Sukses

Kenaikan Harga Minyak Dorong Bursa Asia Cetak Rekor Tertinggi

Liputan6.com, Tokyo - Bursa Asia mampu menorehkan rekor tertinggi sepanjang tahun ini pada pembukaan perdagangan Selasa pekan ini. Jika dihitung sejak awal tahun, penguatan bursa Asia telah mencapai 9,9 persen. Pendorong kenaikan bursa Asia adalah sentimen positif dari bursa Amerika Serikat (AS) dan kenaikan harga minyak.

Mengutip Reuters, Selasa (16/8/2016), Indeks MSCI Asia Pasifik di luar Jepang membukukan penguatan 0,2 persen. Sedangkan Indeks Nikkei Jepang dibuka mendatar.

Di Bursa Amerika Serikat (AS). Dow Jones Industrial Average naik 59,58 poin atau 0,32 persen ke posisi 18.636,05. Sementara indeks S&P 500 naik 6,1 poin atau 0,28 persen menjadi 2.190,15 dan Nasdaq bertambah 29,12 poin atau 0,56 persen ke 5.262,02.

The Federal Reserve (The Fed) rencananya akan merilis hasil pertemuan Juli pada Rabu yang bisa memberikan petunjuk terkait rencana Bank Sentral AS ini untuk menaikkan tingkat suku bunga dan pandangan soal kesehatan ekonomi.

"Pada pertemuan itu, The Fed merevisi pandangannya tentang pasar tenaga kerja dan mengatakan risiko terhadap perekonomian berkurang. Jadi pasar memperkirakan akan ada kenaikan suku bunga di masa depan," kata Masahiro Ichikawa, analis Sumitomo Mitsui Asset Management.

Selain Wall Street, pendorong kenaikan bursa Asia adalah harga minyak mencapai level tertinggi dalam satu bulan terakhir pada perdagangan Senin kemarin. Dengan kenaikan kemarin maka dalam tiga hari perdagangan harga minyak mampu menguat 10 persen.

Harga minyak mentah jenis Light Sweet untuk pengiriman September ditutup naik US$ 1.25, atau 2,8 persen menjadi US$ 45,74 per barel di New York Mercantile Exchange. Sementara Brent, patokan minyak global, ditutup naik US$ 1,38 atau 2,9 persen ke posisi US$ 48,35 per barel.

Menteri Energi Rusia Alexander Novak pada senin kemarin berkonsultasi dengan Arab Saudi dan produsen minyak lainnya untuk menjaga stabilitas harga minyak. Dengan adanya pertemuan tersebut mendorong harapan pelaku pasar bahwa negara-negara produsen minyak dunia tersebut benar-benar akan mencari jalan keluar untuk menyelesaikan harga minyak yang telah tertekan dalam dua tahun ini. (Gdn/Nrm)