Chat Terakhir IDS, Siswa SMA di Yogyakarta dengan Teman Sekolah Sebelum Tewas Dikeroyok

Monica menyebut selama ini Ilham dikenal sebagai pribadi yang baik oleh teman-temannya.

Diterbitkan 21 April 2026, 17:30 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - IDS alias Ilham (16), pelajar SMAN 1 Bambanglipuro, Bantul, Yogyakarta, tewas mengenaskan usai dikeroyok gerombolan pemuda. Pengeroyokan yang terjadi Selasa (14/4/2026) itu dilatarbelakangi balas dendam.

Monica, salah satu teman sekolah Ilham, mengaku masih sempat berkomunikasi dengan korban di malam yang sama saat kejadian.

"Komunikasi terakhir sebelum kejadian Selasa malam, dia masih beri kabar ke saya, cuma formalitas," kata Monica saat ditemui wartawan di rumah korban di Bantul, Selasa (21/4/2026).

Komunikasi Monica dan Ilham lewat dilakukan pada pukul 22.34 Wib. Saat itu, Ilham mengatakan masih ada di rumah. Padahal menurut Sugeng, ayah Ilham, anaknya dijemput dua pemuda di pukul 22.00 Wib.

"Saya tu enggak tahu kalau dia itu ternyata dia pergi dari rumah. Dia bilang masih di rumah, saya masih berkabar sama dia jam 22.34, dia masih di rumah, di belakang," katanya.

Monica kembali merespons chat Ilham di pukul 22.39 Wib. Beberapa menit kemudian, chat itu tidak ada balasan dari Ilham.

"Terus saya balas lagi di jam 22.39, lewat 4 menit itu tuh dia sudah tidak online lagi. Sudah tidak ada kabar lagi," ujarnya.

Monica mengaku mengenal Ilham setahun terakhir. Dia menilai Ilham pribadi yang baik pada teman-temannya.

"Dia itu sangat care dengan teman-temannya, dia juga penyayang orangnya," katanya.

Soal Ilham yang jarang keluar malam juga dibenarkan Monica. Itu sebabnya, dia kaget saat mendengar Ilham tewas usai dikeroyok gerombolan pemuda.

"Kita juga kaget Ilham bisa seperti ini," katanya.

 

Detik-detik Ilham Dikeroyok dan Ditemukan Tewas

ayah IDS, Sugeng Riyanto, menceritakan bahwa pada Selasa malam anaknya dijemput oleh dua pemuda yang mengendarai sepeda motor sekitar pukul 22.00 WIB. Saat itu, Sugeng mengaku sudah tertidur sehingga tidak mengetahui anaknya keluar rumah.

Berdasarkan keterangan salah satu teman korban yang membuntuti, IDS sebelumnya dibawa ke belakang SMAN 1 Bambanglipuro oleh sejumlah kakak kelas dan kelompoknya. Kemudian, IDS dibawa oleh dua orang berbeda ke Lapangan Gadung Mlati.

“Menurut rekannya, di sana anak saya sudah ditunggu sekitar 10 orang. Ia hanya sempat ditanya soal ikut geng, kemudian langsung dikeroyok,” ujarnya.

Saat ditemukan, tubuh IDS dilaporkan mengalami kekerasan membabi buta menggunakan selang dan pipa paralon. Selain itu, tubuh korban juga disundut api rokok sehingga menyebabkan luka serius.

Ketika dilarikan ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan, korban IDS tidak sadarkan diri dan kondisinya terus memburuk hingga akhirnya dinyatakan meninggal dunia pada Minggu malam.

Sugeng juga menceritakan penyiksaan oleh pelaku tidak berhenti di situ. IDS yang sudah tidak berdaya bahkan disebut dilindas sepeda motor berulang kali. Seorang pelaku juga diduga sempat hendak melukai telinga korban sebelum dicegah oleh temannya yang mengikuti dari belakang.

“Waktu sudah pingsan, masih mau dipotong telinganya, tetapi temannya berhasil merebut gunting,” ungkap Sugeng.

Atas kejadian ini, Sugeng mengatakan pihaknya telah melaporkan peristiwa tersebut ke polisi disertai dengan hasil visum anaknya. Ia berharap pelaku segera ditangkap serta dihukum berat.

“Saya minta pelaku dihukum seberat-beratnya. Ini sudah sangat sadis,” tegas Sugeng.

IDS, menurut Sugeng, tergolong remaja yang tidak pernah keluar malam. Ia biasanya sudah berada di rumah sebelum pukul 21.00 WIB atau paling lambat pukul 22.00 WIB. Jika pada jam tersebut belum pulang, ibunya akan menghubungi untuk memintanya segera pulang.