Kebakaran Bromo Tembus 899 Hektare, Tim Pemadam Gempur Titik Api Tersisa

Kebakaran hutan dan lahan yang melanda kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) telah menghanguskan area seluas 899,35 hektare.

Diterbitkan 11 Agustus 2026, 18:54 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Banyuwangi - Kebakaran hutan dan lahan yang melanda kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) telah menghanguskan area seluas 899,35 hektare hingga Selasa, (11/8/2026). Meski mayoritas titik api berhasil dikendalikan, operasi pemadaman berskala besar terus digencarkan untuk menumpas sisa kobaran api yang mengancam vegetasi tersisa.

​Komandan Sektor Penanganan Karhutla TNBTS sekaligus Danrem 083/Baladhika Jaya, Kolonel Inf Wahyu Ramadhanus Suryawan, menegaskan bahwa penanganan di lapangan dilakukan secara terintegrasi dengan melibatkan lintas sektor—mulai dari kementerian terkait, TNI, Polri, hingga empat pemerintah kabupaten lintas batas (Probolinggo, Pasuruan, Malang, dan Lumajang).

​"Kebakaran yang bermula sejak 3 Agustus ini diperkirakan telah berdampak pada lahan seluas 899,35 hektare. Fokus intervensi saat ini adalah mengunci dan memadamkan sisa titik api aktif agar tidak meluas ke area vegetasi baru," ujarnya, Selasa (11/8/2026).

​Saat ini, konsentrasi pemadaman terbagi di tiga zona utama. Yaitu sektor Watangan 817,34 hektare, Sektor Dingklik, Pakis Bocil dan Mungal 56,65 hektare, dan Sektor Argowulan 25,39 hektare.

Kata dia, ​penanggulangan di lapangan menghadapi tantangan alam yang tidak mudah. Selain tiupan angin kencang dan cuaca kering khas musim kemarau, jarak pandang menjadi hambatan paling krusial bagi tim pemadam udara.

​"Hari ini kami mengoptimalkan dua unit helikopter untuk operasi water bombing dari sebelumnya tiga unit. Penyesuaian ini harus dilakukan mengingat kabut tebal kerap membatasi visual pilot helikopter di udara,"tambahnya

​Menariknya, hasil analisis awal mengindikasikan bahwa potensi kebakaran akibat faktor murni alamiah relatif kecil. Sebab, kawasan Bromo masih memiliki tingkat kelembapan vegetasi tertentu meski berada di tengah musim kemarau.

​Guna mencegah munculnya titik api baru (re-ignition), Posko Terpadu di bawah komando Dandim 0820/Probolinggo Letkol Inf Ribut Yodo Aprianto telah merancang skenario antisipasi lanjutan.

Langkah ini mencakup penyiapan patroli terpadu secara berkala, penempatan (stasioning) personel gabungan di titik-titik rawan, hingga penguatan manajemen informasi publik secara transparan.

Â