Sukses

Perjalanan Bukalapak dari Modal Rp 80 Ribu hingga Jadi Perusahaan Publik

Liputan6.com, Jakarta - Bermula dari modal Rp 80 ribu, perusahaan rintisan (startup) unicorn tanah air, Bukalapak, kini mantap mencatatkan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Jumat, 6 Agustus 2021.

Bukalapak akan tercatat sebagai perusahaan ke-28 yang melantai di BEI pada 2021, dengan kode perdagangan ‘BUKA’. Merujuk laman resmi Perseroan, Bukalapak didirikan pada 10 Januari 2010 oleh Achmad Zaky, Nugroho Herucahyono, dan Fajrin Rasyid di sebuah rumah kos semasa kuliah di Institut Teknologi Bandung (ITB).

Dilansir dari laman resmi Perusahaan, tujuan dari Bukalapak adalah untuk membantu warung-warung yang kesehariannya mengalami kesulitan beradaptasi di era internet.

Bermodal Rp 80 ribu, mereka gunakan untuk pemesanan alamat website yang digunakan Bukalapak hingga sekarang. Seiring berjalannya waktu, pada 2017 Bukalapak berhasil bertengger sebagai startup unicorn dengan valuasi mencapai USD 1 miliar atau sekitar Rp 14 triliun.

Pada tahun yang sama, Bukalapak meluncurkan Mitra Bukalapak untuk membantu warung-warung ini bersaing dengan toko-toko modern. Melalui Mitra Bukalapak, kini warung dapat menawarkan layanan tambahan secara online, seperti bayar tagihan dan top up pulsa.

Mitra Bukalapak juga menghubungkan warung dengan distributor barang kebutuhan sehari-hari, merampingkan jalur distribusi, menurunkan harga modal barang-barang tersebut, dan meningkatkan marjin keuntungan bagi usaha-usaha kecil. Pertumbuhan pendapatan mitra Bukalapak dari 2018 hingga 2020 tumbuh lebih dari 1.200 persen.

Pada 2020, segmen Mitra Bukalapak mencatatkan pendapatan terbesar kedua Rp 198,83 miliar, setelah segmen marketplace sebesar Rp 1,03 triliun. Serta pendapatan dari Buka Pegadaian sebesar Rp 128,3 miliar “Berdasarkan segmen usaha, kontribusi terbesar pendapatan neto konsolidasian untuk tahun 2020 adalah marketplace yaitu sebesar 75,9 persen atau senilai Rp 1,03 triliun. Kenaikan penjualan neto pada  2020 terutama disebabkan oleh kenaikan pendapatan neto konsolidasian di marketplace sebesar 41,2 persen atau senilai dengan Rp 300,92 miliar,” seperti dilansir dari prospektus Perseroan.

Hingga saat ini, Bukalapak telah melayani lebih dari 6,5 juta Pelapak (online sellers), 8 juta Mitra Bukalapak beserta 100 juta pengguna. Bukalapak juga memiliki tiga anak perusahaan. Antara lain, PT Buka Mitra Indonesia (BMI). Yakni platform B2B Bukalapak untuk produk-produk fisik, virtual, keuangan dan logistik.

Perseroan berambisi untuk mendigitalkan pasar Indonesia yang kebanyakan masih konvensional. Kemudian PT Buka Investasi Bersama (BIB), merupakan perusahaan jasa finansial berbasis teknologi yang ditemukan pada 12 Juni 2019.

Serta PT Buka Pengadaan Indonesia, merupakan salah satu lini bisnis Bukalapak yang bertujuan untuk menjadi partner pengadaan digital bagi korporasi, UMKM dan pemerintah.

 

 

 

* Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

2 dari 2 halaman

IPO Bukalapak

Sebelumnya, PT Bukalapak.com Tbk (Bukalapak) resmi memperoleh pernyataan efektif dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) untuk menawarkan sahamnya kepada masyarakat atau initial public offering (IPO), setelah menyelesaikan penawaran awal atau bookbuilding.

Selama masa penawaran umum yang akan berlangsung dari 27-30 Juli 2021, Bukalapak akan menawarkan sebesar 25.765.504.800 lembar saham pada harga penawaran Rp 850 per saham.

Pencatatan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) dijadwalkan pada 6 Agustus 2021 dengan kode saham BUKA. Demikian mengutip keterangan tertulis, Selasa, 27 Juli 2021.

Seluruh dana hasil IPO, setelah dikurangi biaya penerbitan, akan digunakan untuk mendanai kebutuhan modal kerja dengan rincian sebagai berikut: 66 persen akan dialokasikan kepada Bukalapak dan 34 persen akan dialokasikan untuk kebutuhan modal kerja entitas anak Bukalapak.

Dana IPO untuk entitas anak usaha Bukalapak antara lain 15 persen untuk masing-masing PT Buka Mitra Indonesia (BMI) dan PT Buka Usaha Indonesia (BUI), dan 1 persen untuk masing-masing PT Buka Investasi Bersama (BIB), PT Buka Pengadaan Indonesia (BPI), Bukalapak Pte. Ltd., dan PT Five Jack.