Berniat Maju Caketum PBNU, Cucu Pendiri NU Paparkan Gagasan di Depan Ulama Terkemuka Yogyakarta

Gus Salam berikhtiar maju sebagai Ketua Umum PBNU atas permintaan dan perintah dari para guru.

Diterbitkan 18 April 2026, 10:52 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Rabu malam, 15 April 2026, ornamen aula gedung PWNU Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) tidak seperti biasanya untuk kegiatan organisasi. Tajuk dalam backdrop acara jelas terlihat beda. Bahkan terkesan istimewa untuk kegiatan yang sedang dilaksanakan, walau tidak disertai logo NU.

PWNU DIY menerima tamu beserta rombongan yang dikemas dalam kegiatan silaturahmi PWNU dan PCNU se-DIY bersama KH Abdussalam Shohib; cucu pendiri NU KH Bishri Syansuri. Rombongan yang menyertainya adalah para Masyayikh dari PP Al-Falah Ploso dan PP Lirboyo, Kediri Jawa Timur.

KH M. Makmun Mahfudz, dzurriyah PP Al-Falah Ploso, sekaligus Ketua PCNU Kabupaten Kediri mengenalkan KH Abdussalam Shohib, disapa Gus Salam sebagai kandidat calon Ketua Umum PBNU.

"Saya mengenalkan sosok Gus Salam sebagai cucu pendiri NU Mbah Bishri Syansuri. Gus Salam juga bagian dari keluarga PP. Al-Falah Ploso dan PP. Lirboyo, Kediri. Saya sampaikan niatan silaturrohim Gus Salam, kaitan ikhtiarnya sebagai kandidat Ketua Umum PBNU melalui muktamar yang akan datang," kata Gus Makmun, Sabtu (18/4/2026).

"Gus Salam berikhtiar maju sebagai Ketua Umum PBNU atas permintaan dan perintah dari para guru-kiainya. Karenanya dia ingin mendapat silaturrohim mohon doa-restu dari pengurus PWNU dan PCNU se-Yogyakarta," sambungnya.

Di tengah pengurus NU Yogyakarta, Gus Salam menyampaikan gagasan dan pikirannya tentang jam’iyyah Nahdlatul Ulama. Dia menjelaskan tentang kondisi NU saat ini dan proyeksinya ke depan.

"Alhamdulillah, saya berkesempatan menyampaikan pemikiran dan gagasan tentang NU kedepan yang dimulai dari landasan dan pentingnya rekonsiliasi secara menyeluruh," kata Gus Salam.

"Rekonsiliasi dijalankan dengan memulihkan hubungan semua unsur di jam'iyyah Nahdlatul Ulama demi menjaga persatuan. Dan persatuan itu bisa dibangun Kembali bila semuanya dengan penuh kesadaran bisa mengabaikan ego pribadi dan kelompok serta perbedaan-perbedaan yang membatasi untuk bisa bersatu," tambahnya.

 

5 Wasiat KH Ali Maksum

Gus Salam menuturkan dengan kebersamaan, NU bisa merajut kembali usaha-usaha untuk mengembalikan marwah, wibawa dan khidmah perjuangan jam’iyyah di tengah masyarakat berdasar garis perjuangan muassis dan pendahulu NU.

"Saya yakin dengan meneladani dan menjalankan 5 wasiat Mbah Ali Maksum, Rais Aam PBNU 1981-1984, menantu KH. M. Munawwir Al-Hafid, pendiri PP Al-Munawwir, Krapyak Yogyakarta, kita bisa mengembalikan marwah, wibawa dan kebesaran NU,” ujar Gus Salam.

"5 wasiat Mbah Ali Maksum sangat mashur di kalangan NU. Dan kelima wasiat itu mencerminkan dan menggambar ruhul alma’had (jiwa pesantren), ruhul jihad (jiwa berjuang) dan ruhul Khidmah (jiwa mengabdi dan melayani) untuk kemashlahatan umat," ungkapnya.

Presentasi perkenalan pemikiran Gus Salam disertai dialog-rembugan gayeng ala NU dan pesantren. Secara bergiliran mulai dari PWNU dan PCNU se-Yogyakarta diminta memberi tanggapan-pemikiran terkait kondisi NU saat ini dan harapan kedepan di bawah kepemimpin baru PBNU.

Pesan dari Ulama Yogyakarta

Pertemuan Gus Salam dengan Pengurus PWNU-PCNU se-Yogyakarta membahas beragam isu, mulai dari isu-isu bersifat dogmatis, ideologis, administratif hingga aksi-aksi nyata penopang kemandirian NU terdiskusikan dengan gayeng. Termasuk isu sensitif mengenai AHWA dan mekanisme pemilihan pimpinan PBNU, juga terlontar dari auidens.

Perkenalan gagasan Gus Salam dan dialog diakhiri oleh respon penutup dari Rais PWNU DIY, KH. Mas’ud Masduki. Kiai Mas'ud menyimpulkan ketegangan-ketegangan didalam NU segera diakhiri, sebaliknya saling berangkulan untuk kebaikan NU melalui khidmah secara konsisten disertai keikhlasan.

"Kita di NU sudah lama berkonflik, kemudian terjadi ishlah. Kini, saatnya bersalam-salaman,” pungkas Kiai Mas'ud.