Gula Aren Bungbulang di Tangan Susanti

Berawal dari usaha sederhana tanpa merek, Gasebu kini dilirik eksportir setelah Susanti mendapat akses modal sekaligus pendampingan untuk mengembangkan usahanya.

Diterbitkan 08 September 2025, 07:39 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Di kaki perbukitan Bungbulang, Garut, Jawa Barat, gula aren bukan sekadar hasil kebun. Dari komoditas yang selama bertahun-tahun dijual tanpa merek, Susanti perlahan membangun sebuah usaha yang kini mulai dilirik pasar yang lebih luas.

Usaha itu ia beri nama Gasebu, singkatan dari Gula Semut Bungbulang.

Susanti sudah menekuni pengolahan gula aren sejak 2015. Namun, pada masa awal, produknya masih dijual apa adanya. Belum ada merek yang melekat, sementara modal usaha dan akses pemasaran juga masih terbatas.

Kualitas produk yang baik ternyata belum cukup untuk membuat Gasebu dikenal lebih jauh.

Susanti mengaku keterbatasan modal menjadi salah satu persoalan yang paling terasa. Di sisi lain, promosi belum maksimal dan pencatatan usaha masih dilakukan secara sederhana.

Peluang untuk masuk ke pasar ekspor sebenarnya sempat terbuka melalui sejumlah proses kurasi. Namun, kesempatan itu belum bisa dimanfaatkan sepenuhnya karena kapasitas produksi dan pemasaran Gasebu belum siap jika harus memenuhi permintaan dalam jumlah besar.

Titik perubahan mulai terasa ketika Susanti bergabung sebagai nasabah PNM Mekaar. Ia mendapat pinjaman awal Rp 4 juta yang kemudian diputar untuk membeli hasil produksi petani aren di sekitar Bungbulang.

Para petani itu tidak berhenti sebagai pemasok. Susanti juga mengajak mereka bergabung dalam kelompok usaha yang ia bina.

Dengan pola tersebut, permodalan tidak hanya digunakan untuk mengembangkan rumah produksi miliknya. Para petani di sekitar Bungbulang juga ikut mendapatkan manfaat dari perputaran usaha tersebut, sementara pengelolaan cicilan dilakukan secara kolektif dalam kelompok.

Namun, bagi Susanti, dukungan yang paling terasa bukan semata soal modal.

Ia mulai mendapat pendampingan untuk membangun identitas produk, memperbaiki kemasan, hingga mengenalkan Gasebu melalui pemasaran digital. Penjualan daring dan live shopping menjadi bagian dari upaya tersebut.

Produk gula aren Bungbulang itu kemudian sempat mendapat perhatian di TikTok. Momen tersebut menjadi salah satu pintu yang membuat Gasebu dikenal lebih luas.

"Ini benar-benar suatu wadah yang sangat luar biasa. Saya pun merasa diapresiasi banget," ujar Susanti mengenang momen tersebut.

Dari sana, peluang baru mulai berdatangan.

Salah satunya datang dari eksportir asal Cianjur, Mahkota Bumi. Pihak eksportir bahkan datang langsung ke rumah produksi Susanti dan meminta sampel untuk penjajakan ekspor dengan potensi permintaan mencapai 30 ton.

Bagi Susanti, permintaan itu menjadi tanda bahwa produk yang selama ini ia kembangkan dari Bungbulang mulai memiliki jalan menuju pasar yang lebih besar.

Tetapi, peluang tersebut juga menunjukkan tantangan yang masih harus ia hadapi. Kapasitas produksi menjadi pekerjaan berikutnya, terlebih jika Gasebu benar-benar harus memenuhi permintaan dalam skala besar.

Di sisi lain, perkembangan Gasebu mulai membawa dampak yang lebih luas bagi warga sekitar.

Bersama account officer (AO) PNM di lapangan, Susanti ikut menggelar sosialisasi program pemberdayaan. Puluhan warga kemudian dilatih membuat gula semut dari rumah masing-masing.

Kini, sekitar 130 orang bergantung pada perputaran usaha tersebut. Mereka terdiri dari 113 petani aren dan 17 pekerja di rumah produksi.

Bagi Susanti, angka itu menunjukkan bahwa usaha yang bermula dari pengolahan gula aren tidak lagi hanya menjadi urusan rumah produksinya. Ada pendapatan petani dan pekerja yang ikut bergantung pada keberlangsungan Gasebu.

Sebagian keuntungan usaha juga disisihkan untuk kegiatan sosial di lingkungan sekitar.

 

 

 

Butuh Lebih dari Sekedar Modal

Susanti berharap pendampingan yang selama ini ia dapatkan tidak berhenti pada satu program atau satu momentum. Ia masih ingin memperkuat merek, memperbesar kapasitas produksi, sekaligus membuka akses pasar yang lebih luas.

"Mudah-mudahan nanti ada program-program lain yang bisa lebih mengembangkan usaha kita dan bisa berdampak lebih luas lagi untuk masyarakat banyak melalui PNM," katanya.

Direktur Utama PT Permodalan Nasional Madani (Persero) Kindaris mengatakan pengembangan usaha ultra mikro membutuhkan lebih dari sekadar tambahan modal.

Menurutnya, pelaku usaha juga perlu mendapatkan akses dan pendampingan agar dapat berkembang.

“Untuk membuat usaha ultra mikro berkembang bukan hanya butuh modal uang tetapi juga dibukakan jalan untuk bisa naik kelas. Dibutuhkan dukungan yang lebih besar agar literasi dan kualitas usaha meningkat dibandingkan dengan skala usaha lainnya,” jelas Kindaris.