Liputan6.com, Jakarta - Cara bersih-bersih yang harus ditinggalkan menjadi topik yang semakin banyak dibahas seiring berkembangnya produk dan teknik membersihkan rumah. Kebiasaan yang dulu dianggap ampuh ternyata kini diketahui kurang efektif, bahkan beberapa di antaranya justru dapat merusak permukaan atau mengurangi hasil pembersihan.
Banyak orang masih menerapkan cara lama karena sudah menjadi kebiasaan turun-temurun. Padahal, berbagai penelitian serta pengalaman para profesional kebersihan menunjukkan bahwa metode modern mampu memberikan hasil yang lebih maksimal dengan usaha yang lebih efisien.
Merujuk pada berbagai ulasan dari The Spruce dan pendapat para ahli kebersihan profesional, berikut sejumlah kebiasaan membersihkan rumah yang sebaiknya mulai ditinggalkan beserta alternatif yang lebih efektif. Berikut ulasan Liputan6.com, Kamis (2/7/2026).
Advertisement
1. Langsung Mengelap Cairan Disinfektan Setelah Disemprotkan
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4771297/original/057875400_1710328252-pexels-cottonbro-studio-4108712.jpg)
Banyak orang terbiasa menyemprotkan cairan disinfektan ke meja, gagang pintu, atau permukaan dapur, lalu langsung mengelapnya beberapa detik kemudian. Kebiasaan ini ternyata membuat disinfektan tidak bekerja secara optimal.
Disinfektan membutuhkan waktu kontak (contact time) agar kandungan aktifnya mampu menghancurkan bakteri, virus, maupun mikroorganisme lain yang menempel pada permukaan. Jika langsung dilap, cairan tersebut belum sempat menjalankan fungsinya secara maksimal.
Cara yang lebih tepat adalah membaca petunjuk penggunaan pada kemasan produk. Umumnya, disinfektan perlu didiamkan selama beberapa menit sebelum dilap atau dibiarkan mengering sendiri sesuai instruksi produsen.
Meluangkan sedikit waktu tambahan justru membuat proses pembersihan menjadi jauh lebih efektif dibanding terburu-buru.
Advertisement
2. Menggunakan Deterjen Terlalu Banyak Saat Mencuci Pakaian
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5111737/original/089347500_1738057912-pexels-rdne-5591581.jpg)
Salah satu cara bersih-bersih yang harus ditinggalkan adalah menuangkan deterjen dalam jumlah berlebihan ke mesin cuci. Banyak orang mengira semakin banyak deterjen, pakaian akan semakin bersih.
Faktanya, deterjen modern memiliki formula yang jauh lebih pekat dibanding beberapa tahun lalu. Penggunaan berlebihan justru dapat meninggalkan residu pada pakaian, membuat kain terasa kaku, bahkan memicu penumpukan busa di dalam mesin cuci.
Selain itu, sisa deterjen yang tidak terbilas sempurna dapat menjadi tempat menempelnya debu dan kotoran sehingga pakaian justru lebih cepat kusam.
Sebaiknya ikuti takaran yang dianjurkan pada kemasan produk. Dalam banyak kasus, jumlah deterjen yang lebih sedikit sudah cukup untuk membersihkan cucian secara optimal.
3. Selalu Menggunakan Pelembut Pakaian untuk Handuk
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4763573/original/027361000_1709703753-pexels-sang-bum-ko-10156021.jpg)
Pelembut pakaian memang membuat pakaian terasa harum. Namun, produk ini tidak selalu cocok digunakan pada handuk.
Pelembut mengandung bahan yang dapat meninggalkan lapisan tipis pada serat kain. Lama-kelamaan lapisan tersebut mengurangi kemampuan handuk dalam menyerap air sehingga handuk terasa licin tetapi kurang efektif saat digunakan mengeringkan tubuh.
Jika dilakukan terus-menerus, kualitas handuk juga bisa menurun karena seratnya tertutup residu pelembut.
Sebagai alternatif, cukup gunakan deterjen saat mencuci handuk. Jika ingin hasil yang lebih lembut, Anda dapat menggunakan bola pengering (dryer balls) ketika proses pengeringan agar serat kain tetap mengembang secara alami.
Advertisement
4. Membersihkan Rumah Menggunakan Tisu Dapur Sekali Pakai
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5341634/original/070748000_1757318558-a.jpg)
Tisu dapur atau paper towel sering dianggap sebagai alat pembersih praktis. Padahal, penggunaannya sebagai alat utama untuk membersihkan rumah memiliki banyak kekurangan.
Tisu mudah sobek ketika digunakan pada permukaan yang basah atau kasar. Selain itu, tisu juga cenderung hanya menggeser kotoran tanpa benar-benar mengangkatnya secara menyeluruh. Pada beberapa permukaan seperti kaca, tisu bahkan dapat meninggalkan serat halus yang mengganggu hasil akhir.
Dari sisi lingkungan, penggunaan tisu sekali pakai juga menghasilkan limbah yang terus bertambah.
Sebagai penggantinya, kain mikrofiber menjadi pilihan yang jauh lebih baik. Serat mikrofiber mampu menangkap debu, minyak, dan bakteri dengan lebih efektif serta dapat dicuci dan digunakan berulang kali sehingga lebih hemat dan ramah lingkungan.
5. Menggunakan Kemoceng Bulu untuk Menghilangkan Debu
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8993112/original/054548700_1782991112-kemoceng.jpeg)
Kemoceng bulu identik dengan kegiatan membersihkan rumah sejak dulu. Namun, alat ini sebenarnya tidak benar-benar mengangkat debu.
Saat digunakan, kemoceng hanya membuat debu beterbangan ke udara sebelum akhirnya kembali menempel pada furnitur atau lantai. Akibatnya, rumah tampak bersih sesaat, tetapi debu tidak benar-benar hilang.
Selain itu, debu yang beterbangan juga dapat mengganggu kualitas udara di dalam rumah, terutama bagi penderita alergi atau gangguan pernapasan.
Alternatif terbaik adalah menggunakan kain mikrofiber yang sedikit dibasahi. Cara ini memungkinkan debu menempel pada kain sehingga tidak kembali beterbangan ke udara. Hasilnya pun lebih bersih tanpa meninggalkan bekas goresan atau noda.
Advertisement
6. Terlalu Sering Membersihkan Nat Keramik dengan Pemutih Klorin
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5492602/original/060423200_1770179372-6806564e-16f2-416f-be49-23e42fdead48.png)
Nat keramik sering menjadi bagian rumah yang paling sulit dibersihkan karena mudah berubah warna akibat jamur, sabun, dan kotoran.
Banyak orang menggunakan pemutih berbahan klorin untuk mengatasi masalah ini. Padahal, penggunaan berulang dalam jangka panjang dapat merusak struktur nat sehingga menjadi rapuh, retak, bahkan mudah terkelupas.
Alih-alih memakai pemutih klorin secara rutin, gunakan pemutih berbasis oksigen atau pasta yang dibuat dari campuran baking soda dan hidrogen peroksida. Kombinasi ini mampu membantu mengangkat noda tanpa mempercepat kerusakan nat.
Untuk hasil yang lebih maksimal, Anda juga dapat membersihkan nat menggunakan uap panas (steam cleaner) sebelum menyikatnya.
Mengapa Kebiasaan Lama Perlu Diubah?
Perkembangan teknologi membuat produk pembersih rumah mengalami banyak peningkatan. Formula deterjen menjadi lebih pekat, kain mikrofiber semakin efektif mengangkat debu, sementara berbagai produk ramah lingkungan mulai menggantikan bahan kimia yang lebih keras.
Mengubah kebiasaan bukan berarti cara lama sepenuhnya salah. Namun, ketika tersedia metode yang lebih aman, hemat, dan memberikan hasil lebih baik, tentu tidak ada salahnya mulai beradaptasi.
Selain menjaga kebersihan rumah, perubahan kebiasaan ini juga membantu memperpanjang umur furnitur, peralatan rumah tangga, tekstil, hingga lapisan keramik di rumah Anda.
Tanya Jawab Seputar Cara Bersih-Bersih
1. Mengapa disinfektan tidak boleh langsung dilap?
Karena disinfektan memerlukan waktu kontak agar bahan aktifnya dapat membunuh mikroorganisme secara optimal.
2. Apakah semakin banyak deterjen membuat pakaian semakin bersih?
Tidak. Deterjen yang berlebihan justru dapat meninggalkan residu pada pakaian dan mesin cuci.
3. Mengapa handuk sebaiknya tidak dicuci menggunakan pelembut pakaian?
Pelembut dapat melapisi serat handuk sehingga daya serap airnya berkurang.
4. Apa kelebihan kain mikrofiber dibanding tisu dapur?
Kain mikrofiber lebih efektif menangkap debu dan bakteri, dapat dicuci berulang kali, lebih hemat, serta lebih ramah lingkungan.
5. Apa bahan yang lebih aman untuk membersihkan nat keramik?
Pemutih berbasis oksigen atau campuran baking soda dan hidrogen peroksida lebih disarankan dibanding pemutih klorin karena tidak mudah merusak nat.
Â
Â
Baca informasi kesehatan terbaru di Kesehatan Liputan6
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8336960/original/043977000_1782207955-cek_fakta_-_bibit_Ikan_lele.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8968722/original/090452400_1782980277-cek_fakta_-_tenaga_pendamping_masyarakat.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5562012/original/067915900_1776772441-Cek_fakta_Anies_baswedan.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8810983/original/080616100_1782907341-cek_fakta_-_bibit_ayam_dan_ikan.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5233919/original/034537900_1748328617-pexels-cottonbro-4108715.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8256534/original/027399300_1781161052-Vertical_500x656_-_Pentas_Bola_Dunia_2026__3_.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8264149/original/054877000_1782096496-063_2282689905-Timnas_Mesir.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8929510/original/065051700_1782959692-bos7.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8776148/original/089087200_1782856721-France_s_Kylian_Mbappe__left__celebrates_with_his_teammate_ousmane_dembele.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8776140/original/038104800_1782846348-063_2284057834.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8711662/original/096717100_1782792792-korsel_3.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8864051/original/078185200_1782929110-063_2284211401.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8933715/original/054098500_1782962062-AP26183008148565.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8920532/original/092816500_1782954338-AP26183030266108.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8262489/original/072589900_1781818934-Switzerland_s_Johan_Manzambi.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8888290/original/030850900_1782938816-Senegal_s_Habib_Diarra__21__scores_their_first_goal_against_Belgium_goalkeeper_Thibaut_Courtois.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8898171/original/047299800_1782942914-Belgium_s_Romelu_Lukaku_senegal.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8933469/original/013533700_1782961901-CCdiLxJC5L2YONxKcuU663zeuurnAvYyE7DoTlEs.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8933425/original/073096400_1782961884-oNHV3hg0cgVFmVlAF5kQyDKXzhrpBxKLColrJzeJ.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8978961/original/083750200_1782985233-cover_galon.jpeg)