Melestarikan Budaya Betawi Condet Lewat Gebyar UMKM

Tak dapat dipungkiri, eksistensi tradisi, kuliner, dan budaya Betawi Arab Condet mulai memudar di tengah masyarakat yang kian modern. Diperlukan kolaborasi apik untuk mengenalkan kembali budaya Betawi Condet.

Diperbarui 03 Juni 2025, 10:15 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Siapa yang tidak kenal Condet? Bagi masyarakat yang tinggal Jakarta, wilayah Condet sudah tidak asing lagi di telinga mereka. Di tengah hiruk-pikuk modernisasi Jakarta, Condet masih terus eksis sebagai salah satu pusat budaya yang memadukan kekayaan warisan tradisi Betawi dan Timur Tengah.

Terletak di Jakarta Timur, kawasan ini dikenal dengan tradisi kuliner khas seperti dodol Betawi dan bir pletok, serta keberadaan komunitas keturunan Arab yang memperkaya keragaman budaya lokal. Namun, di balik potensi budaya dan ekonomi yang melimpah, Condet menghadapi tantangan serius, yakni makin dilupakan oleh generasi muda.

Untuk menjawab tantangan itu, mahasiswa Institut Komunikasi dan Bisnis LSPR Jakarta, menggelar acara bertajuk 'Gebyar UMKM Condet'. Mahasiswa Batch 26 Jurusan Komunikasi Kelas PRDC 1 SP ini yakin, melalui acara Gebyar UMKM Condet, mahasiswa dapat mewujudkan pengembangan UMKM berbasis pelestarian budaya Betawi di tengah masyarakat yang semakin modern.

Acara yang digelar di Balai Budaya Condet, Jakarta Timur, Minggu (1/6/2025) lalu itu tak hanya mendorong eksistensi budaya Betawi Condet, namun juga mendukung pertumbuhan ekonomi mikro berkelanjutan.

"Kolaborasi mahasiswa dan komunitas seperti ini sangat penting buat menguatkan ekonomi warga sekaligus menjaga budaya lokal. Acara Gebyar UMKM Condet benar-benar membantu kami Kelompok Sadar Wisata atau Pokdarwis untuk terus menghidupi potensi wilayah kami," ujar Ketua Pokdarwis Condet, Dicky Argansuri.

Dalam kesempatan yang sama, Camat Kecamatan Kramat Jati, Mujiono menyampaikan, inisiasi acara oleh para mahasiswa LSPR untuk menjaga budaya lokal, diharapkan tidak hanya berhenti pada acara ini saja namun terus berlanjut dalam bentuk kolaborasi yang berkelanjutan.

"Jadi keberadaan teman-teman dari London School of Public Relations ini saya pikir sangat bagus, harapan saya selain kolaborasi ini jangan sampai disini saja, kita juga bisa bersinergi dalam banyak bentuk hal seperti kajian literatur, yang pastinya tentang kebudayaan Betawi secara spesifik ataupun DKI Jakarta secara general. Apalagi Jakarta sudah dicanangkan sebagai Kota Global," katanya.

Sementara itu, Dosen Ilmu Komunikasi Institut Komunikasi dan Bisnis LSPR Jakarta, Rizka Septiana mengatakan, pihak kampus sangat bangga dengan inisiasi para mahasiswanya karena telah menggagas acara ini.

"Saya bangga dengan mahasiswa Ilmu Komunikasi LSPR, khususnya PRDC 1 SP, yang berhasil menerapkan teori komunikasi ke dalam praktik nyata lewat program Gebyar UMKM Condet. Mereka mampu berkolaborasi, berpikir strategis, dan menciptakan kampanye yang berdampak bagi masyarakat, itulah esensi dari pembelajaran komunikasi yang sebenarnya," katanya.

Kolaborasi Jadi Jawaban

Tak dapat dipungkiri, eksistensi tradisi, kuliner, dan budaya Betawi Arab Condet mulai memudar di tengah masyarakat yang kian modern. Kegiatan seni tradisional seperti tari ondel-ondel, serta arsitektur rumah tradisional Betawi, semakin jarang ditemukan.

Warisan budaya yang menjadi identitas kawasan Condet juga perlahan memudar seiring dengan modernisasi yang berdampak pada pudarnya usaha berbasis budaya lokal.

Kurangnya pelestarian dan promosi budaya ini berpotensi menghilangkan identitas khas Condet sebagai kawasan multikultural. Mengatasi permasalahan tersebut, diperlukan sinergi antara mahasiswa, masyarakat, pelaku usaha, dan pemerintah, guna meningkatkan visibilitas dan daya tarik Condet.

Condet memiliki peluang besar untuk mengembangkan ekosistem yang menggabungkan promosi UMKM dengan pengenalan budaya lokal. Gebyar UMKM Condet yang menghadirkan 10 UMKM terpilih yang menyajikan berbagai kuliner khas Betawi menjadi langkah awal bentuk kolaborasi.

Tak hanya gelar UMKM, pembukaan palang pintu, pertunjukkan tari tradisional oleh talenta-talenta lokal, serta pertunjukkan pembuatan emping menjadikan acara Gebyar UMKM Condet penuh dengan pengenalan budaya Condet.

 

UMKM Lokal

UMKM lokal yang sebagian besar bergerak di sektor kuliner dan kerajinan tangan masih kesulitan menjangkau pasar yang lebih luas, terutama karena keterbatasan dalam pemasaran offline.

Kondisi ini menuntut langkah konkret untuk membangkitkan kembali semangat pelestarian budaya dan pemberdayaan ekonomi lokal. Melalui sinergi antara mahasiswa, masyarakat, pelaku usaha, dan pemerintah, Condet memiliki peluang untuk menjadi contoh sukses dalam mengintegrasikan pelestarian budaya dengan pengembangan ekonomi kreatif.

UMKM di Condet yang sebagian besar bergerak di sektor kuliner dan kerajinan tangan, saat ini lebih mengandalkan pemasaran melalui platform digital. Namun, dominasi pemasaran online ini belum mampu memberikan eksposur yang memadai secara offline.

Dalam mengatasi tantangan ini, diperlukan upaya kolaboratif antara berbagai pihak. Pemerintah daerah dapat memainkan peran penting dalam menyediakan fasilitas dan dukungan bagi UMKM, seperti penyelenggaraan festival budaya dan bazar lokal.

Disisi lain, pelaku usaha dan masyarakat juga perlu berinovasi dalam memasarkan produk mereka, baik secara online maupun offline, serta aktif dalam kegiatan pelestarian budaya lokal.

Dengan mengintegrasi antara pengembangan UMKM dan pelestarian budaya lokal. Langkah-langkah strategis seperti penyelenggaraan festival budaya, pelatihan pemasaran bagi pelaku UMKM, dan revitalisasi ruang publik berbasis budaya dapat menjadi solusi untuk membangkitkan kembali semangat kebudayaan dan ekonomi di Condet. Dalam mengoptimalkan potensi Condet sebagai simpul budaya dan ekonomi mikro, diperlukan sinergi antara pemerintah, komunitas kreatif, dan masyarakat.

Pemprov DKI Jakarta, melalui Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Disparekraf), dapat mendukung penyelenggaraan festival budaya dan pelatihan bagi pelaku UMKM.

Pelestarian budaya dan pemberdayaan UMKM bukanlah tugas besar yang hanya dapat dilakukan oleh pemerintah atau lembaga besar. Sebaliknya, langkah kecil yang dilakukan secara konsisten dan kolaboratif oleh mahasiswa, masyarakat, pelaku usaha, dan pemerintah dapat membawa perubahan signifikan. Dengan demikian, langkah kecil ini dapat menjadi pijakan besar untuk revitalisasi kawasan bersejarah Jakarta lainnya, seperti Setu Babakan misalnya.