Kisah Haru Dilma, Gadis 14 Tahun Rawat Ibunya yang Lumpuh dan Andalkan BLT Rp 300.000 per Bulan

Gadis itu bernama Dilma Roselva Safarini. Usianya 14 tahun. Dilma yang baru menginjak masa remaja, namun tanggung jawab yang dipikulnya begitu besar. Dia merawat sang ibu yang lumpuh karena terjatuh dari lantai 3 saat bekerja di Arab Saudi.

Diterbitkan 24 Oktober 2025, 11:01 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta Kisah inspiratif seorang gadis yang tegar. Dia tinggal di sebuah rumah sederhana di Desa Simpang Tiga, Kecamatan Mataraman, Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan.

Gadis itu bernama Dilma Roselva Safarini. Usianya 14 tahun. Dilma yang baru menginjak masa remaja, namun tanggung jawab yang dipikulnya begitu besar. 

Ibunya, Annisa Mukarramah (38), mengalami kelumpuhan akibat kecelakaan kerja di Arab Saudi empat tahun silam. Sejak saat itu, Dilma menjadi satu-satunya yang merawat dan mendampingi sang ibu setiap hari.

Setiap pagi, sebelum berangkat ke sekolah, Dilma memulai harinya lebih awal. Dia menyiapkan makanan, menyuapi ibunya, membersihkan rumah, mencuci pakaian, lalu baru bersiap mengenakan seragam sekolah. 

“Alhamdulillah, Dilma anaknya luar biasa sabar. Semua pekerjaan rumah dia lakukan sendiri. Dia menyuapi saya, memasak, mencuci, membersihkan rumah, dan tetap semangat sekolah. Saya sangat bersyukur punya anak seperti dia,” tutur Annisa dengan suara lirih, Kamis (23/10/2025).

Annisa mengaku, hidupnya berubah total sejak insiden tragis lima tahun lalu. Dia jatuh dari lantai tiga saat bekerja sebagai asisten rumah tangga di Arab Saudi. Sejak hari itu, tulang punggung serta kakinya tak lagi berfungsi normal.

Hanya Mengandalkan BLT Rp 300.000

Setiap bulan, mereka mengandalkan bantuan langsung tunai (BLT) dari pemerintah desa sebesar Rp 300.000, serta bantuan sembako dari warga sekitar.

Meski disibukkan dengan tanggung jawab di rumah, Dilma tetap berprestasi di sekolah. Ia kini duduk di bangku kelas IX Madrasah Tsanawiyah (MTs) di desanya. Sejak taman kanak-kanak hingga sekarang, ia selalu meraih peringkat pertama di kelas.

Semangat belajar Dilma tidak pernah padam. Setiap hari ia menempuh perjalanan ke sekolah dengan sepedanya. 

Di balik kesederhanaan dan perjuangannya, Dilma menyimpan satu impian besar. Cita-citanya menjadi seorang dokter. Dilma ingin hidupnya berguna menolong banyak orang, terutama ibunya.

“Saya ingin jadi dokter supaya bisa mengobati ibu, dan orang lain juga. Saya pengin ibu bisa jalan lagi,” ujarnya pelan, menunduk.

Annisa hanya bisa tersenyum mendengar cita-cita putrinya itu. “Saya selalu doakan dia. Semoga Allah kabulkan niatnya," ucapnya.