Warga Keluhkan Aktivitas Proyek Terowongan Samarinda, Getaran Bikin Rumah Retak

Aktivitas proyek terowongan Samarinda menyebabkan dinding rumah warga retak.

Diterbitkan 17 Oktober 2025, 22:08 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta Suasana di kawasan Jalan Kakap RT 19, Kelurahan Sungai Dama, Kecamatan Samarinda Ilir, mendadak riuh pada Rabu (15/10/2025) malam. Sejumlah warga berhamburan keluar rumah setelah merasakan getaran kuat yang diduga berasal dari aktivitas proyek pembangunan terowongan Samarinda.

Peristiwa yang terjadi sekitar pukul 21.00 Wita itu menimbulkan kepanikan. Warga khawatir karena guncangan terasa hingga ke dalam rumah dan diduga menyebabkan retakan baru pada lantai serta dinding. Beberapa di antaranya bahkan langsung melakukan pengecekan ke area proyek untuk memastikan sumber getaran.

Salah satu warga, Risma, menceritakan bahwa getaran terasa cukup keras hingga membuat penghuni rumah panik.

“Kami di dalam rumah tiba-tiba terasa bergetar. Waktu dicek, ternyata alat berat proyek sedang menjatuhkan beban. Batu-batu di sekitar juga ikut berguguran,” ujarnya.

Risma mengaku kejadian serupa sudah beberapa kali terjadi sejak proyek dimulai. Menurutnya, setiap kali alat berat bekerja, dinding rumahnya ikut bergetar.

“Sekarang keramik dan tembok rumah mulai retak. Kami hanya minta diperhatikan, minimal diperbaiki dulu,” keluhnya.

Menanggapi keluhan warga, Manajer Proyek Terowongan Samarinda, Billy, membantah bahwa kegiatan malam itu merupakan pekerjaan pemancangan. Ia menjelaskan, aktivitas yang berlangsung merupakan uji pondasi atau Pile Driving Analysis (PDA) Test, yang dilakukan untuk mengukur kekuatan dan kestabilan fondasi.

“Uji PDA ini metode umum di proyek besar. Kami hanya melakukan dua kali tumbukan dengan hammer seberat enam ton, dari ketinggian 30 dan 40 sentimeter,” jelas Billy.

Menurutnya, pengujian dilakukan di luar area utama terowongan, berjarak sekitar 50 meter dari rumah warga terdekat, dan hanya berlangsung sekitar tiga menit antara pukul 20.57 hingga 20.59 Wita.

“Jadi total hanya dua kali tumbukan, bukan pekerjaan rutin. Kegiatan itu sudah selesai dan tidak akan dilakukan lagi,” tegasnya.

Billy mengakui adanya ketidaknyamanan yang mungkin dirasakan warga akibat bunyi keras dan getaran. Ia pun menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat sekitar.

“Kami memahami warga terganggu karena waktunya malam hari. Kami mohon maaf sebesar-besarnya. Pengujian sudah selesai, dan tidak ada kegiatan serupa ke depan,” katanya.

Usai kejadian, tim proyek bersama perangkat kelurahan disebut melakukan pengecekan ke sejumlah rumah yang dilaporkan mengalami retak. Billy menuturkan, pihaknya sejak awal telah melakukan sosialisasi dan pendataan kondisi rumah warga di sekitar area pekerjaan sejak Mei lalu sebagai langkah antisipasi dampak konstruksi.

Untuk tahap selanjutnya, pekerjaan proyek terowongan di kawasan Sungai Dama akan berlanjut pada tahapan struktur atas dan pengecoran, tanpa lagi menggunakan metode tumbukan yang menimbulkan suara keras.

Sementara itu, warga berharap ada tanggapan cepat dari pihak proyek maupun pemerintah setempat terkait potensi kerusakan bangunan.

“Kami ingin ada perhatian. Kalau memang ada kerusakan, mohon segera diperbaiki. Jangan dibiarkan,” ucap Risma mewakili warga sekitar.

Proyek pembangunan terowongan Samarinda merupakan salah satu proyek infrastruktur strategis di kawasan Sungai Dama. Meski menuai dukungan karena dinilai penting untuk memperlancar arus transportasi, warga berharap pelaksana proyek lebih memperhatikan keselamatan dan kenyamanan lingkungan sekitar selama proses pengerjaan berlangsung.