Awal 2026, Gunung Semeru Sudah 419 Kali Erupsi

​Data statistik menunjukkan betapa "sibuknya" kawah Semeru.

Diterbitkan 04 Maret 2026, 13:19 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Gunung Semeru, yang mempunyai ketinggian 3.676 mdpl, terus menunjukkan konsistensi aktivitas vulkaniknya.

Hingga Rabu (4/3/2026), gunung tertinggi di Pulau Jawa ini tercatat sebagai gunung api paling aktif di Indonesia sepanjang awal tahun ini, melampaui aktivitas gunung api berstatus Siaga lainnya.

​Laporan terbaru dari Pos Pengamatan Gunung Semeru menunjukkan aktivitas yang didominasi oleh gempa letusan. Dalam periode pengamatan Rabu dinihari (00.00-06.00 WIB), terekam sedikitnya 12 kali gempa letusan dengan durasi berkisar antara 58 hingga 99 detik.

​Petugas Pos Pengamatan, Sigit Rian Alfian, mengonfirmasi bahwa aktivitas tak berhenti di situ. Pada pukul 08.40 WIB, erupsi kembali terjadi dengan amplitudo maksimum mencapai 22 mm.

"Meski secara visual puncak tertutup kabut tebal, getaran tersebut terekam kuat di seismograf selama 147 detik,"ujarnya Rabu (4/3/2026)

​Data statistik menunjukkan betapa "sibuknya" kawah Semeru. Terhitung sejak 1 Januari hingga 3 Februari 2026, Semeru telah memuntahkan 419 kali letusan. Angka ini menempatkan Semeru di posisi puncak gunung paling aktif, jauh melampaui, Gunung Ibu yang berstatus waspada 358 kali letusan, Gunung Merapi berstatus siaga belum terekam erupsi dalam periode yang sama.

 

Peringatan

​Mengingat statusnya yang masih bertahan di Level III atau Siaga, PVMBG mengeluarkan peringatan keras bagi warga maupun wisatawan. Di sektor tenggara atau Besuk Kobokan larangan total aktivitas sejauh 13 kilometer dari puncak.

Sedangkan di sepadan sungai larangan aktivitas dalam radius 500 meterdi sepanjang tepi sungai Besuk Kobokan karena potensi perluasan awan panas dan aliran lahar hingga jarak 17 kilometer

"Larangan beraktivitas dalam jarak 5 kilometer dari kawah/puncak guna menghindari bahaya lontaran batu pijar," tegas Sigit.

 

Waspada

​Masyarakat juga diminta tetap siaga terhadap potensi ancaman sekunder berupa awan panas guguran dan lahar dingin.

"Fokus kewaspadaan berada pada jalur aliran sungai yang berhulu di puncak, meliputi Besuk Kobokan, Besuk Bang, Besuk Kembar dan Besuk Sat," pungkas Sigit.