Pentingnya Orang Tua Mengenal Karakteristik Anak Generasi Z

Generasi Z sangat rentan terhadap tekanan sosial dan emosional, terutama karena pengaruh media sosial yang begitu besar dalam kehidupan sehari-hari yang memicu memicu fenomena Fear of Missing Out (FOMO).

Diterbitkan 23 Mei 2025, 09:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Yogyakarta - Pakar Psikologi Klinis dari FKKMK UGM Yayi Suryo Prabandari menjelaskan soal karakteristik generasi Z ini lebih optimistis dibandingkan generasi sebelumnya karena sangat percaya diri dan memiliki ambisi besar. Namun, beberapa perlu disadarkan tentang kemampuan dalam pengolahan emosi Generasi Z agar tidak berdampak pada kesehatan mental mereka.

“Orang tua perlu membimbing anak dengan benar sesuai karakteristiknya,” ujarnya dalam seminar parenting yang diinisiasi oleh Persatuan Orang Tua Mahasiswa (POTMA) Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mada (UGM) bertajuk “Membangun Karakter Tangguh Generasi Z” di Hotel UC UGM, Minggu (11/5/2025).

Yayi mengatakan di bidang pendidikan, Generasi Z memiliki preferensi sendiri terhadap metode belajar yang personal, interaktif, dan berbasis teknologi. Generasi ini tidak tertarik pada metode ceramah konvensional dan lebih menyukai penggunaan Learning Management System (LMS), video interaktif, hingga platform digital menjadi media yang efektif dalam pembelajaran mereka. “Jadi, salah satu kajian menunjukkan bahwa Generasi Z lebih suka pembelajaran berbasis grafik, tidak suka lecture. Kalau dosennya ngomongnya monoton menurutnya itu membosankan. Jadi mereka senang feedback dan lebih suka belajar yang di-custom,” jelas Yayi.

Yayi menyebut pentingnya memahami bahwa anak generasi Z ini tidak hanya ingin ‘menjadi seperti orang tua mereka’, tetapi mencari jati diri dan jalan mereka sendiri. Sehingga orang tua tidaklah membandingkan masa lalu dengan masa kini, melainkan mencoba memahami realitas dan tantangan yang dihadapi anak-anak saat ini. “Orang tua mahasiswa-mahasiswi, memang kita perlu bersabar dengan generasi setelah kita. Oleh karena itu, bapak-ibu perlu penyesuaian. Namun, seperti yang saya sampaikan tadi, generasi Z sebenarnya senang diajak komunikasi, dan lebih baik dilakukan dengan cara diskusi dan dialog,” ujarnya.

Ketua POTMA Fakultas Peternakan UGM, Cossa Rusmala Dewi Tamia, menyatakan bahwa orang tua mahasiswa perlu mendapat pengetahuan yang mendalam soal pendampingan terhadap anak terutama Generasi Z selama menempuh studinya di pendidikan tinggi. “Kami meyakini bahwa pemberdayaan orang tua akan berkontribusi pada kesuksesan mahasiswa dan melahirkan generasi muda yang lebih siap dalam menghadapi masa depan,” katanya.

R. Ahmad Romadhoni Surya Putra, Wakil Dekan Bidang Akademik dan Kemahasiswaan Fapet UGM mengapresiasi inisiatif dari POTMA menyelenggarakan seminar parenting. Ia sepakat bahwa persoalan kesehatan mental saat ini menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi proses belajar mahasiswa. “Kita berharap dari seminar ini nantinya para orang tua juga dapat belajar bagaimana caranya untuk bisa ikut mendampingi dan mendorong semangat belajar anak-anaknya,” ujar Ahmad.