Wamen Stella Tekankan 3 Kunci Pendidikan Tinggi Hadapi Dominasi AI

Perguruan tinggi harus memiliki 3 kemampuan untuk menghadapi dominasi AI, yakni menciptakan pengetahuan, mentransmisikan pengetahuan, dan mengkurasi pengetahuan

Diterbitkan 31 Juli 2026, 15:04 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamen Diktisaintek) RI Prof. Stella Christie mengajak generasi muda untuk bersikap kritis dalam memanfaatkan kecerdasan buatan (artificial intelligence atau AI).

Di hadapan 240 penerima beasiswa Tanoto Foundation yang berkumpul dalam ajang Tanoto Scholars Gathering di Riau Kompleks PT RAPP, Pangkalan Kerinci, Riau, Kamis (23/7), Stella memaparkan berbagai hasil riset mengenai dampak pemanfaatan AI.

Dengan segala keunggulannya dalam membantu memecahkan berbagai persoalan, AI tetap perlu mendapat perhatian, terutama terkait prinsip-prinsip keberlanjutan dan dampaknya terhadap peran pendidikan tinggi.

"Secanggih-canggihnya AI, kalau kalian bisa menentukan apakah luaran dari AI itu benar atau tidak, akurat atau tidak, bagus atau tidak, kalian tidak akan tergantikan," ujar Stella.

Stella menjelaskan bahwa generasi muda harus tetap menjalani setiap proses dalam bidang yang ditekuni dan tidak menyerahkan seluruh pekerjaan kepada AI. Proses tersebut diperlukan agar terbentuk nalar yang mampu membedakan mana yang akurat dan mana yang tidak, serta mana yang baik dan mana yang tidak.

Dalam sejarah modern, ketergantungan manusia pada sesuatu yang dianggap mampu menjawab berbagai persoalan selalu berulang. Pada abad ke-17, khususnya di Belanda, bunga tulip pernah menjadi "solusi" tunggal tersebut.

"Semua orang Belanda dan juga orang-orang Eropa bilang bahwa kita harus menanam tulip. Karena tulip saat itu harganya naik luar biasa. Jadi semua orang berinvestasi pada tulip," jelas Stella memberi ilustrasi.

Namun, "demam tulip" itu tidak bertahan lama. Setelah harganya melonjak sangat tinggi, pada suatu waktu nilai tanaman khas Negeri Kincir Angin itu anjlok dalam sekejap. Layaknya gelembung, semakin besar ukurannya, semakin mudah pula pecah. Peristiwa tersebut kemudian dikenal sebagai The Dutch Tulip Bubble dan menjadi gelembung ekonomi (economic bubble) pertama dalam sejarah modern.

Pada abad ke-21, fenomena serupa kembali terjadi pada masa awal berkembangnya internet. Ketika itu, banyak orang terpesona dengan dunia maya dan menanamkan investasinya pada bisnis penyedia laman atau situs web. Nilai pasar perusahaan-perusahaan digital pun melonjak tajam. Namun, tidak lama kemudian, dot-com bubble itu pecah.

"Economic bubble adalah fenomena yang membentuk kehidupan manusia di dunia ini. Pertanyaannya, bagaimana kita tahu bahwa kita saat ini sedang berada di dalam bubble? Apakah AI juga merupakan sebuah bubble atau bukan?" kata Stella.

Untuk menjawab pertanyaan tersebut, Stella mengajak peserta merefleksikan kondisi saat ini. Berbagai pertanyaan dan persoalan di hampir semua bidang mulai diserahkan kepada AI, mulai dari sektor pendidikan, ekonomi dan bisnis, hingga kesehatan dan sains yang memerlukan teknologi canggih.

"Kalau bubble, itu akan pecah. Atau kalau ini bukan bubble, terus-menerus akan bertumbuh. Ini menarik, tapi saya yakin kalau Anda memberikan pertanyaan apa pun, jawabannya pasti AI," ujarnya.

Di balik masifnya penggunaan AI, terdapat "harga" tersembunyi yang harus dibayar. Stella mengungkapkan, berdasarkan sejumlah riset terbaru, penggunaan AI menyedot energi dalam jumlah sangat besar. Angka pastinya memang belum diketahui, tetapi sejumlah penelitian telah mencoba mengestimasi kebutuhan listrik dan air untuk menopang pusat-pusat data perusahaan AI.

"Mungkin 1–1,3 persen dan akan naik sampai 4,5 persen dari pemakaian energi di dunia. Tahun lalu pemakaian energi oleh AI itu sama dengan pemakaian energi selama satu tahun dari negara Latvia," ungkapnya.

Mirisnya, berdasarkan hasil analisis dan proyeksi, konsumsi energi AI akan terus meningkat dari tahun ke tahun. Secara berturut-turut, mulai tahun ini hingga lima tahun ke depan, kebutuhan energi AI diperkirakan setara dengan konsumsi energi tahunan Republik Ceko, Italia, Inggris Raya, bahkan Kanada.

"Diperkirakan pada tahun 2030, tidak ada satu negara pun di Eropa yang pemakaian energinya selama satu tahun itu bisa dibandingkan atau menopang pemakaian energi AI," katanya.

Tahun lalu bahkan terungkap bahwa penggunaan air di salah satu pusat pemrosesan data perusahaan AI setara dengan kebutuhan air minum bagi 1,2 juta orang. Sementara konsumsi listriknya setara dengan kebutuhan listrik 50 rumah sakit besar atau 325 universitas di Amerika Serikat.

Lebih jauh, jika ditelaah, berbagai solusi yang dihasilkan AI sejauh ini masih sebatas potensi. Menurut Stella, AI baru mampu memberikan jawaban atas berbagai pertanyaan, tetapi belum mampu mengimplementasikan solusi tersebut secara nyata.

"AI belum bisa menyembuhkan kanker, belum bisa membangun perusahaan yang masuk daftar Fortune 500," ucapnya.

Di hadapan ratusan Tanoto Scholar, penerima beasiswa TELADAN Tanoto Foundation, Stella mengajak peserta berpikir lebih kritis mengenai dampak AI terhadap perguruan tinggi dan para lulusannya. Hal itu mengingat sejumlah profesi diprediksi akan tergantikan oleh AI.

Sebagai contoh, Stella menyebut lulusan computer science di Amerika Serikat mulai mengalami kesulitan memperoleh pekerjaan. Kondisi tersebut bahkan memunculkan pertanyaan apakah universitas masih diperlukan apabila bidang-bidang yang dipelajari di kampus dapat digantikan oleh AI.

Di satu sisi, menurut Stella, menghapus berbagai program studi dan hanya berfokus pada AI bukanlah solusi. Namun, perkembangan AI yang berpotensi mengancam eksistensi perguruan tinggi beserta sivitas akademikanya juga memerlukan perhatian serius.

3 Kunci Hadapi Dominasi AI

Untuk menghadapi tantangan tersebut, Stella mendorong perguruan tinggi memiliki, bahkan meningkatkan, tiga kemampuan utama untuk menghadapi dominasi AI, yakni menciptakan pengetahuan, mentransmisikan pengetahuan, dan mengkurasi pengetahuan.

Pertama, universitas harus tetap menjadi pusat penciptaan pengetahuan dan inovasi. Saat ini AI juga mampu menghasilkan pengetahuan. Karena itu, menurut Stella, manusia harus mampu menentukan jenis pengetahuan yang harus tetap diciptakan manusia dan mana yang dapat dihasilkan AI.

"Pengetahuan seperti apa yang akan diciptakan oleh manusia dan pengetahuan seperti apa yang akan diciptakan oleh AI. Kalau tidak bisa menjawab pertanyaan itu, tentu saja manusia akan digantikan oleh AI," kata Stella.

Kedua adalah transmisi pengetahuan. Selama ini pengetahuan mengalir dari dosen kepada mahasiswa, kemudian memberi manfaat bagi masyarakat. Namun, sejak berkembangnya perangkat digital, terutama telepon pintar yang kini telah dilengkapi AI, cara penyebaran dan relevansi pengetahuan perlu dikaji kembali.

Kini setiap orang dapat memperoleh pengetahuan yang dibutuhkan melalui AI. Akibatnya, tidak semua pengetahuan harus lagi ditransmisikan oleh perguruan tinggi. Sebagai contoh, AI kelak mungkin mampu menulis novel sehingga pembelajaran teknik penulisan novel di kampus sastra bisa berubah bentuk.

"Ini pertanyaan pelik yang harus dijawab oleh universitas dan harus kalian jawab juga sebagai sivitas akademika serta menjadi bagian krusial dari universitas," ujarnya.

Kurasi pengetahuan menjadi strategi penting pendidikan tinggi di era AI. Kampus dan akademisi harus mampu memilah, menyaring, sekaligus memberi makna atas melimpahnya informasi dan pengetahuan.

"Jika seseorang dengan pendidikan tinggi tidak bisa menjawab pengetahuan apa yang harus diciptakan, pengetahuan apa yang harus ditransmisikan, dan bagaimana mengkurasinya, pendidikan tinggi tidak akan berkelanjutan di era AI," paparnya.

"Sebaliknya, jika manusia-manusia unggulan mampu menciptakan, mentransmisikan, dan mengkurasi pengetahuan, kalian pasti tidak akan tergantikan oleh AI atau teknologi apa pun di dunia ini."

Selain pada tataran institusi, strategi pemanfaatan AI juga perlu diterapkan di tingkat individu. Stella berpesan kepada Tanoto Scholar dan para pelajar di semua jenjang pendidikan agar menggunakan AI secara bijak.

"Sekarang sudah banyak bukti ilmiah yang memperlihatkan bahwa ketika mahasiswa, murid SMA, SMP, maupun SD menggunakan AI, kemampuannya untuk menyelesaikan pekerjaan justru menjadi lebih buruk. Karena begitu AI tidak ada, mereka menjadi bergantung dan tidak mengalami proses berpikir tentang bagaimana sulitnya menyelesaikan suatu pekerjaan," tuturnya.

Mengutip riset ilmuwan matematika peraih Fields Medal, Michael Freedman, Stella menegaskan bahwa kemampuan utama agar manusia tidak tergeser oleh AI adalah kemampuan mengevaluasi setiap luaran yang dihasilkan AI.

Stella menekankan bahwa masa depan tidak ditentukan oleh siapa yang paling cepat mengadopsi AI, melainkan oleh siapa yang mampu tetap berpikir kritis, menciptakan pengetahuan baru, serta memberi makna atas berbagai informasi yang tersedia. Kemampuan-kemampuan tersebut menjadi bekal penting bagi generasi muda untuk tetap relevan dan mampu memimpin di tengah perubahan teknologi yang berlangsung sangat cepat.