Kebakaran Hutan di Way Kambas, Kapolda Lampung Singgung Tradisi Warga

Kapolda memastikan penanganan kebakaran di Way Kambas hingga kini belum mengarah pada proses penyidikan.

Diterbitkan 26 Agustus 2026, 09:40 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Kapolda Lampung, Irjen Pol Helfi Assegaf menyoroti kebiasaan sebagian masyarakat di sekitar Taman Nasional Way Kambas (TNWK) yang membakar lahan untuk memunculkan tanaman baru.

Kebiasaan tersebut dinilai berpotensi memicu kebakaran hutan dan lahan (karhutla) meluas, terutama saat kondisi kawasan kering.

Helfi mengatakan, pembakaran lahan oleh masyarakat dilakukan dengan tujuan menumbuhkan tanaman baru yang kemudian menjadi sumber makanan bagi satwa di kawasan TNWK.

"Ini kan ada tradisi masyarakat setempat, tradisi melakukan pembakaran untuk tumbuh tanaman baru," ujar Helfi di Way Kambas, Selasa (25/8/2026).

Menurut dia, tanaman baru yang tumbuh setelah lahan dibakar dapat menarik satwa pemakan tumbuhan atau herbivora.

"Tanaman baru inilah yang akan menarik magnet hewan-hewan yang mengonsumsi ini," jelasnya.

Kebiasaan tersebut menjadi perhatian aparat karena pembakaran yang tidak terkendali dapat memicu munculnya titik api dan memperluas karhutla di kawasan TNWK.

Meski demikian, Helfi memastikan penanganan karhutla di TNWK hingga kini belum mengarah pada proses penyidikan.

"Ya, saat ini tidak ada," kata Helfi saat ditanya mengenai kemungkinan kasus karhutla tersebut naik ke tahap penyidikan.

Helfi mengatakan, aparat bersama pemerintah daerah dan masyarakat memilih mengedepankan langkah edukasi serta pencegahan agar kebiasaan membakar lahan tidak kembali memicu kebakaran.

"Kita sudah bersama-sama dengan TNI, kemudian Forkopimda, dan masyarakat setempat tentunya, untuk diedukasi supaya tidak melakukan hal tersebut," terang dia.

Menurut Helfi, sosialisasi akan dilakukan secara masif. Langkah tersebut dinilai penting untuk mencegah munculnya kebakaran baru di kawasan konservasi tersebut.

"Dan ini terus kita lakukan secara masif dan tentunya ini paling penting, karena untuk mengantisipasi tidak terjadi di kemudian hari," katanya.

Dengan demikian, penanganan karhutla TNWK saat ini masih berfokus pada pemadaman, pencegahan titik api baru, serta peningkatan kesadaran masyarakat di sekitar kawasan.

 

Kekeringan Ekstrem

Sebelumnya, Pangdam XXI/Radin Inten, Mayjen TNI Kristomei Sianturi menyebut kondisi kekeringan ekstrem menjadi dugaan awal penyebab kebakaran. Meski begitu, kemungkinan lain tetap didalami.

Wakil Gubernur Lampung Jihan Nurlela mengatakan pemerintah daerah bersama TNI, Polri, dan pengelola TNWK telah membentuk tim gabungan untuk mengantisipasi munculnya titik api baru.

"Pak Gubernur utamanya mengomandoi tim gabungan. Mulai dari TNI, Polri, dan juga seluruh dari tim TNWK, Balai, membentuk suatu tim gabungan untuk bisa memitigasi hal-hal yang berpotensi menjadikan titik api, hotspot baru," kata Jihan.

Pemprov Lampung juga akan melibatkan lebih banyak masyarakat dan komunitas lingkungan dalam upaya menjaga kawasan TNWK.

"Kita juga mengajak seluruh komunitas, seperti dari Pramuka atau dari aktivis-aktivis lingkungan lainnya untuk bisa sama-sama menjaga. Atau aware, lebih aware bagaimana potensi terjadinya api dan lain sebagainya. Itu sosialisasi akan kita masifkan lagi," jelasnya.