Sukses

Bermain Nini Thowong, Boneka Jelangkung Khas Pundong Bantul

Liputan6.com, Yogyakarta - Nini Thowong adalah salah satu permainan tradisional Jawa, khususnya daerah Kabupaten Bantul, Yogyakarta. Nini Thowong adalah permainan memanggil arwah layaknya jelangkung.

Penamaan Nini Thowong terdiri dari dua kata yaitu Nini dan Thowong. Nini adalah sebutan untuk anak perempuan di Jawa, sementara Thowong berarti muka yang putih.

Dikutip dari berbagai sumber, konon pada zaman dahulu dahulu ada seorang perempuan bermuka putih atau thowong yang kerap berbuat jahat. Ketika wanita ini sedang berbuat jahat, oleh tetangganya disihir menjadi roh halus dan kemudian dinamakan Nini Thowong.

Cerita lain mengatakan bahwa Nini Thowong berasal dari kama wurung, atau benih manusia yang tidak jadi. Kama wurung itu tidak dirawat sebagaimana mestinya.

Kuburannya tidak dijaga dan dirawat dengan baik, serta tidak pernah diberi sajen. Kama wurung akhirnya menjadi roh halus dan mengembara ke berbagai tempat keramat.

Roh halus ini kemudian bertempat pada boneka Nini Thowok, sehingga memiliki kekuatan gaib. Dalam permainannya, Nini Thowok berbentuk boneka yang terbuat dari siwur dan berpakaian perempuan.

Permainan Nini Thowong berbeda dari permainan biasanya, karena gerakan dari boneka Nini Thowong yang dipercaya dipengaruhi roh halus. Roh tersebut diusahakan masuk ke boneka oleh sang pawang atau dukun, mirip jelangkung.

 

Saksikan video pilihan berikut ini:

2 dari 2 halaman

Sajen dan Mantra

Sesuai tradisi Jawa, syarat sajen, bunga, dan kemenyan mewarnai permainan ini. Sang pawang dengan kemampuan supranaturalnya melalui mantra dan lantunan tembang para pengiring permainan ini merupakan daya tarik dari permainan boneka Nini Thowong.

Permainan ini lazimnya dimainkan oleh anak-anak perempuan, karena roh yang dipanggil juga perempuan. Bagian kaki Nini Thowong dipegangi empat orang, ujung selendang kiri dipegang satu orang, dan ujung selendang kanan dipengang satu orang lagi.

Permainan ini biasanya dilakukan di tempat yang angker atau wingit. Setelah semuanya siap, pawang atau dukun memanggil roh dengan cara membakar kemenyan, sambil membaca mantra-mantra tertentu.

Apabila Nini Thowong tersebut roboh dan terasa berat ketika diangkat untuk didudukkan di atas tampah, maka berarti sudah ada roh yang memasuki boneka Nini Thowong. Nini Thowong lalu diarak menuju halaman yang telah dipersiapkan lengkap dengan sajen.

Arak-arakan tersebut dilakukan oleh para gadis sambil menyanyikan Lagu Boyong. Lagu gaya Yogyakarta tersebut dinyanyikan berkali-kali, sehingga Nini Thowong pun ikut menari.

Setelah sampai di area permainan, Nini Thowong disambut dengan Lagu Bageya. Lagu ini dinyanyikan sebanyak enam kali, kemudian dilanjutkan dengan lagu Ilir-ilir, lagu berpantun, parikan, dan lainnya sampai selesai.

Ketika permainan sudah selesai, pawang akan menyuruh roh yang memasuki Nini Thowong pulang ke tempat asalnya.