Kasus Bocah SD Bunuh Diri di NTT, Kepala Sekolah Pastikan Tak Ada Bullying

Polisi masih melakukan penyelidikan atas penyebab pasti kematian bocah SD yang bunuh diri di NTT. Salah satunya demi mengungkap dugaan terjadinya bullying.

Diterbitkan 07 Februari 2026, 17:36 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Polisi masih melakukan penyelidikan atas penyebab pasti kematian bocah SD Yohanes alias YBS yang bunuh diri di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT). Salah satunya demi mengungkap dugaan terjadinya perundungan atau bullying di lingkungan sekolah.

Meski begitu, Kepala Sekolah SD Negeri Rj, Maria Ngene mengaku sudah menjalani pemeriksaan polisi, termasuk beberapa guru kelas.

"Iya, kami sudah memberi keterangan ke polisi," ungkapnya, Sabtu (7/2/2026).

Ia menegaskan, tidak ada perundungan terhadap korban di lingkungan sekolah. Pasalnya, korban sangat dekat dengan teman-teman sekelasnya.

"Saya pastikan tidak ada bullying. Kami anak-anak desa, hampir semua anak petani tidak ada yang namanya menghina atau bully," tegasnya.

Menurutnya, Yohanes dikenal sebagai siswa yang berperilaku baik dan tidak pernah menimbulkan masalah selama mengikuti kegiatan belajar mengajar.

“Dia anak baik, ramah dengan teman-temannya, dan tidak pernah membuat keributan,” katanya.

 

Soal Kurangnya Peralatan Belajar

Mengenai perlengkapan belajar Yohanes yang kurang, Maria menyatakan pihak sekolah tidak mengetahui secara rinci. Karena menurut dia, pemantauan kebutuhan pribadi siswa umumnya dilakukan oleh wali kelas masing-masing.

"Saya belum menerima informasi soal kekurangan perlengkapan belajar. Biasanya wali kelas yang lebih mengetahui. Apalagi ini awal semester, mungkin kebutuhannya belum sempat dipenuhi,” ujarnya.

Selama mengikuti proses belajar mengajar, kata Maria, Yohanes tidak pernah menyampaikan keluhan dan tidak menunjukkan kendala yang menonjol.

“Tidak ada laporan atau keluhan. Kami memang tidak bisa memantau kondisi pribadi semua siswa secara detail," katanya.

Kapolres Ngada AKBP Andrey Valentino mengatakan, penyidik masih melakukan penyelidikan termasuk meminta keterangan guru tempat korban sekolah. Hal itu dilakukan guna menjawab dugaan perundungan atau bullying terhadap korban.

"Penyidik juga memeriksa pihak sekolah, termasuk guru korban. Ini dilakukan untuk mengetahui apakah korban juga jadi korban bullying atau tidak. Ini yang masih diselidiki," ujarnya.

 

Tak Ada Tanda Kekerasan

Ia menjelaskan, penyidik berkerja profesional dalam proses penyelidikan kasus ini. Dari hasil visum, tidak ditemukan tanda-tanda adanya kekerasan.

"Motif sementara karena putus asa lalu bunuh diri. Ini murni niatan anak. Selama ini korban juga tidak memiliki handphone," ungkapnya.