Sukses

Bersiap Menyambut Era Bank Digital

Liputan6.com, Jakarta - Sejalan dengan tren digitalisasi, bank-bank juga tak mau ketinggalan. Tak hanya memantapkan layanan digital, utamanya saat pandemi COVID-19, sejumlah bank kini bersiap menyambut era bank digital.Euforia bank digital ini berdampak terhadap kenaikan harga saham emiten bank.

Saham emiten bank terutama bank umum kelompok usaha (BUKU) 1 dan 2. BUKU 1 memiliki modal inti kurang dari Rp 1 triliun dan BUKU 2 memiliki modal inti Rp 1 triliun-Rp 5 triliun.

Salah satunya saham bank yang melonjak signifikan yaitu saham PT Bank Net Indonesia Syariah Tbk (BANK). Berdasarkan data RTI, saham BANK melonjak 1.938 persen hingga 3 Maret 2021. 

Saham BANK ditutup ke posisi 2.100 pada 3 Maret 2021. Saham BANK sempat berada di level tertinggi Rp 2.580 dan terendah Rp 139 per saham. Total frekuensi perdagangan 454.464 kali dengan nilai transaksi Rp 3,3 triliun. Saham BANK memimpin penguatan terbesar di antara emiten bank lainnya.

Lalu saham PT Bank Bumi Arta Tbk (BNBA) melambung 603,70 persen. Saham BNBA ditutup ke posisi Rp 2.660 per saham hingga 2 Maret 2021. Selain itu, saat ini saham emiten bank yang menjadi perbincangan yaitu PT Bank Jago Tbk (ARTO). 

Head of Investment Research PT Infovesta Utama, Wawan Hendrayana menuturkan, kenaikan saham emiten bank mini didorong harapan akan diakuisisi financial technology (fintech) untuk transformasi menjadi bank digital.

“Kalau melihat bank jago akusisi nya bisa 2x nilai buku. Pun demikian, bank digital dipandang memiliki prospek yang menarik di Indonesia dengan jangkauan ponsel yang luas,” ujar dia saat dihubungi Liputan6.com lewat pesan singkat, Rabu, 3 Maret 2021.

Ia menambahkan, untuk investor yang mau pegang jangka panjang harus mempertimbangkan kalau tujuan bank digital ini pada awal bukan cari untung tetapi untuk menjaring user yang perlu waktu dan biaya. “Bisa jadi akan ada perang bakar duit lagi antar bank digital,” kata dia.

Dengan harga valuasi yang sudah naik tinggi, Wawan menuturkan, harga saham bank mini akan rentan sekali dengan aksi profit taking bila masa akuisisi lewat. "Investor akan fokus ke kinerja fundamental," ujar dia.

Bank Jago

Sentimen bank digital juga turut mendongkrak harga saham ARTO. Saham PT Bank Jago Tbk (ARTO) menguat 138,37 persen ke posisi Rp 10.250 per saham sepanjang 2021.

Sebelumnya  Bank Jago didirikan di Bandung, 1992, dengan nama PT Bank Artos Indonesia Tbk (Bank Artos). Bank ini menjadi perhatian ketika bankir Jerry Ng melalui PT Metamorfosis Ekosistem Indonesia bersama PT Wealth Track Technology Limited (WTT) masuk menjadi pemegang saham pengendali baru pada 2019.

Dilansir dari keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI), Selasa, 2 Maret 2021, PT MEI menguasai 37,65 persen. Sementara PT WTT memiliki 13,35 persen dan namanya pun diubah menjadi Bank Jago.

Pada 2020, Bank Jago juga menarik minat PT Dompet Karya Anak Bangsa (Go-pay) menjadi pemegang 22,16 persen saham pada Desember 2020.

 

 

**Ibadah Ramadan makin khusyuk dengan ayat-ayat ini.

2 dari 5 halaman

Rights Issue Bank Jago

Dalam waktu dekat, Bank Jago berencana menghimpun dana segar sebesar Rp 7,05 triliun dari right issue. Perseroan akan melepas 3 miliar saham seharga Rp 2.350 per lembar saham.

Kali ini, Bank Jago mendapat dua investor baru, yakni perusahaan investasi pemerintah Singapura, Government of Singapore Investment Corporation Pte Ltd (GIC) yang berpotensi memegang sebanyak 134.042.500.000 lembar saham atau 10,23 persen saham Bank Jago.

Kemudian ada PT Trimegah Securitas Tbk (TRIM) telah menyatakan sebagai pembeli siaga dari 0,98 persen saham HMETD yang tidak diserap.Adapun saham yang tidak diserap ini lantaran pemegang saham eksisting hanya mampu menyiapkan sebagian dana atas hak pemesanan.

Seperti PT MEI yang hanya menyiapkan dana sebesar Rp100,1 miliar untuk melaksanakan 42.6 juta HMETD dari 1.129.500.000 HMETD.Sementara PT Dompet Karya Anak Bangsa hanya menyiapkan dana Rp 1,316 triliun untuk 560 juta HMETD dari 664,8 juta HMETD miliknya. Sisa hak inilah yang akan diserap oleh GIC.

“MEI dan DKAB telah menandatangani Perjanjian Konfirmasi dengan GIC pada tanggal 18 Februari 2021 untuk mengalihkan sisa porsi HMETD yang dimiliki oleh masing- masing MEI dan DKAB kepada GIC dalam jumlah sebesar 1.191.700.000 HMETD, yang terdiri dari: (i) 1.086.900.000 HMETD yang berasal dari MEI dan (ii) 104.800.000 HMETD yang berasal dari DKAB,” tulis manajemen Bak Jago dalam keterbukaan informasi BEI.

 

3 dari 5 halaman

Dana Rights Issue Bank Jago

Dalam keterbukaan informasi, perseroan menjelaskan mengenai penggunaan dana rights issue. Sekitar 97 persen akan digunakan untuk ekspansi usaha. Ekspansi usaha yang direncanakan didukung oleh bisnis parthership lending melalui unit Business Finance Solution dan unit SEM Banking dari sisi kredit.

Sementara untuk pendanaan didukung oleh unit wholesale funding serta service dan distribution adalah lini usaha yang sudah terbentuk dan telah beroperasi.

"Dalam rangka transformasi menjadi bank digital, inisiatif-inisiatif yang berkaitan dengan pengembangan layanan digital banking dikelola Direkturat Life Finance Solution yang didukung oleh unit teknologi informasi," dikutip dari keterbukaan informasi BEI.

Selain itu, layanan digital banking yang dinamakan sebagai life finance solution akan segera diluncurkan ke publik. Perseroan juga akan mengembangkan bisnis keuangan syariah melalui unit usaha syariah (UUS) yang saat ini dalam proses persetujuan regulator.

Sisanya dua persen akan digunakan untuk infrastruktur teknologi informasi dan perseroan akan mengembangkan sistem, teknologi dan infrastruktur untuk digital banking yang melayani segmen ritel, SME, individual dan nasabah syariah.Sisanya satu persen digunakan untuk pengembangan sumber daya manusia (SDM).

4 dari 5 halaman

Siapkan Bank Digital

Selain Bank Jago, sejumlah bank siap beroperasi penuh sebagai bank digital, antara lain PT Bank BCA Tbk memiliki Bank Digital BCA yang akan diluncurkan semester pertama tahun ini.

Lalu ada PT BRI Agroniaga Tbk (AGRO) akan dikembangkan menjadi bank digital. Mengutip Antara, Direktur Utama PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk Sunarso menyatakan perseroan membuka peluang menjadikan anak usahanya PT Bank Rakyat Indonesia Agroniaga Tbk atau BRI Agro sebagai bank digital.

"Apakah nanti terkait mungkin bagaimana BRI Agro kita kita gunakan sebagai kendaraan untuk mengembangkan bisnis digital, saya kira kita ada ke arah sana," ujar Sunaro dalam jumpa pers usai Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) BRI di Jakarta, Kamis, 21 Januari 2021.

Bank digital atau neobank adalah bank yang memberikan layanan kepada nasabah sepenuhnya secara daring dan tidak memiliki kantor cabang fisik.Menurut Sunarso, BRI Agro dapat diarahkan menjadi bank digital mengingat ukurannya yang belum terlalu besar.

"Karena BRI Agro menurut saya size-nya cukup agile, cukup lincah. Kalau kita misalnya sewaktu-waktu mengubah business model yang lebih digital dan main di ekosistem. Itu untuk kemungkinan BRI Agro kita ubah business model-nya menjadi bank digital," katanya.

Kendati demikian, lanjut Sunarso, untuk mengimplementasikan rencana tersebut, pihaknya perlu mempersiapkan segala aspek dengan matang dan komprehensif.

"Sudah barang tentu dipersiapkan secara matang infrastrukturnya, mindset-nya, orangnya, produk-produk, serta target-target ekosistem yang menjadi target market kita," ujarnya.

Bank digital dapat terbentuk melalui dua pola, yaitu melalui transformasi model, strategi, dan produk bisnis bank, dan melalui pembentukan bank sebagai bank digital.

Untuk pola kedua, ada tiga bank digital yang segera beroperasi di Indonesia yaitu Bank Digital BCA, Bank Jago, dan Bank Neo Commerce.

Bank digital atau neobank sekarang sedang menjamur di negara-negara maju. Beberapa contoh neobank yang sudah beroperasi antara lain, Atom Bank dan Starling Bank di Inggris, JUNO dan AXOS di Amerika Serikat, Volt Bank di Australia, dan Jibuan Bank di Jepang.

Di Indonesia, prospek neobank dinilai sangat besar yaitu penjualan mobile device di Indonesia yang sudah mencapai 338 juta unit pada 2020, melampaui total penduduk Indonesia saat ini.

Hasil survei Otoritas Jasa Keuangan (OJK) juga menunjukkan indeks inklusi keuangan Indonesia masih 76,19 persen. Artinya, dari setiap 100 penduduk di Indonesia yang sudah memiliki akses ke lembaga jasa keuangan atau ke produk-produk jasa keuangan, baru 76 orang.

Artinya, masih ada 24 orang yang belum punya akses ke lembaga keuangan. Dengan adanya bank digital, diharapkan angka inklusi keuangan itu bisa meningkat.

5 dari 5 halaman

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini