Sukses

Melihat Empat Opsi Penyelamatan Garuda Indonesia

Liputan6.com, Jakarta - Pandemi COVID-19 yang terjadi menambah tekanan terhadap PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA) sehingga berdampak terhadap kinerja perseroan.

Langkah terbaru yang dilakukan PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA) dengan menawarkan pensiun dini kepada karyawan. Selain itu, beredar dokumen yang menyebutkan empat opsi penyelamatan Garuda Indonesia.

Opsi itu juga melihat dari hasil benchmarking dengan apa yang telah dilakukan oleh pemerintah negara lain. Saat dikonfirmasi mengenai hal tersebut kepada Direktur Utama PT Garuda Indonesia Tbk, Irfan Setiaputra enggan untuk berkomentar banyak.

"Cek Kementerian BUMN ya," ujar dia saat dihubungi Liputan6.com lewat pesan singkat.

Sementara itu, Staf Khusus Menteri BUMN Arya Sinulingga belum menjawab pesan singkat dan mengangkat telepon saat dihubungi Liputan6.com hingga artikel ini tayang.

Mengutip dari dokumen tersebut, Selasa (1/6/2021), opsi-opsi itu antara lain, pertama,  pemerintah akan terus mendukung Garuda Indonesia melalui pemberian pinjaman dan suntikan ekuitas. Hal ini contohnya dari Singapore Airlines, Cathay Pacific, dan Air China.

Meski demikian opsi ini memiliki catatan antara lain berpotensi meninggalkan Garuda Indonesia dengan utang warisan yang besar akan membuat situasi yang menantang di masa depan.

Kedua, menggunakan hukum perlindungan kebangkrutan untuk merestrukturisasi Garuda Indonesia. Menggunakan legal bankruptcy process untuk merestrukturisasi kewajiban seperti utang, sewa, kontrak kerja.

Opsi yurisdiksi yang akan digunakan: US Chapter 11, foreign jurisdiction lain, dan penundaan kewajiban pembayaran utang (PKPU). Contohnya antara lain LATAM, Malaysia Airlines dan Thai. Namun, catatan dari opsi ini adalah tidak jelas apakah undang-undang kepailitan Indonesia mengizinkan restrukturisasi.

Opsi ketiga, merestrukturisasi Garuda Indonesia dan mendirikan perusahaan maskapai nasional baru. Garuda Indonesia dibiarkan melakukan restrukturisasi. Di saat bersamaan, mulai mendirikan perusahaan maskapai domestik baru yang akan mengambil alih sebagian besar rute domestik Garuda dan menjadi national carrier di pasar domestik.

Contoh yang memakai opsi ini Sabena dan Swissair.  Namun, catatan pada opsi ini dieksplorasi lebih lanjut opsi tambahan agar Indonesia tetap memiliki nasional flag carrier. Perkiraan modal dibutuhkan USD 1,2 miliar.

Opsi keempat, Garuda Indonesia dilikuidasi dan sektor swasta dibiarkan untuk mengisi kekosongan. Mendorong sektor swasta untuk meningkatkan layanan udara, misalkan dengan pajak bandara/subsidi rute yang lebih rendah. Maskapai yang memakai opsi ini VARIG dan Malev.  Meski demikian, catatan untuk opsi ini Indonesia tidak lagi memiliki national flag carrier.

2 dari 3 halaman

Opsi Penyelamatan Nasionalis Versi Karyawan Garuda Indonesia

Sebelumnya, beredar empat opsi yang ditawarkan pemerintah untuk menyelesaikan atau misi penyelamatan maskapai Garuda Indonesia. Menanggapi opsi tersebut, Serikat Bersama (Sekber) PT Garuda Indonesia memiliki pilihan lain.

Serikat Bersama PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk yang terdiri dari Serikat Karyawan Garuda (SEKARGA), Asosiasi Pilot Garuda (APG) dan Ikatan Awak Kabin Garuda Indonesia (IKAGI) mengungkapkan, bila pihaknya memiliki opsi lain.

"Nama opsi kita adalah 'Opsi Penyelamatan Garuda Merah Putih Nasionalis NKRI," ungkap Tomy Tampatty, selaku Kordinator Serikat Bersama PT Garuda Indonesia, saat konferensi Pers di Bandara Hotel kawasan Bandara Internasional Soekarno Hatta, Jumat, 28 Mei 2021.

Opsi yang ditawarkan karyawan internal Garuda Indonesia tersebut secara umum fokus pada penanganan national flight carrier atau maskapai nasional. Seperti slot penerbangan domestik yang lebih memprioritaskan kembali kepada maskapai nasional, dan langkah lain yang ada dalam opsi tersebut.

Meski belum dijelaskan secara teknis, Tomy menjelaskan bila dalam opsi tersebut menyentuh akar masalah yang ada di Garuda Indonesia. Lalu diselesaikan berdasarkan permasalahan yang ada.

"Opsi Penyelamatan Garuda Merah Putih Nasionalis NKRI adalah menyelesaikan masalah Garuda dengan berfokus pada aset bangsa. Negara harus berpihak pada flight carrier, me-review langsung," tuturnya.

Pasalnya, karyawan Garuda Indonesia masih memiliki optimis maskapainya akan segera menggeliat. 

"Tapi, seiring meredanya Covid-19, lalu tumbuh kembalinya atau menggeliatkan kembali pariwisata di Indonesia, Garuda Indonesia akan kembali tumbuh," tutur Tomy.

 

3 dari 3 halaman

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini