Liputan6.com, Jakarta - Tanjidor adalah sebuah bentuk orkes musik tradisional yang khas berasal dari kebudayaan Betawi, yang tumbuh dan berkembang di wilayah Jakarta dan sekitarnya.
Musik ini memiliki sejarah yang cukup panjang dan menarik, karena akar kemunculannya bermula sejak abad ke-18, ketika Hindia Belanda masih menjadi koloni Eropa. Istilah tanjidor sendiri diyakini berasal dari kata Belanda dansjdoer atau dansjduur yang berarti pengiring dansa atau musik dansa.
Seiring waktu, istilah ini kemudian diserap ke dalam bahasa Betawi dengan pengucapan dan nuansa lokal hingga menjadi tanjidor. Pada awalnya, tanjidor dimainkan oleh budak-budak yang berada di bawah kekuasaan tuan-tuan tanah Belanda di Batavia.
Advertisement
Budak-budak ini diajarkan memainkan alat musik tiup seperti klarinet, trombon, terompet, dan seruling, serta alat musik ritmis seperti drum dan simbal, demi menghibur majikan mereka dalam berbagai pesta dan kegiatan sosial lainnya.
Uniknya, meskipun berasal dari konteks kolonialisme yang sarat tekanan dan penindasan, tanjidor justru berkembang menjadi ekspresi budaya yang kemudian diadopsi dan dimodifikasi oleh masyarakat Betawi hingga menjadi salah satu ikon musik tradisional mereka.
Ketika masa perbudakan dihapuskan dan kehidupan masyarakat Betawi mulai berkembang lebih bebas, tanjidor pun ikut mengalami pergeseran fungsi dan makna. Musik yang sebelumnya bersifat eksklusif bagi kalangan elite Eropa ini justru berubah menjadi bagian dari perayaan rakyat, khususnya masyarakat Betawi pinggiran yang memeluk nilai-nilai kebersamaan dan keguyuban.
Para mantan budak yang telah terlatih memainkan alat-alat musik tersebut kemudian membentuk kelompok-kelompok tanjidor yang keliling dari satu kampung ke kampung lain, mengiringi berbagai macam acara seperti pernikahan, khitanan, penyambutan tamu agung, hingga ritual-ritual keagamaan dan kegiatan kebudayaan.
Dalam suasana seperti inilah tanjidor menemukan bentuknya yang khas dan melekat kuat dalam identitas Betawi. Lagu-lagu yang dimainkan oleh orkes tanjidor tidak lagi murni berasal dari repertoar Eropa klasik, tetapi telah berbaur dengan lagu-lagu lokal, bahkan seringkali diwarnai dengan lagu-lagu keroncong, gambang kromong, dan mars-mars yang bersifat rakyat.
Akar Tradisi
Inilah yang membuat tanjidor begitu unik sebuah perpaduan yang hidup antara pengaruh barat dan lokalitas nusantara, menjadikannya sebagai simbol transformasi budaya yang dinamis.
Secara musikal, tanjidor memainkan musik dengan format orkes tiup dan perkusi, mirip dengan brass band dalam tradisi Eropa, namun dengan warna bunyi yang khas karena adanya penyesuaian teknik permainan serta pilihan lagu yang lebih dekat dengan budaya Betawi.
Alat-alat musik yang digunakan umumnya meliputi klarinet, trombon, terompet, tuba, drum, simbal, dan kadang-kadang ditambah dengan alat musik lokal seperti kecrek atau tamborin. Repertoar lagu yang dimainkan pun kini sangat bervariasi, mulai dari lagu-lagu lawas peninggalan kolonial hingga lagu-lagu modern yang diaransemen ulang dengan gaya tanjidor.
Meskipun begitu, esensi utama dari musik tanjidor adalah semangat kolektivitas dan hiburan, sehingga penampilannya cenderung meriah dan menggugah semangat pendengar.
Tak jarang tanjidor dimainkan secara berbaris sambil berjalan, mengiringi arak-arakan atau karnaval kampung yang semarak, membuatnya tidak hanya menjadi tontonan musikal, tetapi juga peristiwa sosial yang mempererat hubungan antarwarga.
Dalam konteks ini, tanjidor menjadi lebih dari sekadar musik, melainkan juga medium komunikasi budaya dan ekspresi komunal masyarakat Betawi. Dalam beberapa festival kebudayaan Betawi, tanjidor masih rutin ditampilkan sebagai atraksi utama yang menggambarkan semangat dan keceriaan masyarakat Betawi.
Harapan ke depan, tanjidor tidak hanya dikenang sebagai artefak masa lalu, tetapi dapat terus hidup dan berkembang dalam bentuk-bentuk baru yang tetap menghormati akar tradisinya. Dengan begitu, tanjidor akan tetap menjadi suara khas dari jantung budaya Betawi yang berdetak di tengah arus perubahan zaman.
Penulis: Belvana Fasya Saad
Advertisement
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8262299/original/014349800_1781777647-Tugas__37_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5226996/original/003118400_1747799527-Putin.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8528276/original/060137100_1782459682-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-06-26T143742.924.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/avatars/1570395/original/080643100_1517852629-cropped1750759915.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4594221/original/051991900_1696136110-20231001-Hari-Kesaktian-Pancasila-Arbas-3.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/avatars/827404/original/069659300_1510203910-WhatsApp_Image_2017-11-09_at_12.04.27.jpeg)

:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8256534/original/027399300_1781161052-Vertical_500x656_-_Pentas_Bola_Dunia_2026__3_.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8581680/original/086573300_1782542126-AP26178050808259.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8208033/original/056349800_1781066890-063_2280813255.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8293308/original/041888100_1782155517-AP26173640031261.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8322380/original/064889600_1782191323-063_2282870058.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8578726/original/087210500_1782537285-063_2283517405.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8578725/original/075292300_1782537284-063_2283517529.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8513111/original/058658300_1782436597-063_2283345627.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8261509/original/095684300_1781725548-RD_Kongo_s_Yoane_Wissa.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8574835/original/057277000_1782531340-AP26177858339524.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8560483/original/094482200_1782508278-000_B8GH2KY.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8263769/original/046217200_1782009540-Jeremy_Doku.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8264183/original/033782000_1782097869-063_2282689980-Timnas_Mesir_vs_Selandia_Baru.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5573439/original/045877600_1777899642-Pramono_Kantor.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5555758/original/019772600_1776216659-ketoprak_1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5525208/original/023013900_1773034243-Pramono_Sampah.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4831229/original/064688900_1715669949-resep-es-selendang-mayang-asli-betawi-yang-manis-dan-segar17-ezgif.com-webp-to-jpg-converter.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4380351/original/053669000_1680414292-Permintaan-Dodol-Betawi-Meningkat-Dua-Pekan-Jelang-Lebaran-2023-merdeka-8.jpg)