Liputan6.com, Jambi- Datuk Gedang--sebutan lokal untuk hewan bongsor bernama Gajah Sumatera (Elephas maximus sumatrensis) masih akrab di telinga sebagian penduduk melayu Jambi yang tinggal di desa-desa dekat dengan hutan belantara. Datuk dalam idiom lokal diartikan sebagai pemimpin yang dituakan dan Gedang adalah besar.
Datuk Gedang menggambarkan sosok pemimpin besar yang disegani di rimba belantara. Namun kini keberadaanya seringkali dianggap sebagai hama. Acap kali terdengar kabar Datuk Gedang meregang nyawa di habitanya.
Kaki besarnya melangkah, mencari makan dalam setiap perjalanannya. Kisah tentang karismatik Datuk Gedang masih berlansung, namun terancam berakhir. "Gajah itu satwa liar karismatik, sekarang kondisinya sangat terdesak dan terancam," kata Annisa Rahmawati, Senior Wildlife Campaigner Geopix kepada Liputan6.com, Selasa (10/06/2025).
Advertisement
Annisa menyoroti habitat Gajah Sumatera terus menyusut drastis, khususnya di kawasan ekosistem Bukit Tigapuluh yang berada di Kabupaten Tebo, Jambi. Kawasan ini adalah salah satu dari sedikit kantong habitat "datuk gedang" yang tersisa di Sumatera.
Dalam laporan Geopix--sebuah organisasi lingkungan menyatakan kekhawatiran kelangsungan hidup populasi Gajah Sumatera yang berada di sekitar area ekosistem Bukit Tigapuluh Jambi. Di dalam laporan terbarunya, habitat Gajah Sumatera terdesak oleh PT Lestari Asri Jaya (LAJ)–-anak usaha PT Royal Lestari Utama (Michelin Grup) yang bergerak di bidang produksi ban global dan perkebunan karet.
Michelin Grup memiliki konsesi seluas 61.495 hektare melalui PT LAJ di empat kecamatan di Kabupaten Tebo, Jambi, yang berbatasan dengan Taman Nasional Bukit Tigapuluh. Geopix menuding LAJ diduga telah membabat kawasan hutan dengan keanekaragaman hayati tinggi untuk menanam karet monokultur yang tidak lestari.
Jauh sebelum kedatangan perusahaan, kawasan tersebut merupakan habitat penyangga dan koridor pergerakan gajah, yang terletak di dataran rendah. Daerah dataran rendah ini menurut Annisa, penting karena gajah tidak dapat hidup di Kawasan Taman Nasional Bukit Tigapuluh yang berbukit dan terjal.
Dalam laporan Geopix menyebut bahwa Michelin menetapkan sebagian wilayah konsesinya di Blok 4 PT LAJ sebagai Wildlife Conservation Area (WCA) atau Kawasan Konservasi Satwa Liar. Area konservasi ini diduga mereka gunakan untuk menarik investor hijau.
Tapi, temuan di lapangan menunjukkan bahwa wilayah WCA tersebut malah tidak sesuai dengan peruntukannya. Wilayah WCA kini telah banyak beralih fungsi menjadi perkebunan dan pemukiman ilegal bagi perambah yang masuk secara ilegal di kawasan tersebut, serta menjadi akses yang mudah untuk mencapai Taman Nasional Bukit Tigapuluh.
"Saat ini sudah ada lebih dari 363 bangunan dan sekitar 700 kepala keluarga tinggal di dalam area konservasi. Buruknya manajemen perusahaan tidak hanya mengancam wilayah WCA ini, tetapi juga membuka akses untuk aktivitas ilegal di Taman Nasional," kata Annisa.
Hal yang lebih mengkhawatirkan lainnya adalah pembangunan pagar kawat listrik non standar yang masif dan berpotensi mematikan di 44 titik lokasi yang diperkirakan memiliki panjang sekitar 46,6 kilometer di dalam WCA, sebuah kawasan yang diklaim sebagai rumah yang aman untuk gajah.
Seluruh pagar setrum yang dipasang secara ilegal itu Annisa bilang, bisa menghambat pergerakan gajah dan menutup aksesnya ke kawasan konservasi, serta berpotensi membunuh gajah dan satwa liar yang terancam punah serta menjadi ancaman bagi manusia.
Syahdan imbas pemasangan pagar listrik ini sangat fatal. Pada 2 Mei2024, seekor gajah Sumatera betina dengan ID kerah GPS bernama Umi, usia 30-35 tahun, berat 3,5 ton ditemukan mati di Desa Bukit Pamuatan, Kecamatan Serai Serumpun, Kabupaten Tebo.
Lokasi ditemukannya gajah masuk konsesi PT LAJ. Umi diduga mati tersengat pagar listrik yang dipasang warga untuk melindungi kebun sawit di kawasan hutan.
Annisa menyatakan untuk mengatasi krisis ini, mereka mendesak Michelin agar melenyapkan semua ancaman langsung terhadap gajah an emua pagar listrik ilegal wilayah LAJ , terutama di dalam area WCA, harus segera dibongkar.
"Gajah dan satwa liar lainnya harus diberi akses yang bebas melintasi konsesi tanpa hambatan seperti pagar, blokade, atau gangguan lainnya," kata Annisa.
Akal-akalan WCA
Kiprah Michelin di Indonesia dimulai pada 2015 melalui usaha joint venture dengan PT Barito Pacific Group dalam proyek RoyalLestari Utama (RLU). Awalnya Michelin memegang saham sebesar 49 persen. Kemudian pada Juli 2022, Michelin membeli tambahan saham sebesar 51 persen dan menjadikannya sebagai pemilik RLU sepenuhnya.
Sebelumnya pada tahun 2018, Michelin dan PT Royal Lestari Utama (RLU) menerima obligasi keberlanjutan korporasi pertama di Asia. Obligasi hijau itu senilai 95 juta USD dari Tropical Landscapes Finance Facility (TLFF).
Lewat dana obligasi hijau itu, perusahaan menghasilkan Wildlife Conservation Area (WCA) seluas 9.700 hektare untuk melindungi Gajah Sumatera. Michelin Group mengucurkan dana sebesar 5 juta euro kepada PT LAJ untuk membuat kawasan konservasi bagi gajah dan satwa liar lainnya.
Namun dalam investigasi Geopix menemukan upaya perusahaan untuk melindungi satwa liar karismatik dari ancaman tersebut tidak serius. Selama lebih dari lima tahun sejak WCA dicanangkan sebagian besar pagar listrik masih beroperasi dan menjadi ancaman bagi gajah, satwa liar lainnya, dan bahkan manusia.
Dari 9.700 hektare lahan yang dialokasikan oleh LAJ/RLU untuk area konservasi, hasil anilisis Geopix, kini hanya tersisa sekitar 1.723 hektare. Luasan yang teris in jauh dari cukup untuk menjadi habitat layak bagi gajah dan satwa liar lainnya.
Yang lebih mengkhawatirkan lagi, hasi investigasi Geopix di lokasi WCA menemukan sekitar 44 titik lokasi pagar listrik yang diperkirakan panjangnya mencapai 46,6 kilometer. Selain itu, termuan mereka juga menunjukkan tutupan hutan di sekitar kawasanPT. RLU/LAJ, terutama Blok IV terus berkurang.
Kawasan ini merupakan habitat inti dan koridor pergerakan gajah yang berbatasan langsung dengan Taman Nasional Bukit Tigapuluh. Deforestasi meluas dari waktu ke waktu, sehingga mengancam upaya konservasi.
Fakta-fakta tersebut kata Annisa, menunjukkan bahwa praktik bisnis PT RLU/LAJ jauh dari klaim Michelin sebagai perusahaan karet “berkelanjutan” dan label “hijau” seperti yang selama ini mereka gembar-gemborkan.
"WCA hanya menjadi akal-akalan, hanya greenwashing. Praktik bisnis karet Michelin jauh dari klaim perusahaan karet berkelanjutan dan label 'hijau' seperti yang selama ini mereka gembar-gemborkan," ujar Annisa.
Annisa menilai, korporasi lalai dan membiarkan area konverasi WCA dirambah. Annisa bilang, dari pengakuan perusahaan selama dua tahun hanya 2 kilometer pagar listrik yang dibongkar.
“Saat ini Gajah Sumatera yang masih bertahan di Ekosistem Bukit Tigapuluh tidak lebih dari 120 ekor. Tanpa langkah konkret, cepat dan tegas dari Michelin, maka hutan dan satwa liar karismatik ini makin menghadapi ancaman serius," kata Annisa.
Advertisement
Tanggapan Perusahaan
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5253686/original/034353400_1750056915-D.1._Gajah_Sumatera.jpg)
Liputan6.com menghubungi Karmila Parakkasi, Chief Sustainability PT Royal Lestari Utama (Michelin Grup). Dia lalu meneruskan daftar pertanyaan wawancara ke bagian komunikasi.
Dalam peryataan resmi yang dikirimkan lewat surat elektronik, manajemen PT Royal Lestari Utama (RLU) yang menaungi PT Lestari Asri Jaya menyatakan, perusahaan berkomitmen terhadap keberlanjutan. Mereka menegaskan tanggung jawab dalam melindungi satwa liar, khususnya Gajah Sumatera, serta menjaga keseimbangan antara konservasi lingkungan dan kesejahteraan masyarakat setempat.
Perseroan memahami bahwa pemasangan pagar listrik oleh masyarakat setempat merupakan respons langsung terhadap konflik manusia-satwa liar yang signifikan dan terus berlanjut.
Menyikapi hal ini, perusahaan menyatakan secara aktif berkomunikasi dengan masyarakat yang terdampak untuk memahami kekhawatiran mereka secara menyeluruh, dan pada saat yang sama berusaha secara kolaboratif mengidentifikasi solusi yang memprioritaskan perlindungan satwa liar.
Dalam dua tahun terakhir, kami telah memfasilitasi dialog dengan kelompok masyarakat, lembaga pemerintah, dan organisasi konservasi, termasuk pertemuan koordinasi dengan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK). Kami juga mendorong keterlibatan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) sebagai pihak yang memiliki kewenangan untuk menangani masalah ini, termasuk upaya pembongkaran pagar listrik yang dipasang oleh masyarakat.
"Kami berkomitmen untuk menjalankan proses dengan pendekatan yang partisipatif dan melibatkan semua pihak yang relevan, dan kami meyakini bahwa kolaborasi dari semua pihak adalah kunci untuk mencapai perlindungan yang berkelanjutan terhadap hutan dan satwa liar di ekosistem Bukit Tigapuluh," demikian peryataan tertulis PT RLU (Michelin Grup).
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3267613/original/079814300_1602679710-Kejahatan_Siber.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8471519/original/070085400_1782374653-Tugas__40_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8519902/original/067689300_1782446978-Tugas__41_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8262299/original/014349800_1781777647-Tugas__37_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/avatars/1894370/original/018972000_1642228862-user-default.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5253684/original/015310400_1750056912-Screenshot__8_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/1372311/original/007667900_1476321317-jambi.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/avatars/827404/original/069659300_1510203910-WhatsApp_Image_2017-11-09_at_12.04.27.jpeg)

:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8256534/original/027399300_1781161052-Vertical_500x656_-_Pentas_Bola_Dunia_2026__3_.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8615608/original/002262500_1782601852-063_2283621934.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8389880/original/043940700_1782270022-AP26174722689391.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8615223/original/052059800_1782601281-063_2283624238.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8392528/original/081634600_1782272943-000_B83Z88V.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8553933/original/032729600_1782499706-uzbek_2.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8615333/original/040722200_1782601521-000_B8JQ6V9.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5540213/original/078998400_1774689981-AP26086742238879.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8261027/original/025366000_1781675161-AP26168084988387.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8261062/original/073105300_1781677236-063_2281989496.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8331592/original/085679400_1782201838-mesir.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8263929/original/069841500_1782033777-portugal.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8277249/original/089288200_1782131946-282278.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/7588387/original/006282600_1780370403-WhatsApp_Image_2026-06-02_at_10.08.06.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5619849/original/058467000_1778208539-kemenkes.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5596584/original/071445200_1778157110-bgs__4_.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5594343/original/074960900_1778153185-Rudi.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3432220/original/050867700_1618724332-hush-naidoo-yo01Z-9HQAw-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5572373/original/049279200_1777797062-Screenshot_2026-05-03_142344.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4918851/original/038381300_1723699040-WhatsApp_Image_2024-08-15_at_12.14.20.jpeg)