PTDI Kembangkan Sistem Roket dan Senjata Terintegrasi

Kerja sama dengan LIG Nex1 dari Korea Selatan maupun PT SAS Aero Sishan dari dalam negeri merupakan bagian dari upaya memperluas jejaring aliansi teknologi.

Diterbitkan 05 Juli 2025, 21:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Bandung - PT Dirgantara Indonesia (PTDI) saat ini terus mengembangkan sistem roket dan senjata terintegrasi bekerja sama dengan LIG Nex1 Korea Selatan dan PT SAS Aero Sishan dari Indonesia.

Menurut Direktur Niaga, Teknologi dan Pengembangan PTDI, Moh Arif Faisal, berbagai kerja sama ini menegaskan komitmen PTDI dalam memperkuat kemandirian industri pertahanan nasional dan membangun sinergi global demi mendukung sistem pertahanan yang tangguh dan berdaya saing.

"Kerja sama dengan LIG Nex1 dari Korea Selatan maupun PT SAS Aero Sishan dari dalam negeri merupakan bagian dari upaya memperluas jejaring aliansi teknologi, membuka peluang transfer teknologi, serta memperkuat rantai pasok nasional. Dalam rangka peningkatan TKDN, kami ingin memastikan bahwa setiap langkah yang diambil dapat memberi nilai tambah bagi ekosistem industri pertahanan nasional dan berkontribusi langsung terhadap penguatan kapasitas teknologi dalam negeri," ujar Arif dalam siaran medianya ditulis Bandung, Selasa (1/7/2025).

Untuk penandatangan kerja sama dengan perusahaan pertahanan dari Korea Selatan LIG Nex1, disaksikan oleh Wakil Menteri Pertahanan Republik Indonesia, Donny Ermawan Taufanto, di JIExpo Kemayoran, Jakarta Pusat pada 12 Juni 2025 lalu.

Dalam kerja sama itu disepakati kerja sama strategis yang mencakup kegiatan joint marketing, penjualan, produksi bersama, serta integrasi sistem senjata, meliputi torpedo ringan dan rudal anti kapal selam, sonobuoy, roket berpemandu kaliber 70 mm, roket berpemandu kaliber 130 mm, serta bom berpemandu GPS Korea (Korean GPS-Guided Bomb).

"Seluruh kegiatan pemasaran dan penjualan bersama sistem senjata ini akan difokuskan di wilayah Indonesia dan kawasan Asia Tenggara (ASEAN)," kata Arif.

Perjanjian ini dikukuhkan melalui penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU), yang dilakukan secara simbolis langsung oleh Arif dan Executive Vice President Global Business Group – LIG Nex1, Paik Hyung Shik, dalam gelaran Indo Defence 2024 Expo & Forum hari kedua.

Kolaborasi ini sebut Arif, mempertegas eratnya hubungan bilateral antara Indonesia dan Korea Selatan dalam pengembangan sistem pertahanan moderen yang saling menguntungkan dan berorientasi ke masa depan.

"PTDI juga telah sepakati MoU dengan PT SAS Aero Sishan untuk pengembangan unit peluncur roket 70mm dan pengadaan roket uji, serta pengembangan, produksi, pemasaran dan pemeliharaan roket FFAR 70 mm dan Guided Rocket Merah Putih," ungkap Arif.

Kolaborasi ini diharapkan dapat meningkatkan kapabilitas integrasi sistem senjata secara lokal guna memperkuat rantai pasok industri pertahanan nasional, serta mendorong terwujudnya kemandirian alat utama sistem senjata (alutsista) Tentara Nasional Indonesia (TNI).

 

Rekam Jejak Alutsista PTDI

PTDI memiliki rekam jejak panjang dalam pengembangan roket dan telah memiliki lisensi resmi dari Thales Belgium untuk memproduksi motor rocket berkaliber 70 mm.

Sejak tahun 1985, PTDI telah berhasil memproduksi dan mengirimkan lebih dari 43 ribu unit Folding Fin Aerial Rocket (FFAR) dan Wrap Around Fin Aerial Rocket (WAFAR) 70 mm dengan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) mencapai sekitar 20-40 persen, dimana untuk kapasitas produksinya sendiri mampu mencapai 10 ribu unit per tahun.

Sedangkan untuk warhead, PTDI telah berhasil memproduksi lebih dari 40 ribu unit dengan TKDN mencapai 60-85 persen, yang kapasitas produksinya mampu mencapai 5.000 unit per tahun.

Seluruh program pengembangan roket ini dilakukan di Kawasan Produksi 3, Tasikmalaya, yang telah ditetapkan sebagai Centre of Excellence untuk munisi roket udara kaliber 70 mm dan akan terus dikembangkan dengan teknologi terbaru seperti guided rocket, anti-drone warhead dan sistem sejenis lainnya.

Dalam hal sertifikasi, pada tahun 2019 PTDI memperoleh Military Air Weapon Type Certificate (TC) dari Indonesian Defence Airworthiness Authority (IDAA) untuk beberapa komponen strategis, seperti Smoke Warhead WD-703 dan Motor Rocket RD-7010, dimana pada tahun 2021 kembali memperoleh sertifikasi yang sama untuk Motor Rocket RD-702 dan Motor Rocket RD-701.

Sertifikasi ini menjadi bukti bahwa produk roket PTDI telah memenuhi standar keamanan dan kualitas, serta layak digunakan untuk mendukung TNI dalam menjaga kedaulatan negara.

 

Kebutuhan Alutsista Indonesia

Dilansir Liputan6, alutsista merupakan komponen vital dalam sistem pertahanan negara yang memiliki peran strategis dalam menjaga kedaulatan dan keamanan nasional.

Pengembangan alutsista yang kuat dan modern menjadi kebutuhan sekaligus tantangan bagi setiap negara di tengah dinamika geopolitik global yang terus berubah.

Diperlukan strategi komprehensif yang melibatkan berbagai pemangku kepentingan untuk membangun kekuatan alutsista yang tangguh namun tetap memperhatikan aspek etika, hukum, dan kemanusiaan.

Dengan demikian, alutsista dapat menjadi instrumen efektif dalam menciptakan perdamaian dan stabilitas, bukan sebaliknya memicu konflik dan perlombaan senjata yang kontraproduktif. Secara lebih spesifik, alutsista dapat didefinisikan sebagai:

•⁠ ⁠Peralatan persenjataan utama yang digunakan oleh militer

•⁠ ⁠Sistem senjata strategis dengan teknologi canggih

•⁠ ⁠Aset pertahanan vital yang menentukan kekuatan tempur

•⁠ ⁠Komponen utama dalam strategi pertahanan negara

•⁠ ⁠Alat utama untuk menjaga kedaulatan dan keamanan nasional

Dengan definisi tersebut, dapat dipahami bahwa alutsista bukan sekedar senjata biasa, melainkan sistem persenjataan strategis dengan teknologi tinggi yang menjadi andalan kekuatan militer suatu negara.

Jenis-jenis Alutsista

Alutsista terdiri dari berbagai jenis peralatan militer canggih yang digunakan oleh masing-masing matra angkatan bersenjata. Berikut adalah beberapa jenis utama alutsista:

1.⁠ ⁠Alutsista Angkatan Darat

•⁠ ⁠Tank tempur utama seperti Leopard 2A4 dan Harimau•⁠ ⁠Kendaraan tempur infanteri seperti Marder 1A3•⁠ ⁠Artileri medan seperti CAESAR dan KH-179•⁠ ⁠Rudal darat-ke-udara seperti Starstreak HVM•⁠ ⁠Helikopter serang seperti Apache AH-64E•⁠ ⁠Kendaraan taktis lapis baja seperti Anoa dan Komodo

2.⁠ ⁠Alutsista Angkatan Laut

•⁠ ⁠Kapal perang permukaan seperti fregat dan korvet

•⁠ ⁠Kapal selam seperti kelas Nagapasa

•⁠ ⁠Pesawat patroli maritim seperti CN-235 MPA

•⁠ ⁠Kapal cepat rudal

•⁠ ⁠Sistem pertahanan pantai

•⁠ ⁠Kendaraan amfibi

3.⁠ ⁠Alutsista Angkatan Udara

•⁠ ⁠Pesawat tempur seperti F-16 dan Su-30

•⁠ ⁠Pesawat angkut militer seperti C-130 Hercules

•⁠ ⁠Helikopter serba guna

•⁠ ⁠Pesawat tanpa awak (drone)

•⁠ ⁠Rudal udara-ke-udara dan udara-ke-darat

•⁠ ⁠Sistem radar dan pertahanan udara

Selain itu, terdapat pula alutsista gabungan yang dapat digunakan oleh lebih dari satu matra, seperti sistem rudal jarak jauh, satelit militer, serta peralatan komunikasi dan pengintaian canggih.