Liputan6.com, Jakarta - Kasus penculikan anak kini kembali heboh di Tanah Air. Sejumlah anak dilaporkan hilang. Sampai terungkapnya transaksi jual beli anak di media sosial.
Penculikan dan penjualan anak berusia 4 tahun, Bilqis Ramadhany salah satu yang bikin heboh. Dia sempat dibawa dari Makassar hingga dijual bertahap dari harga Rp 3 Juta hingga Rp 80 juta.
Kasat Reskrim Polrestabes Makassar AKBP Devi Sujana mengungkapkan, dari hasil pemeriksaan terhadap para tersangka, mereka kerap berkomunikasi dan melakukan transaksi melalui media sosial, terutama lewat grup-grup di Facebook yang menggunakan istilah “adopsi”.
Advertisement
“Cara mereka berhubungan itu lewat media sosial. Ada beberapa grup di Facebook yang khusus membahas tentang ini. Bahasanya adopsi, padahal praktiknya jual-beli anak. Di grup itu juga banyak yang mencari anak, entah untuk dirinya sendiri atau orang lain,” jelas AKBP Devi Sujana saat ditemui wartawan, Senin (10/11/2025).
Menurut Devi, polisi telah menemukan fakta tersangka utama Sri Yuliana alias Ana, yang menculik Bilqis dari Taman Pakui Sayang, menawarkan korban melalui akun Facebook palsu yang dibuat. Tawaran itu kemudian menarik minat tersangka Nadia Hutri, warga Sukoharjo, Jawa Tengah, yang membeli korban seharga Rp 3 juta sebelum kembali menjualnya ke Jambi.
“Yang kita amankan di Sukoharjo ini sudah tiga kali melakukan transaksi serupa dengan pelaku lain di Jambi. Sedangkan pelaku di Jambi, Mary, sudah sembilan kali. Jadi kemungkinan jaringannya lebih luas dari yang terungkap,” kata Devi.
Korban dijual oleh dua pelaku perdagangan anak ke kelompok Suku Anak Dalam (SAD) di Desa Mentawak Kabupaten Merangin, Provinsi Jambi seharga Rp 80 juta.
"Korban ditemukan dalam kondisi selamat, pihak yang terlibat tengah diperiksa," kata Kepala Saksi Humas Polres Kerinci Iptu DS Sitinjak. Dikutip dari Antara, Minggu (9/11/2025).
Pelaku Adefrianto Syahputra (36) dan Mery Ana (42) ditangkap tim gabungan di sebuah penginapan Jumat (7/11) di Kota Sungai Penuh.
Setelah dilakukan pemeriksaan, pelaku menyampaikan bahwa korban telah dijual ke kelompok SAD di Kabupaten Merangin Provinsi Jambi. Korban dijual pelaku dengan harga Rp 80 juta.
Berbekal informasi itu, tim gabungan menuju lokasi yang disampaikan oleh pelaku. Bilqis akhirnya ditemukan kepolisan dan dibawa kembali ke Kota Makassar Sulawesi Selatan, sedangkan dua pelaku saat ini harus menjalani pemeriksaan oleh kepolisan.
Kasus penculikan hingga menjurus ke perdagangan orang terjadi pada hari Minggu (2/11) lalu di Kota Makassar.
Awalnya, sekira pukul 08.00 WIB, korban dibawa orang tuanya (pelapor) bermain di taman Pakui sekitar lapangan tenis di kota itu. Pelopor saat itu sedang bermain tenis. Beberapa waktu berselang, sekira pukul 10.00 WIB, pelapor mengecek korban di taman, namun yang bersangkutan sudah tidak ada di lokasi.
Pelapor telah berusaha mencari korban namun tidak ditemukan, selanjutnya membuat laporan penculikan di Polrestabes Makasar.
Dari hasil penyelidikan dan penyidikan, tim Satreskrim Polrestabes Makasar berhasil melakukan penangkapan pelaku penculikan anak tersebut di wilayah Makassar. Namun ternyata, Bilqis telah dijual kepada pelaku lain di Yogyakarta.
Selanjutnya Tim Satreskrim Polrestabes Makasar melakukan pengejaran ke Yogyakarta dan melakukan penangkapan pelaku di Yogyakarta, namun korban telah dijual kepada pelaku Adefrianto dan Mery Ana di Jambi.
Berbekal informasi tersebut, Satreskrim Polrestabes Makasar melakukan pengejaran terhadap pelaku di Jambi. Berdasarkan informasi bahwa kedua pelaku tersebut berada di wilayah hukum Polres Kerinci.
Sindikat Penjualan Anak
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5408007/original/083032500_1762761348-1001162952.jpg)
Kapolda Sulawesi Selatan Irjen Pol Djuhandhani Rahardjo Puro mengungkap, hasil pengembangan dari empat tersangka yakni Sri Yuliana (30), Nadia Hutri (29), Meriana (42), dan Adit Prayitno Saputra (36), menunjukkan adanya jejak penjualan bayi dan anak di wilayah Bali, Jawa Tengah, Jambi, serta Kepulauan Riau.
“Tersangka sudah berbicara dan mengakui adanya beberapa TKP lain yang berkaitan dengan penjualan bayi. Ada di wilayah hukum Polda Bali, Polda Jawa Tengah, Polda Jambi, dan Polda Kepri,” kata Djuhandhani saat doorstop di Mapolda Sulsel, Kamis (13/11/2025).
Temuan ini menandakan praktik jual beli bayi tersebut bukan kasus tunggal, melainkan memiliki jejaring lintas daerah. Karena itu, Polda Sulsel kini berkoordinasi intens dengan Bareskrim Polri untuk menindaklanjuti temuan tersebut.
“Ini terus kami dalami. Kami sudah berkoordinasi dengan Bareskrim Polri karena kami di Polda Sulsel memiliki keterbatasan yurisdiksi,” jelasnya.
Selain itu, ia juga menyampaikan bahwa perkembangan kasus ini telah dilaporkan kepada Kabareskrim Polri. Dalam waktu dekat, Bareskrim dijadwalkan melakukan asistensi dan supervisi langsung terhadap tim penyidik Polda Sulsel.
“Kami sudah berkoordinasi dengan Direktorat PPA dan Tipidum Bareskrim Polri. Dalam waktu dekat, mereka akan melaksanakan asistensi untuk mempercepat proses penyelidikan lintas daerah,” katanya.
Advertisement
Para Orang Tua Ketakutan
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5410923/original/030192000_1762951417-IMG_20251112_161106.jpg)
Geger aksi sindikat penculikan anak yang terjadi di Makassar, tampaknya mulai berimbas di Kabupaten Kudus, Jawa Tengah. Kini masyarakat Kudus dihantui keresahan dan khawatir, anak-anak mereka berpotensi menjadi sasaran kejahatan sindikat penculikan.
Informasi terbaru, warga Kota Kretek dihebohkan munculnya dugaan percobaan penculikan terhadap dua siswa SD dalam beberapa hari ini.
Keresahan para guru dan orang tua itu, menyusul santernya kabar yang menyebut dua siswa SDN 1 Burikan Kudus, nyaris menjadi sasaran aksi penculikan orang tak dikenal.
Tentu saja kabar tersebut langsung cepat menyebar hingga memaksa sejumlah pihak sekolah meminta orang tua meningkatkan kewaspadaan terhadap anak anak mereka.
Kabar dugaan percobaan penculikan itu pun dibenarkan oleh Kepala Sekolah SDN 1 Burikan, Ariyani Wijayanti. Ia meyakini adanya dua peristiwa mencurigakan yang terjadi pada Selasa (28/10/2025) dan Sabtu (8/11/2025) saat jam pulang sekolah.
Ariyani menyebut bahwa ada orang yang tak dikenal berupaya membujuk siswa di sekolah yang ia pimpin. Modus yang dilakukan pelaku dengan berpura-pura disuruh menjemput ibu dari kedua siswa tersebut.
“Pelaku bilang ke anaknya, ‘ayo pulang, suruh jemput mamah.’ Untung anaknya menolak dan tidak mau ikut,” ujar Ariyani saat dikonfirmasi Liputan6.com pada Rabu (12/11/2025).
Ariyani memaparkan, korban pertama yakni siswi kelas 3 berinisial A (9). Dari pengakuan A, langkahnya sempat dibuntuti oleh seseorang yang berusaha merayu mengajaknya untuk pulang dengan memboncengkan sepeda motor.
Beruntung, kata Ariyani, korban menolak ajakan orang tak dikenal tersebut. Ia tetap berjalan sendiri hingga bertemu dengan warga Desa Rendeng yang dikenalnya.
“Anaknya tetap jalan sendiri, tapi pelaku itu sempat membuntuti dari belakang. Saat ada tetangga yang menyapa anak itu, pelaku langsung menghentikan laju motornya dan berbalik arah,” terang Ariyani.
Anehnya, kejadian yang sama kembali terjadi pada Sabtu (8/11/2025) saat siang hari. Aksi percobaan penculikan juga nyaris menimpa siswa lainya berinisial R (9).
"Pelaku diduga orang yang sama, namun kali ini datang berboncengan dengan rekannya, " imbuh Ariyani.
Mengetahui kejadian itu, pihak guru SDN 1 Burikan berupaya melaporkan hal itu ke aparat Babinsa dan Polsek Kudus Kota.
Saat membuat aduan ke polisi, Ariyani juga meminta agar rekaman CCTV yang berada di sepanjang Jalan Bakti dan kawasan sekitar sekolah dicek untuk mengidentifikasi pelaku.
“Saya sudah laporan ke Babinsa, dan kemarin juga sudah datang dari Polsek. Saya minta tolong dicek CCTV di sekitar jalan itu, karena bukan wewenang saya kalau mau ngecek CCTV itu” ungkapnya.
Perketat Pengawasan
Untuk meredam keresahan warga dan para orang tua siswa, pihak SDN 1 Burikan melakukan langkah antisipasi. Yakni pihak sekolah setempat memperketat pengawasan para siswa saat jam pulang sekolah.
Selain itu, Ariyani pun meminta semua orang tua untuk menjemput anak anak mereka saat pulang sekolah secara langsung.
“Hari Sabtu itu saya langsung buat pengumuman di grup wali murid, untuk sementara anak-anak yang biasanya jalan kaki supaya dijemput dulu,” ucap Ariyani.
Rasa kekhawatiran pihak orang tua murid juga dialami Indah Susanti. Meski tidak bersekolah di SDN 1 Burikan, namun juga berimbas ke sekolah dimana anak Indah menuntut ilmu.
Santi sapaan akrabnya mengaku, isu dugaan penculikan siswa di SDN 1 Burikan juga terdampak di lingkungan sekolah anaknya yakni di Madrasah Ibtidaiyah (MI) Al Manar Kudus.
"Di sejumlah grup wali murid di sekolah putri saya, juga diimbau untuk waspada terhadap keselamatan para siswa sepulang sekolah. Hal ini buntut isu yang terjadi di SDN 1 Burikan, " terang Santi yang juga bekerja sebagai wartawati surat kabar lokal di Kudus.
Terpisah, santernya kabar dugaan penculikan anak juga sempat didengar oleh Kepala Desa Rendeng, Mohammad Yusuf. Ia mengaku memperoleh laporan dari warganya yang anaknya bersekolah di SD 1 Burikan.
Ia mendengarkan keluhan dan cerita para ibu di grup-grup WhatsApp yang ramai membicarakan dugaan percobaan penculikan tersebut.
“Saya hanya menginstruksikan kepada warga agar anggota keluarga menjemput anaknya sendiri saat pulang sekolah. Jangan biarkan anak-anak berangkat dan pulang sekolah sendirian dulu sampai situasinya benar-benar aman,” terang Yusuf.
Sementara itu, Kapolsek Kudus Kota, AKP Subkhan yang dikonfirmasi pun menegaskan bahwa hingga kini pihak kepolisian masih mendalami dan menyelidiki kebenaran laporan tersebut.
“Terkait adanya isu tentang dugaan penculikan anak di wilayah Kota Kudus, kami masih melakukan pendalaman dan penyelidikan lebih lanjut. Tim kami juga sudah kami turunkan,” ungkap AKP Subkhan.
Subkhan menyebut bahwa hingga saat ini belum ada bukti bukti yang menguatkan adanya kejadian tersebut benar-benar merupakan upaya penculikan.
“Fakta tentang penculikan itu kan juga belum terbukti benar adanya. Sehingga masih sebatas asumsi, dan asumsi itu belum bisa dipertanggungjawabkan,” terang Subkhan.
Namun Subkhan tetap melakukan langkah preventif untuk mengantisipasi keresahan masyarakat.
“Karena isu ini sudah beredar luas dan menimbulkan kekhawatiran, kami dari jajaran kepolisian sudah mengambil langkah-langkah pencegahan," tegasnya.
Tak hanya itu, pihak Polsek dan Koramil Kudus Kota telah mengerahkan aparat Babinsa dan Bhabinkamtibmas untuk memberikan pendampingan ke sekolah-sekolah, terutama saat jam-jam pulang.
AKP Subkhan juga mengimbau masyarakat dan pihak sekolah, untuk tidak mudah menyebarkan informasi yang belum terverifikasi kebenarannya.
“Kami berharap informasi seperti ini tidak berkembang menjadi seolah-olah sudah fakta kejadian. Isu semacam ini seringkali membesar padahal belum terbukti,” pinta Subkhan.
Pihak Polsek Kudus Kota juga sudah menemui pihak guru SDN 1 Burikan. Selain itu, juga memeriksa rekaman CCTV di sekitar lokasi. Hanya saja polisi belum menemukan indikasi kuat adanya tindak pidana penculikan.
“Dari penyelidikan tim kami di lapangan, setelah bertemu pihak sekolah dan mempelajari CCTV di sekitar TKP, kami belum bisa menyimpulkan bahwa itu adalah tindak pidana penculikan,” tegasnya.
Advertisement
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8715404/original/084148600_1782803575-Cek_fakta_bsu_25_juta.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8714532/original/000144500_1782797436-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-06-30T122233.633.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/7675056/original/096398500_1780469939-1000436835.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8709839/original/047593100_1782789385-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-06-30T101408.733.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/avatars/721398/original/027674400_1632628540-Screen_Shot_2021-09-26_at_11.54.50.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5408443/original/081522500_1762779609-Polisi_berhasil_ungkap_kasus_penculikan_balita_Bilqis.jpg)

:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/avatars/3884478/original/ACg8ocLi6ElW7OHVGDKlBsa6GtZL7gmP_Ob7rD3yhXnJ0oNnQBKIHq7-%3Ds200.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8256534/original/027399300_1781161052-Vertical_500x656_-_Pentas_Bola_Dunia_2026__3_.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8714917/original/028527700_1782798194-Brazil_s_Gabriel_Martinelli.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8625301/original/096522400_1782619158-000_B8K37NR.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8713141/original/058795600_1782795003-Germany_players_are_dejected.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8513256/original/026711200_1782437004-AP26176799194484.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8710893/original/011996500_1782791219-WhatsApp_Image_2026-06-30_at_10.43.26__1_.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8709002/original/001727100_1782787701-000_B8QH9N2.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8711341/original/045734100_1782792164-IMG-20260630-WA0021.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8263744/original/028849200_1781996788-AP26171656106233.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8309790/original/022314100_1782176318-000_B7XQ8ZR.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8703035/original/020989500_1782776197-IMG-20260630-WA0006.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/7814803/original/065180300_1780632434-raul-jimenez-meksiko-1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8513569/original/057945500_1782437405-063_2283345869.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8325871/original/052697300_1782195472-WhatsApp_Image_2026-06-23_at_13.16.07.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5337151/original/073124800_1756887218-Screenshot_2025-09-03_150900.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8324602/original/005172600_1782194019-WhatsApp_Image_2026-06-23_at_12.51.35.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3626139/original/051607000_1636358248-ilustrasi_penculikan.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5599610/original/021194000_1778162731-WhatsApp_Image_2026-05-07_at_20.52.04.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8262966/original/068500900_1781854872-keluarga_korban_menunjukkan_foto_terduga_pelaku_penyekapan_di_Bandung.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8258568/original/058592500_1781361837-1001372734.jpg)