Manis Gurih Nopia, Kue Tradisional Purbalingga Menggugah Rasa

Nopia telah ada sejak zaman kolonial Belanda dan hingga kini masih eksis, mempertahankan bentuk, bahan dasar, dan cara pembuatannya yang tradisional

Diterbitkan 05 Mei 2025, 15:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Di tengah keberagaman kuliner Nusantara, Nopia menjadi salah satu kue tradisional yang memiliki daya tarik tersendiri, khususnya bagi masyarakat Jawa Tengah. Nopia adalah camilan khas yang berasal dari wilayah Banyumas, terutama dikenal dari daerah Purbalingga.

Kue ini memiliki bentuk yang bulat dan padat seperti bola kecil, dengan bagian luar yang keras, namun di balik kulitnya tersimpan kejutan rasa yang khas dengan isian gula merah manis dan gurih.

Kekayaan cita rasa tersebut membuat Nopia tidak hanya menjadi makanan ringan yang dinikmati sehari-hari, tetapi juga menjadi oleh-oleh ikonik yang selalu diburu oleh wisatawan maupun perantau yang merindukan kampung halaman.

Dalam konteks sejarahnya, Nopia telah ada sejak zaman kolonial Belanda dan hingga kini masih eksis, mempertahankan bentuk, bahan dasar, dan cara pembuatannya yang tradisional. Keunikan teknik panggangnya yang menggunakan tungku tanah liat menambah keaslian dan kekhasan rasa yang tidak bisa ditiru oleh oven modern sekalipun.

Nopia dibuat dari adonan utama tepung terigu yang diuleni dengan air dan sedikit minyak, kemudian dibentuk bulat menyerupai bola, diisi dengan adonan gula merah yang telah dicampur dengan bahan-bahan seperti kelapa parut atau wijen, tergantung variasi.

Gula merah yang digunakan bukanlah sembarang gula, melainkan gula kelapa berkualitas tinggi yang memberikan rasa manis alami dengan sentuhan aroma khas. Proses pemanggangan Nopia dilakukan dengan cara tradisional yang unik, yaitu dengan menempelkannya di dinding tungku panas (mirip dengan teknik memasak roti naan di India), sehingga permukaan luarnya menjadi keras dan sedikit gosong, namun tetap mempertahankan kelembutan di dalam.

Ketika digigit, lapisan luar yang renyah akan langsung berpadu dengan isian gula merah yang meleleh di mulut, memberikan kombinasi tekstur dan rasa yang luar biasa.

Selain varian original dengan isian gula merah, kini Nopia juga telah mengalami banyak inovasi, dengan isian seperti cokelat, kacang hijau, dan keju, namun bagi para pecinta cita rasa otentik, Nopia isi gula merah tetap menjadi primadona.

Kue Tradisional

Dalam budaya lokal, Nopia tidak hanya dimaknai sebagai camilan semata, melainkan juga sebagai simbol kebersamaan dan kenangan masa kecil. Banyak masyarakat Purbalingga yang tumbuh dengan kenangan manis tentang Nopia, biasanya dibeli dari pedagang keliling, pasar tradisional, atau toko oleh-oleh sepulang dari sekolah atau bepergian.

Kehadiran Nopia dalam berbagai acara keluarga seperti arisan, kenduri, atau bahkan lebaran pun telah menjadi tradisi yang mempererat ikatan sosial. Bahkan dalam dunia pariwisata lokal, Nopia menjadi salah satu produk unggulan yang dipromosikan sebagai bagian dari kekayaan budaya Banyumas.

Pemerintah daerah dan UMKM setempat pun terus mendorong produksi Nopia secara masif, tanpa meninggalkan metode tradisional, demi menjaga orisinalitas dan keaslian cita rasa.

Meski kini dunia kuliner telah didominasi oleh makanan modern, Nopia tetap bertahan sebagai bukti bahwa makanan sederhana pun bisa menjadi ikon kuliner yang disegani, asalkan disertai nilai sejarah, keunikan rasa, dan semangat pelestarian budaya.

Nopia tidak hanya enak untuk dinikmati, tetapi juga sarat dengan nilai-nilai kultural yang mencerminkan kreativitas dan kearifan lokal masyarakat Purbalingga.

Oleh karena itu, penting bagi generasi muda untuk mengenal dan mencintai kue-kue tradisional seperti Nopia, agar keberadaannya tidak tergilas oleh zaman dan terus menjadi bagian dari identitas bangsa. Sebab dalam setiap gigitan Nopia, terdapat cerita tentang masa lalu, kehangatan keluarga, serta kelezatan yang tak lekang oleh waktu.

 

Penulis: Belvana Fasya Saad

Â