Sukses

IHSG Lesu Selama Sepekan, Ini Tanggapan Warren Buffett Indonesia, Lo Kheng Hong

Liputan6.com, Jakarta - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bergerak di zona merah pada pekan ini. Bahkan IHSG harus turun 7,05 persen selama periode 25-29 Januari 2021.

IHSG bergerak bak roller coaster pada pekan ini. Pada penutupan perdagangan saham, Jumat, 29 Januari 2021, IHSG ditutup ke posisi 5.862,35. IHSG turun 1,96 persen dalam sehari.

Selama sepekan, kapitalisasi pasar saham merosot 7,07 persen dari Rp 7.348,93 triliun menjadi Rp 6.829,29 triliun.Rata-rata nilai transaksi harian selama sepekan susut 15,33 persen menjadi Rp 17,42 triliun dibandingkan pekan lalu Rp 20,57 triliun.

Rata-rata frekuensi  harian bursa turut berubah 16,61 persen menjadi 1.348.714 kali transaksi dari 1.617.354 kali transaksi sepekan sebelumnya. Sedangkan rata-rata volume transaksi harian berubah 21,66 persen menjadi 17,73 miliar saham dari 22,63 miliar saham pada pekan lalu.

Lalu apa kata investor Lo Kheng Hong yang juga disebut Warren Buffett Indonesia?

Lo Kheng Hong menuturkan, kondisi pasar saham yang turun menjadi peluang bagi investor.

"Penurunan harga saham adalah peluang emas bagi seorang investor, di mana dia bisa membeli perusahaan yang hebat dengan harga murah,” ujar Lo Kheng Hong saat dihubungi Liputan6.com, ditulis Minggu, (31/1/2021).

Lo Kheng Hong juga mengingatkan bagi investor pemula di pasar saham untuk mengetahui seluk beluk saham yang dibeli.

“Jangan beli kucing dalam karung, kita harus tahu apa yang dibeli, melalui membaca annual report dan laporan keuangan,” ujar dia.

 

2 dari 3 halaman

Kata Pengamat Pasar Modal

Hal senada dikatakan pengamat pasar modal Hans Kwee terkait peluang ketika pasar saham sedang turun. Pengamat Pasar Modal dan Direktur Anugerah Mega Investama, Hans Kwee mengatakan, hal ini merupakan peluang bagi investor untuk melakukan investasi.

"Justru IHSG turun ini peluang, kalau saham naik terus justru berbahaya, jadi ini kesempatan," katanya kepada Liputan6.com, Sabtu, 30 Januari 2021.

Selain itu, Hans melihat peningkatan investor pemula di pasar modal tak hanya terjadi di Indonesia. Ia menyebut peningkatan yang sama juga terjadi di Amerika Serikat.

"Ini enggak terjadi di Indonesia saja, Amerika Serikat juga terjadi hal yang sama. Jadi mereka melihat dan tahu dari temannya dan itu terjadi secara berantai," ujarnya.

Investor pemula biasanya tertarik bermain saham karena melihat keuntungan yang didapatkan orang lain. Karena itu Hans berpesan untuk selalu memperhatikan kondisi pasar dan tak sekadar ikut-ikutan.

"Sebenarnya orang itu tidak benar-benar paham tentang investasi, mereka melihat investasi menarik, mereka enggak tahu pasar itu sebenarnya mahal atau tidak, hanya tahu saya untung," tuturnya.

 

3 dari 3 halaman

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini