Mengenal Kepel, Flora Identitas Yogyakarta yang Kaya Manfaat

Sejak dulu, para putri keraton memanfaatkan buah kepel sebagai penghilang bau badan dan pewangi badan. Buah ini juga dipercaya sebagai salah satu sarana kontrasepsi (KB).

Diterbitkan 01 Juni 2025, 16:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Yogyakarta - Buah kepel (Stelechocarpus burahol) merupakan flora identitas yang ditetapkan untuk Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Konon, putri-putri keraton memanfaatkan buah ini untuk berbagai hal di bidang kecantikan.

Mengutip dari laman Dinas Kebudayaan DIY, nama kepel merujuk pada ukuran buahnya yang hanya sebesar kepalan tangan orang dewasa. Namun dalam buah berukuran kecil ini, terdapat nilai filosofi  yang adiluhung. Buah kepel melambangkan kesatuan dan keutuhan mental serta fisik.

Sejak dulu, para putri keraton memanfaatkan buah kepel sebagai penghilang bau badan dan pewangi badan. Buah ini juga dipercaya sebagai salah satu sarana kontrasepsi (KB).

Berbagai manfaat kecantikan tersebut membuat buah kepel digemari para putri keraton. Manfaat lain buah kepel dipercaya dapat melancarkan buang air kecil, sehingga mencegah inflamasi ginjal.

Tak hanya dagingnya, daunnya juga dimanfaatkan sebagai obat untuk mengurangi asam urat. Saat dikonsumsi sebagai lalap, daun kepel dipercaya mampu menurunkan kadar kolesterol.

Fakta lain yang cukup menarik pada buah kepel adalah akar, biji, dan buahnya mengandung saponin, flavonoida, serta polifenol yang sangat bermanfaat bagi tubuh. Saat ini, buah kepel dikenal sebagai obat herbal untuk membersihkan darah, serta menguatkan liver, paru-paru, dan ginjal.

Selain di Yogyakarta, pohon kepel juga tersebar di berbagai provinsi di Indonesia. Selain dikenal dengan nama kepel, pohon ini juga memiliki nama lain, seperti pohon kecindul, simpol, burahol, dan turalok.

Sementra dalam bahasa inggris, tumbuhan ini dikenal dengan nama kepel apple. Buah ini dapat tumbuh dan tersebar di kawasan Asia Tenggara, Solomon, hingga Australia.

 

Rasa Manis

Kepel terkenal memiliki rasa manis. Daging buahnya berwarna agak kekuningan hingga kecokelatan. Biji buahnya berukuran cukup besar.

Umumnya, pohon kepel tumbuh di dataran rendah hingga ketinggian 600 mdpl. Pohon ini dapat tumbuh hingga setinggi 25 meter dengan diameter 40 sentimeter.

Kepel memiliki kulit dengan tekstur berupa benjolan. Tekstur tersebut disebabkan oleh bekas tumbuhnya buah dan bunga. Buah dan bunga pohon kepel tidak tumbuh di ranting ataupun dahan, melainkan pada batang pohon.

Daun pohon kepel berbentuk memanjang atau lonjong meruncing dengan panjang 12-27 sentimeter dan lebar 5-9 sentimeter. Adapun bunganya yang berjenis bunga tunggal terkenal beraroma harum.

Bunga jantan terdapat pada bagian atas atau cabang yang tua. Bunga ini bergerombol sebanyak delapan sampai 16 bunga. Sementara bunga betina hanya terdapat di bagian bawah pohon.

Buah kepel berbentuk bulat dan lonjong dengan bagian ujung meruncing. Warnanya cokelat agak keabu-abuan dan berubah menjadi cokelat tua seiring bertambahnya usia.

Pohon kepel dipercaya sebagai pohon keraton yang hanya pantas di tanam di kawasan istana saja. Hal ini membuat eksistensinya semakin memudar.

Buah kepel ditetapkan sebagai flora identitas DIY menurut Keputusan Gubernur Kepala DIY No. 385/KPTS/1992. Saat ini. pohon langka tersebut dapat ditemui di kawasan Keraton Yogyakarta, Taman Kyai Langgeng Magelang, Kebun Raya Bogor, dan Universitas Gadjah Mada (UGM). Awetan tumbuhan atau herbarium buah kepel juga terdapat di Museum Biologi UGM.

Penulis: Resla