Sukses

Intip Perbedaan Pilihan Saham Investor Asing, Institusi hingga Ritel Domestik

Liputan6.com, Jakarta - Laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat 0,98 persen pada 5-9 April 2021. IHSG menguat dari posisi 6.011,45 pada pekan lalu menjadi 6.070,20.Di sisi lain, investor asing cenderung melakukan aksi jual.

Investor asing melakukan aksi jual Rp 1,84 triliun pada pekan ini. Sepanjang tahun berjalan, investor asing membukukan aksi beli bersih Rp 8,85 triliun.

PT Ashmore Asset Management Indonesia menyoroti mengenai tren di pasar saham Indonesia. Selama kuartal I 2021, IHSG hanya tumbuh 0,1 persen ke posisi 5.985,52.

Di sisi lain, indeks saham LQ45 turun 3,4 persen. Ini menunjukkan pelaku pasar lebih memilih saham kapitalisasi kecil dan menengah atau nonLQ45. Demikian mengutip dari laporan Ashmore Asset Management Indonesia, Minggu (11/4/2021).

Ashmore Asset Management Indonesia melihat meningkatnya aktivitas investor ritel di Indonesia terutama sejak Desember 2020 dan investor domestik juga mendominasi perdagangan harian turut mempengaruhi kinerja LQ45. Sedangkan secara historis, manajer investasi juga mempertimbangkan dengan posisi investor asing.

2 dari 4 halaman

Apa Bedanya Aliran Dana Investor Asing, Institusi dan Ritel Domestik?

Investor asing lebih rentan terhadap alasan likuiditas untuk eksposur yang lebih berat dan masuk ke saham unggulan serta sektor keuangan. Namun, investor asing juga memiliki saham tambang terutama berkaitan dengan cerita kendaraan listrik.

Institusi lokal terutama yang top menunjukkan mengoleksi saham, tetapi perbedaan terbesar dengan investor asing adalah kemampuannya untuk masuk kapitalisasi saham kecil seperti bank digital dan teknologi.

Menariknya investor ritel menunjukkan kombinasi keduanya. Empat dari 10 memilih saham komoditas, investor ritel domestik juga membeli bank kapitalisasi besar, bank digital dan mirip dengan institusi lokal ke saham teknologi.

3 dari 4 halaman

Jadi dalam kondiis seperti ini, bagaimana membuat portofolio saham yang baik?

Ashmore melihat pemulihan ekonomi di Amerika Serikat dan China, serta reformasi kebijakan Indonesia menguntungkan sebagian sektor saham komoditas dan infrastruktur.

Pemulihan ekonomi akan mendorong perusahaan di Indonesia untuk investasi di teknologi dan telekomunikasi. Saham siklikal masih di bawah terutama setelah kuartal I 2021 yang melemah sehingga valuasi di sektor keuangan semakin menarik terutama diharapkan laba yang lebih baik dan imbal hasil obligasi berpotensi turun.

Di sisi lain, sektor kesehatan yang sifatnya defensif dapat diposisikan risiko rendah dan pelengkap untuk saham dengan kapitalisasi pasar terbesar yang dipegang.

4 dari 4 halaman

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini