Sukses

Suara Misterius Rintihan Minta Tolong Terdengar dari Lubang Buaya Yogyakarta

Liputan6.com, Yogyakarta - Kisah mistis lubang buaya yang menjadi saksi bisu gugurnya Brigjen (anumerta) Katamso Darmokusumo dan Kolonel (anumerta) Sugiyono beredar di kalangan masyarakat.

Dikutip dari akun Youtube Tv Amatir01, kejadian seram ini terekam saat upacara peringatan Hari Kesaktian Pancasila beberapa waktu yang lalu.

Terlihat sebuah lubang berbentuk persegi panjang dengan kedalaman 70 sentimeter itu terletak di bawah bangunan berarsitektur Jawa. Tepatnya di kompleks Museum Monumen Pahlawan Pancasila di Kentungan, Sleman, Yogyakarta.

Semula tidak ada yang hal janggal, prosesi upacara tengah berlangsung dengan khidmat. Namun, saat kamera sedang merekam suasana dan kondisi lubang buaya tersebut, terdengar suara-suara yang menyeramkan.

Terdengar suara misterius meminta pertolongan dan menangis dengan pilu pada menit 2:12, bahkan suara-suara tersebut terekam dengan jelas. Suara mistis tersebut berhasil membuat tempat yang menyimpan kisah tragis ini pun diselimuti suasana angker yang sangat terasa.

Kejadian mistis yang berhasil diabadikan ini tentu berhasil membuat bulu kuduk merinding. Video suara tangisan menyeramkan dari lubang buaya ini sudah ditonton lebih dari tiga juta kali oleh warganet.

Beragam komentar warganet mengaku ikut merinding saat menonton video yang viral ini. Terlebih sejarah dua pahlawan nasional dibantai dan meregang nyawa di tempat ini dengan cara yang sadis.

Lokasi lubang buaya ini dulunya disebut dengan Batalyon L. Tragedi kekejaman pada 30 September 1965 itu bermula dari diculiknya Brigjen Katamso dari kediamannya, kemudian disiksa.

Kejadian tersebut juga dialami oleh Kolonel Sugiyono. Konon, Kolonel Sugiyono disiksa menggunakan mortir dan akhirnya dimasukkan ke dalam lubang buaya ini, bersamaan dengan Brigjen Katamso yang sebelumnya sudah lebih dahulu berada di lubang tersebut. Kedua kaki mereka bertemu di tengah dan kepala menghadap ke timur dan barat.

Untuk menghilangkan jejak, lubang tersebut ditutup menggunakan tanah. Di atasnya ditanami ubi jalar dan pohon pisang untuk mengelabui orang-orang.

Saat ini, mortir dan batu yang digunakan untuk menyiksa kedua pahlawan tersebut masih tersimpan utuh di museum.

 

Penulis: Tifani

Saksikan video pilihan berikut ini: