Sukses

Kulik Lokasi Asli Film KKN di Desa Penari, Rowo Bayu Banyuwangi Bikin Erick Thohir Penasaran

Liputan6.com, Jakarta - Film KKN di Desa Penari didapuk menjadi film horor Indonesia terlaris. Hingga akhir pekan kemarin, film tersebut sudah mendapatkan 6 juta penonton, dan siap menggulingkan film Dilan 1990 dan dari Warkop DKI Reborn Jangkrik Boss! Part 1 sebagai film terlaris sepanjang sejarah.

Sebenarnya apa yang membuat film KKN di Desa Penari berhasil merangkul banyak penonton? Banyak penonton menyebut, ketertarikan mereka karena kisah dalam film tersebut diangkat dari kisah nyata alias true story. Bahkan penonton banyak yang menebak-nebak di mana lokasi desa penari itu sebenarnya usai menonton film tersebut. 

Di tengah-tengah para penonton yang sedang penasaran, Menteri BUMN Erick Thohir lalu mengunggah tayangan di IGTV akun Instagramnya, @erickthohir, Selasa (17/5/2022).

Dalam tayangan tersebut Erick Thohir berbincang langsung dengan seseorang yang mengaku sebagai pengelola dan penjaga kawasan wisata religi Rowo Bayu di Dusun Kentangan, Desa Bayu, Kecamatan Songgon, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, bernama Sudirman.

Kepada Erick Thohir, Sudirman menegaskan kisah dalam film tersebut memang benar-benar kisah nyata, yang terjadi di hutan dekat wisata Rowo Bayu. 

"KKN di Desa Penari berangkat dari tahun 2008. Ada enam mahasiswa dari Surabaya," katanya.

 

 

 

* Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

2 dari 2 halaman

Erick Thohir Penasaran

Cerita itu bermula saat dua mahasiswa yang terlibat kisah asmara menjejalah kawasan utara situs Rowo Bayu. Di tengah hutan belantara, sejoli muda itu bertemu seseorang dan diajak mampir ke rumahnya. Di sana, dua mahasiswa dari sebuah perguruan tinggi di Kota Surabaya itu dijamu berbagai makanan. 

Saat sudah sore, keduanya berpamitan kepada empunya rumah untuk kembali ke situs wisata religi Rowo Bayu di mana keempat temannya berada. Sang empunya rumah memberikan sebuah bingkisan kepada kedua mahasiswa tersebut. 

Sesampainya di Rowo Bayu, kedua mahasiswa tersebut menceritakan pengalamannya berkunjung ke Desa Penari. Namun, keempat temannya tidak percaya begitu saja. 

"Ini saya diberi oleh-oleh, ayo dibuka. Saat dibuka bukan lagi bungkus koran tapi daun talas. Saat dibuka isinya ternyata kepala kera, baru dipotong," tutur Sudirman. 

Sesaat setelah membuka bingkisan dari seseorang dari Desa Penari, mahasiswa laki-laki yang pernah berkunjung ke sana langsung pingsan. 

"Beberapa hari kemudian meninggal. Lalu, yang ceweknya menyusul meninggal sebulan kemudian. Itu cerita sesungguhnya versi Kepala Desa," menurut pengakuan Sudirman.

Mendengar cerita itu rasa penasaran Erick Thohir makin membuncah. Dirinya bahkan berjanji akan melihat langsung lokasi desa yang disebut-sebut oleh Sudirman itu. Erick mengatakan dirinya sudah dua kali ke Banyuwangi, dan yang ketiga dirinya akan mengunjungi langsung desa tersebut.

"Tapi ke Desa Penari siang-siang aja," kata Erick.