Alasan Orang Betawi Piawai dalam Berpantun

Pewarisan tradisi berpantun yang lebih intensif berlangsung di dalam keluarga. Latar aktivitas orang tua mereka biasanya berkaitan erat dengan budaya Betawi, seperti seniman, pesilat atau jawara, hingga budayawan.

Diterbitkan 02 Juni 2025, 01:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Masyarakat Betawi terkenal dengan celetukan humorisnya yang disajikan melalui pantun. Hingga kini, masyarakat Betawi dicap sebagai kelompok masyarakat penutur pantun yang ulung.

Mengutip dari laman Seni & Budaya Betawi, budaya pantun di lingkungan orang Betawi telah menyebar dan merata ke seluruh stratifikasi sosial, mulai dari golongan alim ulama, nelayan, petani, orang berpendidikan, jawara, hingga anak-anak. Hal inilah yang membuat eksistensi pantun terus terjaga hingga menjadi identitas yang sangat melekat dengan orang-orang asli ibu kota.

Pewarisan tradisi berpantun yang lebih intensif berlangsung di dalam keluarga. Latar aktivitas orang tua mereka biasanya berkaitan erat dengan budaya Betawi, seperti seniman, pesilat atau jawara, hingga budayawan.

Kemampuan berpantun tak hanya dilatih di atas panggung, melainkan juga dalam berbagai kesempatan bersantai dan berkumpul bersama sesama seniman. Mereka juga telah terbiasa membaca bait demi bait pantun yang ditulis pada banner, kertas, stereoform, maupun spanduk yang dipasang di dinding sanggar atau di tempat pertunjukan.

Tak hanya sebagai hiburan, masyarakat Betawi juga menganggap pantun betawi memiliki fungsi budaya yang tak pernah bisa ditinggalkan. Tak hanya oleh seniman, pantun juga kerap menjadi senjata khusus bagi pembawa acara hingga penceramah untuk menghidupkan suasana, menanamkan nilai-nilai kebaikan, hingga menjadi media untuk saling mengakrabkan diri.

 

Spontan

Pantun dari orang-orang Betawi memiliki ciri khas ekspresi yang spontan. Spontanitas ini membuat pantun bisa masuk ke beragam acara kesenian di Betawi, salah satunya tradisi palang pintu.

Pantun ala Betawi juga terkenal dengan isinya yang lekat dengan nasihat, ajaran moral, serta etika sopan santun dan adab. Tak jarang, pantun juga memuat kritik sosial di dalamnya.

Telah bersanding dengan kehidupan masyarakat Betawi sejak dulu, pantun bagi orang Betawi dianggap sebagai representasi dinamika kehidupan sosial budaya dan sejarah masyarakat Betawi. Dari sanalah, keterikatan antara budaya berpantun dengan masyarakat Betawi semakin lama terasa semakin erat.

Penulis: Resla