Data Hutan Jambi Kian Kritis: Hilang 2,5 Juta Hektare

Data KKI Warsi, dalam satu dekade, deforestasi hutan alam di Jambi mencapai 112.372 hektare atau hampir enam kali luas Kota Jambi.

Diterbitkan 09 Januari 2026, 17:27 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Kondisi hutan alam di Provinsi Jambi semakin kritis. Dalam lima dekade terakhir, luas hutan Jambi telah hilang 2,5 juta hektare. Saat ini hutan alam di provinsi ini hanya tinggal 929.891 hektare atau 18,54 persen dari total luas daratan.

“Dengan tutupan hutan sekecil ini sangat tidak ideal. Jambi berada dalam zona kritis, berpotensi menjadi bencana ekologis yang besar yang pemulihannya membutuhkan biaya besar serta waktu lama,” kata Direktur KKI Warsi, Adi Junedi dalam refleksi akhir tahun yang digelar di kantor Warsi. 

Berdasarkan analisis citra satelit KKI Warsi, tutupan hutan di Jambi pernah terjadi trend peningkatan pada 2020-2024. Namun, selama kurun waktu 2025 hutan Jambi kembali terjadi penyusutan yang cukup besar atau mencapai 27 ribu hektare. 

Data KKI Warsi, dalam satu dekade, deforestasi hutan alam di Jambi mencapai 112.372 hektare atau hampir enam kali luas Kota Jambi.

Pria yang akrab disapa Juned ini menjelaskan, deforestasi terjadi dipicu alih fungsi perkebunan kelapa sawit, dan hutan tanaman industri monokultur. Selain itu, dominasi ekspansi pertambangan batu bara dan pertambangan emas ilegal serta kebakaran hutan menjadi faktor hilangnya hutan.

Masih berdasarkan analisis citra satelit, pembukaan lahan akibat pertambangan batu bara mencapai 16 ribu hektare. Deforestasi Ini tersebar di kawasan hutan maupun areal penggunaan lain. 

Sedangkan penambangan emas tanpa izin (PETI) telah merusak lebih dari 60 ribu hektare hutan, atau setara hampir tiga kali luas Kota Jambi. Bahkan kawasan Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS) juga sudah dirongrong oleh pertambangan emas, kata Juned.

Ancaman Bencana Ekologis

Kerusakan hutan dan hilangnya biodiversity di alam terus bertalian dan meningkatkan risiko bencana ekologis. Air hujan yang turun dalam jumlah besar tak mampu ditampung lagi oleh tanah karena hilangnya pohon.

Sungai-sungai pun turut rusak, airnya keruh berlumpur akibat dikoyak pertambangan emas ilegal. Sungai turut menjadi dangkal dan menyebabkan aliran air mudah meluap setelah tidak sanggup lagi menampung debit air. Kondisi ini membuat banjir dan longsor menjadi ancaman yang terus mengintai.

"Bencana bukan lagi risiko musiman, tetapi sudah jadi ancaman permanen. Jambi berada di ambang bencana, tinggal menunggu waktu,” kata Adi Junedi. 

KKI Warsi melakukan pemodelan potensi bencana ekologi. Secara khusus mereka menyoroti di wilayah gugusan bukit barisan, yakni Kabupaten Kerinci dan Kota Sungai Penuh. Kedua daerah ini berada di dalam lembah atau “mangkuk besar” yang dikelilingi pegunungan dan bukit barisan.

“Kami buat pemodelan khusus untuk sungai Batang Merao dan Batang Merangin, ternyata sungai tersier (kecil) banyak sekali dan semua masuk ke lembah Kerinci,” kata Senior Advisor KKI Warsi Rudisyaf.

Hasil kajian lembaganya, Rudi bilang, terdapat 233 desa di wilayah Kabupaten Kerinci dan Sungai Penuh, yang potensial terdampak bencana hidrometeorologi. Wilayah topografi dua daerah ini memiliki kemiringan yang tinggi, sehingga jika berpotensi tersapu banjir.

Dengan kondisi topografi kemiringan ditambah laju deforestasi semakin meningkatkan risiko bencana. Puncak-puncak bukit telah dieksploitasi menjadi perkebunan dan pertanian. Banjir parah pernah menerjang dua wilayah tersebut pada awal tahun 2024. Kondisi ini mengingatkan bahwa jika hutan dan alam terus dieksploitasi, maka bencana tak terhindarkan.

“Tutupan hutan di daerah tersebut masih 50-60 persen, tapi ini tidak ideal karena topografinya. Kemiringan lereng 40 persen yang tadinya harus dilindungi, tapi kita lihat di peta sudah dieksploitasi,” ujar Rudi.

Kondisi Hutan Kerinci Sudah Akut

Sementara itu, Akademisi Teknik Geologi Universitas Gadjah Mada (UGM) Dr.Eng Akmaludin berpendapat, topografi lembah Kerinci mempunyai kemiringan dan terjal dengan bebatuan vulkanik. Sehingga gawir-gawir di sepanjang Kerinci potensial terjadi longsor.

Kondisi itu juga diperparah dengan daya tampung hutan yang semakin berkurang. Menurut Akmal, Akademisi UGM yang berasal dari Kerinci itu, perlu dicermati bahwa semua sungai-sungai kecil di sepanjang lembah Kerinci bermuara di Batang Merao. Batang Merao yang membelah Kerinci mulai dari Hulu di Siulak dan Kayu Aro sampai ke hilir di Danau Kerinci.

Danau Kerinci yang merupakan danau vulkanik itu kata Akmal, menjadi muara bagi semua sungai yang ada di wilayah Kerinci dan Sungai Penuh.

Namun, Danau Kerinci sebagai bendungan alami kini tak mampu menampung limpasan air dari sungai, sehingga sumber luapan juga berasal dari danau. Keluarnya air dari Danau Kerinci ini berada di Sanggaran Agung dan Batang Merangin.

"Pendangkalan sungai-sungai besar di Kerinci sudah sangat akut. Kondisi hutannya juga akut, kalau hujan lebat sedikit langsung (airnya) cepat meluap," jelas Akmal.