favorit untuk mendaftarkan REITs atau investasi real estate. Singapura menyuguhkan para investor dengan penawaran umum perdana dari sektor teknologi. Yang mana sektor teknologi menjadi salah satu tema investasi teratas di pasar global.

"Kami memiliki perusahaan teknologi (Nanofilm) yang akan mendukung sepenuhnya. Jelas kami ingin melihat lebih banyak investor,” kata Kepala Eksekutif Singapore Exchange (SGX) Loh Boon Chye, mengutip laman CNBC Jumat, (17/9/2021).

Nanofilm Technologies International adalah perusahaan yang menyediakan bahan pelapis pelindung pada gawai dan televisi. Perusahaan ini memulai debut perdagangan di SGX tahun lalu. Saat itu, Nanofilm mendapat IPO (Initial Public Offering / penawaran umum perdana) non-REITs pertama dan terbesar.

 

 

* Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

2 dari 3 halaman

Skema Inisiatif Baru

Singapura mengumumkan akan investasi bersama perusahaan investasi Temasek (Temasek Holdings). Tujuannya untuk membantu perusahaan dalam negeri dalam meningkatkan modal – baik primer, sekunder, atau ganda - melalui pencatatan saham perusahaan di bursa efek (public listing). Dana tersebut pada tahap pertama sebesar SGD 1,5 miliar atau Rp 15,84 triliun (asumsi kurs rupiah 10.565,89 per dolar Singapura).

Dari dana yang diajukan, pemerintah Singapura menawarkan inisiatif baru yang “menjanjikan”. Pertama, Singapore’s Economic Development Board (Dewan Pengembangan Ekonomi Singapura) bermaksud menjalin kerja sama membentuk dana gabungan yang digunakan untuk investasi. Dana yang disedikan mencapai SGD 500 juta atau Rp 5,28 triliun.

Kedua, regulator keuangan Singapura (Monetary Authority of Singapore) akan meningkatkan hibah demi membantu perusahaan dalam membiayai listing atau pencatatan.

Ketiga, Bursa Efek Singapura (Singapore Exchange) membantu perusahaan yang memilki pertumbuhan tinggi untuk mengumpulkan dana baik secara pribadi atau sebelum penawaran di bursa efek.

"Kami tahu bahwa inisiatif ini bukanlah ‘peluru ajaib’”, ujar Menteri Perdagangan dan Industri Singapura (Singapore’s Minister for Trade and Industry) Gan Kim Yong ketika menyampaikan pengumumannya.

"Tetapi kami percaya ini (inisiatif baru( akan membawa angin baru ke pasar ekuitas publik dan menjadikan SGX bukan hanya sebagai opsi yang layak melainkan menarik bagi para perusahaan untuk bertumbuh atau mencari public listing,” ia menambahkan.

Gan Kim Yong menuturkan ada empat start-up lokal telah mencapai status “unicorn” tahun ini setelah income yang didapat berjumlah USD 1 miliar atau Rp 10,57 triliun. Start-up terakhir yang bergabung akhir-akhir ini yaitu Carousell.

Perusahaan itu dan perusahaan lainnya di Asia akan mengalami pertumbuhan tinggi dan ‘menjadi dewasa”. Bahkan sangat memungkinkan untuk terdaftar di pasar saham pada tahun-tahun mendatang.

"Jadi kita harus berusaha untuk menarik perusahaan agar mau investasi di Singapura,” tutur Gan untuk menyakinkan investor.

3 dari 3 halaman

Aturan Baru

Dalam beberapa tahun terakhir ini SGX telah memperkenalkan inisiatif demi tingkatkan IPO. Awal bulan ini, bursa mengumumkan aturan baru sehingga memungkinkan pencatatan perusahaan akuisisi tujuan khusus (Special Purpose Acquisition Companies atau SPAC). Langkah itu dinilai sebagai cara untuk menghidupkan kembali minat pasar saham terhadap IPO Singapura.

Menurut CEO SGX (bursa efek Singapura), dari daftar SPAC sangatlah potensial sebab pengajuan pertama bisa dilakukan dalam beberapa minggu. Tahun ini, Pasar saham Singapura telah mengungguli banyak rekan regionalnya. Dengan indeks acuan Straits Times naik sekitar 7,8 persen pada penutupan Kamis, 16 September 2021.

Sayangnya, penawaran umum perdana di Bursa Singapura tidak begitu menarik dibandingkan rekan regionalnya. Pada paruh pertama tahun ini, Singapura hanya menarik tiga IPO yang menghasilkan USD 200 juta atau Rp 2,84 triliun. Sementara sesama pusat keuangan Hong Kong memiliki 46 listing yang mengumpulkan USD 27,4 miliar setara Rp 389,69 triliun. 

 

Reporter: Ayesha Puri